Wajah Sehan adalah peran eksistensial yang dia mainkan
dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebetapapun peran itu masih bersifat
potensial dalam arti belum dapat sepenuhnya dia lakoni. Wajah Sehan dalam
bingkai dan maksud tulisan ini adalah juga tema bagi pembicaraan tentang Sehan
dalam amatan penulis. Tema yang daya tariknya terdapat dalam keterbukaannya
untuk dieksplorasi demi lahirnya pengertian yang mendalam, bukan hanya tentang
Sehan tapi juga tentang kaitan antara seorang manusia sebagai individu dengan
peran (dalam wajah-wajah) yang telah, sedang dan akan dia lakoni.
Secara psikologis, wajah dan perannya adalah juga
kepribadian; personae sebagai topeng.
Ini berarti juga berbicara tentang sebuah lubuk dalam jiwa (karakter mental)
seorang individu. Sehan adalah subyek sebagai aktor di atas panggung tulisan
ini. Lepas dari berbagai proses eksistensialnya sebagai individu, sang aktor
adalah juga cermin dari setiap individu lainnya. Dengan berbagai model
representasi, wajah dapat mewakili satu titik kecil dari universalitas manusia
dan, utamanya, gairah kita pada perbincangan tentang manusia.
Terakhir namun tak kurang penting, keempat wajah Sehan
adalah bagian representatif dari apa yang disebut keunikan individual.
Ejawantah pembuktian dari kebenaran memahami manusia sebagai yang pada awal dan
akhirnya adalah individu dengan segala keunikannya. Ketika kita mencoba
memahami seseorang dalam wajah-wajah yang dia perankan, kita akan menemukan
sebuah persona dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tulisan ini memuat
kedua sisi lebih dan kurang tersebut dalam dua bagian tulisan: Bagian pertama, Empat Wajah Sehan yang terdiri dari
empat tulisan dan bagian kedua Empat
Kekurangan Wajah Sehan yang juga terdiri dari empat tulisan yang akan
dimuat pada kali berikutnya.
Wajah Pertama: Seorang
Politisi
Sebagai politisi, Sehan memiliki lebih dari kemampuan untuk
mengukur diri terhadap batas ontologis politik. Sehan adalah figur politisi
yang cair dalam kemampuannya merembesi batas terluar politik. Manakala
kebanyakan politisi Bolaang Mongondow dan kemudian Gorontalo serta Sulawesi
Utara (tiga wilayah utama Sehan) berupaya untuk berdiam dalam batas kaku
politik, Sehan menerjemahkan langkah politiknya dalam wacana yang begitu cair
yang, karenanya, selalu keluar dari batas analisa politik.
Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei1908
oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini
merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari
primordialisme Jawa yang ditampilkannya.
Pada konggres yang pertama di Yogyakarta,
tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang
selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran,
pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.
Dalam 5 tahun permulaan Budi Oetomo sebagai perkumpulan, tempat
keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian
terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena
itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang
dengan lk.10.000 anggota.
Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat, awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). Kemudian menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli', Ginolantungan sampai ke pedalaman tudu in Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia', tudu in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9. Nama Bolaang berasal dari kata "bolango" atau "balangon" yang berarti laut. Bolaang atau golaang dapat pula berarti menjadi terang atau terbuka dan tidak gelap, sedangkan Mongondow dari kata ‘momondow’ yang berarti berseru tanda kemenangan. Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu. Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.
Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan.[1]
Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari
tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh
dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata
membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan.
TRIBUNMANADO.CO.ID, BOLTIM-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) rencananya 2013 ini akan memberangkatkan Uyo Anu ke Bali.
Tak
tanggung tanggung peraih putra-putri Boltim 2010-2012 akan
diberangkatkan. Hal ini memang sudah menjadi hak mereka sebagai hadiah
ketika mengikuti ajang Uyo Anu tersebut. Selama ini memang pemkab
kesulitan dan sehingga todak segera memberikan hak para pemenang.
Namun
Sekretaris Daerah (Sekda) Boltim, Muhammad Assagaf beberapa waktu lalu
menyebutkan tahun ini masalah tersebut akan tuntas. Menurutnya, janji
pemerintah agar memberangkatkan pemenang ajang tersebut 3 tahun terakhir
ke Bali belum terwujud karena alasan dana. "Mudah-mudahan tahun depan
(2013) mereka kita berangkatkan ke Bali, semua," tuturnya.
Uyo-Anu Boltim Kembali Dipertanyakan Kontribusinya
Untuk kesekian kalinya duta pariwisata Boltim (Uyo-Anu) disinggung mengenai kontribusinya.Berikut saya sajikan kutipan berita dari harian Tribun Manado, Rabu 2 Januari 2013.
Kontribusi Uyo Anu Dipertanyakan Warga Boltim
TRIBUNMANADO.CO.ID, BOLTIM -
Kontribusi Uyo Anu terhadap pariwisata dipertanyakan warga Bolaang
Mongondow Timur (Boltim). Warga Kotabunan, Pusran mempertanyakan
kontribusi putra putri Boltim atau dikenal Yayu Uno terhadap parawisata
daerahnya. "Apa kontribusi mereka terhadap pariwisata daerah ini. Saya
tidak melihat itu selama 3 tahun pemilihan ini," kata Pusran, pada
Selasa (1/1)
Pasalnya dalam proses pemilihannya menurut Pusran
kegiatan tersebut telah menghabiskan uang daerah hingga ratusan juta
rupiah dari anggaran pendapatan belanja Daerah namun tak satupun
terlihat hasil dari even tersebut. "Kemana mereka. Saat saat ada acara
daerah pun jarang terlihat. Misalkan saja Hari Ulang Tahun (HUT)
Kabupatan mereka tidak ada. Harusnya mereka selalu hadir dalam acara
seremonial daerah, sebagai penerima tamu. Bagamana mereka bisa
mempromosikan daerah ini," kata Pusran.
Hal ini tidak seperti
dilihatnya di daerah lain dimana keberadaan putra putri daerahnya jelas
terlihat dan berkontribusi bagi daerahnya. Pusran mengatakan jika tidak
jelas kontribusinya. Acara yang digelar oleh dinas pariwisata dan
kebudayaan ini tidak perlu dilaksanakan lagi. "Sebaiknya hentikan saja
pemilihan Uyo Anu ini hanya menghabiskan uang rakyat," tegasnya.
Pusran
mengatakan seharusnya dana bukan alasan tidak melakukan promosi
terhadap pariwisata daerah ini. Sehingga menurutnya yang harus
bertanggungjawab adalah dinas pariwisata dan Budaya. "Harusnya sebelum
digelar kegiatan telah dikaji dengan matang dahulu. Mereka itu icon
daerah. Terpilih dari puluhan peserta lainnya. Masak tidak ada
kontribusi apa-apa bagi daerah ini padahal ratusan juta sudah melayang,"
katanya. (ald).
Ada argumen yang menyatakan bahwa boltim itu kabupaten yang suka copy paste.
menangapi pendapat tersebut seorang teman saya yang kebetulan berasal dari
boltim mengatakan bahwa pendapat orang2 tersebut sah-sah saja dan mungkin bukan
bermaksud untuk menghina boltim. menurutnya wajar bila boltim dikatakan sebagai
kabupaten yang suka copas, logikanya seorang bayi yang baru lahir pastilah
senantiasa mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya, melakukan copy paste
untuk menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya rasanya bukan hal yang salah
bukan.
namun yang jadi permasalahan menurut kawan saya tadi, Boltim justru sering
mengikuti program2 pemerintah kabupaten lain yang justru kurang manfaatnya
untuk boltim dan tidak memunculkan ciri khas boltim, seperti yang selalu
dikatakan oleh pak bupati tentang karakter kabupaten boltim. bukan bualan
semata faktanya bisa sejanak kita kembalikan memori kita pada tanggal 3 mei
2011, dimana dihari itu pemerintah boltim membuat suatu program pembakaran
nasijaha. program yang katanya terukuir di Musium Rekor Indonesia.
menurut data yang ada ternyata program seperti itu sudah pernah dilakukan
didaerah minahasa, entah apa alasan dari pemerintah boltim melakukan hal yang sama.
mungkin pemerintah boltim kurang kreatif atau bodoh? mengapa kami mengatakan
demikian?jelas saja pertama, program itu sudah pernah dilakukan di
kabupaten lain. Kedua, nasijaha bukanlah makanan khas boltim. mengapa
pemerintah tidak berpikir untuk mencari sesuatu yang berciri khas kan boltim
dalam upaya pemecahan rekor MURI?. Ketiga, kalau memang bernafsu untuk
mencantumkan boltim dalam catatan rekor muri, apakah harus dengan program
pembakaran nasijaha?lupakah kita bahwa boltim hari itu menjadi daerah penuh
asap?apakah pemerintah boltim lupa dengan apa yang mengancap bumi kita saat
ini?lebih baik ditadak menyumbangkan hal positif untuk bumi dari pada sedikit
negatif untuk menghancurkanya.
sayangny program2 yang tidak banyak bermanfaat seperti itu pernah
sempat terealisasi di Boltim.
sekadar trend kepemimpinan ala jokowi yang suka
maelakukan 'Blusukan' yang justru banyak bermanfaat bagi proses kepemimpianan
seseorang, yang akhir2 ini sering ditiru oleh presiden SBY, tidak dicoba untuk dicopy
paste dan dipraktek oleh pemerintah boltim. belum terpikir atau malas
melakukannya, hanya dua kemungkianan itu.karena berharap lebih kreatif dari
tren blusukan rasanya mustahil bagi pemerintah boltim.
Uyo-Anu Boltim kini sedang menjadi sorotan masyarakat.
Menurut bebrapa informasi banyak dari pada masyarakat yang berpendapat bahwa
pemilihan Uyo-Anu Boltim hanyalah menghambur-hamburkan uang daerah saja, karena
sejauh ini tidak ada pergerakan maupun inofasi-inofasi baru yang dilakukan oleh
para duta daerah ini untuk memberi warna positif terhadap pembangunan dan perkembangan
kabupaten Bolaang Mongondow Timur khususnya dalam bidang pariwisata.
Namun sayangnya opini ini berkembang dimasyarakat tanpa ada
pembanding, selama ini masyarakat hanya berpikir bahwa kesalahan ini
diakibatkan dari para duta daerah ini sendiri, tidak sempatkah terlintas tanya
dibenak pembaca sekalian tentang ‘apakah mungkin akar permasalahan ini bukan
hanya dari para duta daerah ini melainkan juga dari manajemen mereka dalam hal
ini dinas Pariwisata Boltim?’. Apa mungkin kemampuan masyarakat Boltim untuk
melihat setitik cahaya kebenaran dalam masalah ini ikut padam sejalan dengan
makin hematnya kabupaten Bolaang Mongondow Timur dalam hal penggunaan listrik?
Semoga saja bukan itu jawabanya.
Mengetahui masalah ini rasanya kurang peka bila saya tidak memberi seberkas pelita agar dapat di
jadikan penuntun bagi masyarakat untuk nantinya
dapat menilai maupun mengakaji mengapa Uyo-Anu Boltim 2001 seolah mati,
serta mampu menemukan jawaban tentang dimanakah letak kesalahan dari sikap diam
Uyo-Anu Boltim 2011 selama ini.
Masuk lebih dalam lagi dalam masalah ini, kami dari pihak Uyo-Anu hakekatnya bukan tidak
mau menjalankan tugas kami selaku duta Boltim khususnya dalam bidang pariwista,
namun bagaimana mungkin kami mampu menjalankan tugas serta memberikan yang
terbaik untuk daerah ini sedangkan pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan
dan Pariwisata sering tidak memperdulikan. Bahkan mungkin agar lebih menambah
nilai estetikanya kami mungkin bisa disebut “Duta Nafkah Aparat Pemerintah”.
Mengapa saya berkata demikian, karena memang begitulah kami diperlakukan oleh
manajemen kami. Salah satu pengalaman terburuk menjadi duta daerah ini waktu
kami mendapat undangan pemilihan Boba-Bagi Bolsel. Pada mulanya pihak manajemen
melalui kabid pariwisata menyatakan bahwa pihak dinas tidak akan memfasilitasi
kami bila ingin menhadiri acara tersebut, setelah dikonfirmasi ternyata ada
kesalahan dalam penulisan undangan yang oleh pihak dinas perhubungan dan
pariwisata Bolsel ditujukan langsung kepada Uyo-Anu, sedangkan menurut kabid
pariwisata Boltim undangan tersebut haruslah di alamatkan ke dinas perhubungan
dan pariwisata bukan langsung ke Uyo-Anu. Setelah menghadap kepada bapak Bupati
Boltim, akhirnya pihak dinas mau memfasilitasi dan kabid pariwisata bersedia
untuk bersama-sama ke Bolsel. Namun sayang dalam rangka membawa nama baik dan
eksistensi Boltim sejak kamis siang kami berangkat dari Boltim dan jumat pukul 13.00 kembali lagi ke
kabupaten yang sama, kami tidak diberi makanan dari manajemen kami. Meski
memang kami diberi uang saku yang
mungkin sangat besar jumlahnya menurut pihak manajemen yaitu Rp. 25.000/orang
dan uang itu pun diberikan ketika sudah dalam perjalanan pulang.
Dan untuk tetap menjaga eksistensi Boltim, kamipun tetap
mengirim utusan-utusan dari Uyo-Anu untuk menhadiri undangan dari seluruh
kabupaten/kota yang ada di Sulut, meskipun perjalanan tugas itu harus
dijalankan dengan mengunakan uang pribadi
dari setiap utusan, padahal tidak pernah ada gaji khusus bagi kami. Sepanjang saya mengerti yang saya tahu
kabupaten inilah yang harus memberi kami
fasilitas dan tentunya dana tersendiri
untuk kami melaksanakan tugas sebagai duta daerah, bukan sebaliknya justru
kami sekumpulan anak mudah yang harus bekerja mencari uang agar tetap dapat
menjaga dan terus menghidupkan nama baik dari kabupaten Botim ini.
Tidak sampai disitu, kami yang seharusnya menjadi wakil
Boltim dalam ajang pemilihan Nyong-Noni Sulut
tak mampu mengirimkan 1 utusan pun karena tidak mempunyai dana yang
cukup dari pribadi masing-masing, karena seperti halnya dalam menghadiri
undangan dari daerah lain dimana kami harus menggunakan dana pribadi rupanya dinas juga bermaksud demikian dalam
hal utusan/wakil Boltim ke pemilihan Nyong-Noni Sulut. Itu terbukti dari tidak
ada perhatian dari pihak manajemen kami untuk bagaimana agar Boltim dapat
mengirimkan utusan keajang yang mampu menambah wawasan dan pengalaman dari kami
serta mungkin lewat ajang ini kami bisa memberikan sesuatu yang mampu
mengangkat rating dari kabupaten ini. Namun kenapa pihak dinas pariwisata
justru seperti acuh tak acuh terhadap masalah ini? Apa benar para pemimpin dari
dinas pariwisata Boltim tidak ingin kabupaten ini mengukir prestasi di tingkat
provinsi?dan apa benar sebagian besar pejabat di Kabupaten ini dalam bekerja
hanya memikirkan bagaimana kemajuan dalam kesejahteraan hidupnya 1-5 tahun
mendatang, dan tidak memikirkan tentang bagaimana dan akan sejauh mana
Kabupaten ini mampu melangkah mengapai prestasi dan kesejahteraan dalam segala
bidang.
Setelah ajang pemlihan Nyong-Noni berlalu dan hanya
Boltimlah yang tidak mengirimkan utusannya, hal ini bila mampu kita artikan
merupakan 1 nilai yang bersifat negatif dari Gubernur Sulut kepada Bupati Boltim. Lalu
apakah sang pemimpin kabupaten ini hanya akan tetap diam saja? Saya berharap
bukan ‘ya’ jawabannya.
Merasa heran dengan ‘kematian ‘ para duta daerah ini karena
tak satupun yang mewakili Boltim di
pemilihan Nyong-Noni,seseorang yang berprofesi sebagai seorang guru dan
kebetulan beliau yang mengurus duta daerah ini (Uyo-Anu 2010) dalam pemilihan Nyong-Noni
2010. Beliau mencoba menanyakan tentang mengapa tidak ada utusan dari Boltim
pada pemilihan 2011? Yang berarti kemunduran bagi bidang pariwisata, menangapi
pertanyaan itu kabid pariwisata memberikan jawaban palsu sekaligus memfitnah
kami (Uyo-Anu 2011) karena menurut jawaban kabid pariwisata justru kami lah
yang tidak mau menjadi wakil Boltim dalam pemilihan Nyong-Noni 2011 padahal
kami sudah diberikan uang sebesar Rp. 2.000.000.
Melalui tulisan ini saya ingin mengkonfirmasi berita
pemberian sejumlah uang kepada kami yang sempat beredar luas dimasyarakat itu
sama sekali tidak benar, kami tidak pernah menerima uang dari pihak dinas
Pariwisata Boltim. Lewat tulisan ini pula saya menggambarkan jawaban dari sikap
‘diam’ kami Uyo-Anu 2011 selama ini. Tentunya pembaca sekalian mampu menarik satu
kesimpulan dimana letak kesalahan ini,apakah semata-mata haya dari kami Uyo-Anu
atau mungkinkah pihak manajemen kami
dalam hal ini dinas Pariwisatalah yang justru menjadi dalang permasalahan ini.
Sekadar
kembali mengingatkan kepada pimpinan tertinggi di kabupaten Boltim tentang masalah ini.
Karena
setelah diketahuinya masalah ini, mungkin masih banyak masalah yang jauh lebih
penting sehingga seolah masalah ini tidak diperhatikan. Semoga kesibukan pimpinan
kita tidak terlalu banyak menyita waktu Beliau, sehingga kira mampu sedikit meluangkan waktu untuk membahas
masalah ini. karena masalah ini bukan hanya tentang eksistensi Uyo-Anu Boltim
2011, namun juga eksistensi Boltim ditingkat provinsi dan tentunya nama baik
bapak Bupati kita, baik ditingkatan kabupaten ini sendiri maupun ditingkat
provinsi.
Ketika tidak ada yang mau memperhatikan kami (Uyo-Anu 2011)
selain orang tua kami masing-masing, ketika banyak yang ingin bersuara tapi
takut, ketika tidak sedikit kejujuran yang ingin disampaikan kepada pemimpin
kabupaten Boltim ini namun tak kuasanya lidah bergerak mengurai kata melukis
lisan, ketika diam menjadi lebih derita, aku pasrah dalam keterus terangan dan
menanti undangan indah darimu wahai sang pemimpin.