Rabu, 23 Januari 2013

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIDATO PERSUASI PADA SISWA KELAS XI PM2 SMK NEGERI 1 DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA MELALUI METODE TWENTY QUESTONS

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
oleh
Moh. Aris Prasetiyanto
06201241009
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SEPTEMBER 2011



PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama : Moh. Aris Prasetiyanto
NIM : 06201241009
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta
menyatakan bahwa karya ilmiah yang berjudul Peningkatan Keterampilan
Berpidato Persuasi pada Siswa Kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman,
Yogyakarta Melalui Metode Twenty Questions ini adalah hasil pekerjaan saya
sendiri. Sepanjang pengetahuan saya, karya ilmiah ini tidak berisi materi yang
ditulis orang lain, kecuali bagian-bagian tertentu yang saya ambil sebagai acuan
dengan mengikuti tata cara dan etika penulisan karya ilmiah yang lazim. Apabila
ternyata terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi tanggung
jawab saya.
Yogyakarta, 18 Agustus 2011
Penulis,
Moh. Aris Prasetiyanto
v
MOTO
�� Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu berusaha
untuk mengubah nasibnya sendiri (Ar- Ra’d:11)
�� Tindakan seseorang dapat mengubah pandangan dunia, apapun yang
terjadi kita harus memulainya, kerjakan!! (Mohammad Aris)
�� Action adalah segalanya, no action nothing happen, when you take action
miracle happen (Tung Desem Waringin)
PERSEMBAHAN
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah, karya ini saya persembahkan untuk
Bapak-Ibu saya (Niti Semito dan Siti Mahmudah), adik saya Alek Setyawan, diri
saya sendiri yang luar biasa, murid-murid saya serta adik-adik saya IMM UNY.
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt. yang
senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada saya sehingga skripsi
yang berjudul Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi pada Siswa Kelas
XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta Melalui Metode Twenty
Questions dapat saya selesaikan. Penulisan skripsi ini dapat saya selesaikan
karena adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan
terima kasih kepada Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta, dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS
UNY yang telah memberikan kesempatan dan berbagai kemudahan kepada saya.
Rasa hormat dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada kedua
pembimbing, yaitu Bapak Drs. Hartono, M.Hum. dan Ibu St. Nurbaya, M.Si,
M.Hum. yang penuh kesabaran dan kearifan telah memberikan bimbingan,
arahan, dan dorongan yang tidak henti-hentinya di sela-sela kesibukannya.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. Haryadi yang telah
meluangkan waktunya untuk memberikan nasehat dan ide-ide atas skripsi yang
saya buat. Berikut pula kepada Kepala SMK Negeri 1 Depok, Sleman,
Yogyakarta, Drs. Eka Setiadi yang telah memberikan izin penelitian, guru mata
pelajaran Bahasa Indonesia, Dra. Endang Sripurwanti yang telah bersedia bekerja
sama dalam proses penelitian ini.
Terimaksih kepada kedua orang tua, teman-teman IMM UNY,Chabibah,
David Kurniawan, Sunu Kastawa dan teman-teman Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia 2006 yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu serta orangorang
yang selalu mendoakan dan mendukung saya. Semoga segala bantuan dan
amal baik yang telah diberikan akan mendapatkan balasan dari Allah swt. Semoga
penelitian ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.
Yogyakarta, 23 Agustus 2011
Penulis
Moh. Aris Prasetiyanto
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………….......................... i
PERSETUJUAN ……………………………….……………………............ ii
PENGESAHAN……………………………………………………………… iii
PERNYATAAN …………………………………………………………….. iv
PERSEMBAHAN …………………………………………………………. v
KATA PENGANTAR ……………………………………………………… vi
DAFTAR ISI ………………………………………………………………... viii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………... xi
DAFTAR TABEL ………………………………………………………….. xii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………. xiv
ABSTRAK ………………………………………………………………….. xvi
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………… 1
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………… 1
B. Identifikasi Masalah …………………………………………….. 6
C. Batasan Masalah ……………………………………………. 7
D. Rumusan Masalah …………………………………………….. 7
E. Tujuan Penelitian ……………………………………………….. 7
F. Manfaat Penelitian ……………………………………………… 8
G. Batasan Istilah…………………………………………………… 9
BAB II KAJIAN TEORI …………………………………………………... 10
A. Kemampuan Berpidato……………………………………….... 10
B. Maksud dan Tujuan Berpidato…………………………………. 12
C. Jenis-jenis Pidato……………………………………………….. 15
D. Faktor-faktor Kefektifan Berpidato…………………………….. 16
E. Langkah-langkah Berpidato……………………………………. 16
F. Keterampilan Berpidato………………………………………… 17
G. Ciri-ciri Pidato Persuasi………………………………………… 18
H. Metode Twenty Questions………………………………………. 18
I. Penelitian yang Relevan………………………………………… 22
J. Kerangka Pikir…………………………………………………... 23
viii
K. Hipotesis Tindakan……………………………………………… 23
BAB III METODE PENELITIAN……………………………………..... 24
A. Jenis Penelitian………………………………………………….. 24
B. Setting Penelitian……………………………………………….. 28
C. Subjek dan Objek Penelitian……………………………………. 29
D. Sumber dan Jenis Data………………………………………….. 29
E. Teknik Pengumpulan Data……………………………………… 30
F. Instrumen Penelitian…………………………………………….. 30
G. Validitas dan Reliabilitas Data…………………………………. 39
H. Teknik Analisis Data……………………………………………. 41
I. Kriteria Keberhasilan Tindakan………………………………… 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………………….. 42
A. Hasil Penelitian ………………………………………................. 42
1. Deskripsi Deskripsi Awal Keterampilan
Berpidato Siswa ……………………………………. 42
2. Pelaksanaan Tindakan Kelas
dengan Metode Twenty Questions …………………………... 50
a. Hasil Penelitian Tindakan Kelas
Siklus I…………………................................................... 50
b. Hasil Penelitian Tindakan Kelas
Siklus II……………………………………………….. . 71
B. Pembahasan …………………………………………………….. 87
1. Deskripsi Awal Keterampilan
Berpidato Persuasi……………................................................ 87
2. Pelaksanaan Tindakan Kelas Melalui Metode-
Twenty Questions………………….. ………………............... 88
3. Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Melalui
Metode Twenty Questions…………… ……………….…….. 93
4. Keterbatasan Penelitian ……………………………………… 99
BAB V PENUTUP ………………………………………………………….. 100
A. Kesimpulan…………………………………………………………100
B. Rencana Tindak Lanjut……………………………………….. ... 101
C. Saran …………………………………………………………….. 101
ix
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 103
LAMPIRAN ………………………………………………………………… 105
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Model Penelitian Tindakan Kelas……………………………. 25
Gambar 2: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi-
Siswa dari Pratindakan ke Siklus I.……………………........ 60
Gambar 3: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato
Persuasi Siswa dari Siklus I ke Siklus II. …………………… 81
Gambar 4: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi-
Siswa dari Prasiklus -Siklus II ……………………………….. 82
Gambar 5: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa dari
Pratindakan ke Siklus II. …………………………………... 93
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Pedoman Penilaian Tes Kemampuan Berpidato Persuasi…. ... 31
Tabel 2: Deskripsi Penilaian Tes Keterampilan Berpidato Persuasi…… 34
Tabel 3: Pengamatan Permainan Kelompok …………………………... 35
Tabel 4: Skor Pretes Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa…………. 39
Tabel 5: Skor Rata-rata Kelas Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
pada Tahap Pretes.……………….......................................... 44
Tabel 6: Pengamatan Permainan Kelompok Siklus I ……………… 55
Tabel 7: Peningkatan Skor Keterampilan Berpidato Persuasi dari
Pratindakan ke Siklus I ………………………………….. 59
Tabel 8: Peningkatan Skor Rata-rata Kelas Keterampilan
Berpidato Persuasi
dari Pratindakan ke Siklus ……………………. ……. …… 61
Tabel 9: Pengamatan Permainan Kelompok Siklus II………………… 79
Tabel 10: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi dari Siklus II………. 72
Tabel 11: Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi –
Siswa dari Pratindakan-Siklus II…………………………… 82
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Jadwal Pelaksanaan Penelitian.............. ……………................ 105
Lampiran 2: Catatan Lapangan…………………….. ……………………… 106
Lampiran 3: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran…………………………. 128
Lampiran 4: Kisi-kisi Angket …………………………………………….. 139
Lampiran 5: Angket Pratindakan………………………….. ………………. 140
Lampiran 6: Angket Pascatindakan…………………………………... …… 141
Lampiran 7: Hasil Angket Pratindakan ……………………………............. 142
Lampiran 8: Hasil Angket Pascatindakan…………………………………. 143
Lampiran 9: Pedoman Wawancara ……………………………………. 142
Lampiran10: Transkrip Hasil Wawancara ………………...................... 146
Lampiran 11: Pedoman Pengamatan Pembelajaran
dengan Metode Twenty Questions……………………………… 148
Lampiran 12: Hasil Pengamatan Pembelajaran dengan Metode
Twenty Quest …….................... ………………………… 149
Lampiran 13: Daftar Nama Siswa Kelas XI PM2 …………............... 161
Lampiran 14: Skor Pretes Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa …….. 162
Lampiran 15: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa Siklus I.……………. 163
Lampiran 16: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa Siklus II.…………… 164
Lampiran 17: Silabus................................................... ……………................ 165
Lampiran 18: Hasil Permainan Twenty Questions…………………….. …… 166
Lampiran 19: Foto Dokumentasi …………………………………………… 175
Lampiran 20: Hasil Pengisian Angket …………………………………….. 182
Lampiran 21: Surat Izin Penelitian………………………………………… 196
xiii
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIDATO PERSUASI
PADA SISWA KELAS XI PM2 SMK NEGERI 1 DEPOK,
SLEMAN, YOGYAKARTA
MELALUI METODE TWENTY QUESTONS
Oleh : Moh. Aris Prasetiyanto
NIM 06201241009
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan berdasarkan temuan masalah yang terdapat di
kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman Yogyakarta, yaitu diketahui bahwa
keterampialn berpidato persuasi siswa rendah. Hal tersebut dapat dilihat ari
perolehan skor rata-rata kelas yang hanya mencapai 28,85. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK
Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta melalui metode Twenty Questions.
Subjek Penelitian ini adalah kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman,
Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas.
Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap , yaitu
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh
melalui obervasi, tes keterampilan berpidato persuasi, catatan lapangan, angket,
dan wawancara. Keabsahan data diperoleh melalui validitas (demokratik, proses,
dan hasil) dan reliabilitas. Kriteria tindakan dilihat dari keberhasilan proses dan
keberhasilan produk.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Twenty Questions dapat
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I
Depok, Sleman, Yogyakarta. Peningkatan keterampilan berpidato persuasi tampak
pada kualiatas proses pembelajaran yang ditunjukkan oleh siswa aktif, tampil
percaya diri, dan memiliki semangat dalam pembelajaran berpidato persuasi.
Peningkatan secara produk dapat dilihat dari peningkatan skor dari hasil sebelum
pelaksanaan tindakan sebesar 28,85 dan setelah pelaksanaan tindakan pada siklus
II menjadi 43,97. Kenaikan skor rata-rata mulai dari pratindakan hingga siklus II
sebesar 15,12.
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa pada hakikatnya merupakan alat komunikasi utama yang dibutuhkan
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tercermin dalam interaksi antar anggota
masyarakat yang memanfaatkan bahasa sebagai alat komunikasi yang dominan. Melihat
pentingnya fungsi bahasa tersebut, maka masyarakat dipastikan memiliki dan
menggunakan alat komunikasi sosial tersebut (Soeparno,2002: 5). Sebagai alat
komunikasi, keterampilan berbahasa juga dipelajari di sekolah-sekolah dari tingkatan
sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Menurut Tarigan (1999: 1) dalam pengajaran bahasa Indonesia terdapat empat
keterampilan, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Senada
dengan penjelasan tersebut, Suryaman (2009: 26) mengelompokkan kegiatan berbahasa
menjadi: kegiatan mendengarkan, kegiatan berbicara, kegiatan membaca, dan kegiatan
menulis. Keterampilan membaca dan menyimak merupakan keterampilan reseptif,
dimana seseorang hanya menerima informasi dalam bentuk tulisan dari membaca dan
ujaran lisan dari menyimak, sedangkan keterampilan menulis dan berbicara merupakan
keterampilan produktif, yaitu siswa dituntut untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan
kemampuan yang dimilikinya, berupa ide, gagasan, atau pendapatnya agar diketahui
oleh orang lain dalam bentuk tulisan dan ujaran. Kegiatan berbahasa yang sifatnya
menghasilkan (berbicara) pada umumnya jarang dikuasai oleh siswa.
2
Menurut Nurgiyantoro (2001: 278), ada beberapa bentuk kegiatan berbicara yang
dapat dilatihkan untuk mengembangkan keterampilan berbicara siswa. Bentuk-bentuk
kegiatan tersebut yaitu: pembicaraan berdasarkan gambar, wawancara, pidato, bercerita,
dan diskusi. Pidato merupakan salah satu bentuk kegiatan berbicara. Pidato merupakan
suatu aspek terpenting yang dapat menunjang keberhasilaan seseorang. Kemampuan
menyampaikan ide, gagasan, perasaan dan informasi sulit dicapai oleh siswa jika
keterampilan berpidato yang dimilikinya kurang. Rakhmat (2000: 23) mengelompokkan
jenis berpidato menjadi tiga bagian. Jenis-jenis pidato yang dimaksud yaitu: pidato
informatif, pidato persuasif, pidato rekreatif.
Keterampilan berpidato, khususnya berpidato persuasi sangat dibutuhkan oleh
para siswa untuk menunjang kesuksesan karir, terutama bagi siswa yang memilih
jurusan pemasaran. Selain itu, keterampilan berpidato persuasi juga bermanfaat bagi
kehidupan sosial. Hal tersebut dapat dilihat dari proses interaksi antar anggota
masyarakat satu dengan yang lainnya, misalnya ketika seorang khatib jum'at berkhutbah
dihadapan jama'ah, manusia yang sedang melakukan jual beli, dan guru yang
mengajarkan serta menasehati sesuatu kepada muridnya. Kegiatan-kegiatan tersebut
dapat berjalan dengan baik apabila keterampilan berpidato persuasi dapat dikuasai
dengan baik.
Keterampilan berpidato merupakan salah satu aspek yang perlu dikembangkan
dalam pembelajaran keterampilan berbahasa. Melalui pembelajaran berpidato, siswa
diharapkan mampu menyampaikan gagasan, ide, dan pikiran kepada guru, teman, serta
3
orang lain. Kegiatan berpidato juga mampu menumbuhkan perasaan percaya diri dan
berani tampil di depan publik.
Pidato persuasi merupakan keterampilan yang sulit dikuasai siswa. Sebab, selain
harus menguasai pengetahuan tentang aturan atau kaidah-kaidah kebahasaan, dalam
berpidato juga membutuhkan keberanian mental untuk tampil percaya diri di depan
publik. Selain itu, dalam berpidato persuasi siswa dituntut agar dapat mempegaruhi
orang lain agar dapat melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan pembicara.
Keterampilan berpidato akan meningkat bila pembelajaran berpidato
menggunakan metode pembelajaran yang sesuai. Penggunaan metode pembelajaran
secara tradisional seperti ceramah dan penugasan tanpa dilakukan variasi pembelajaran,
cara ini dapat membuat siswa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran. Indikasi
tersebut dapat dilihat ketika suasana kelas kadang menjadi tegang, siswa kurang serius
mengikuti pelajaran, serta siswa jarang aktif bertanya. Oleh karena itu, diperlukan
teknik pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan keterampilan berpidato siswa.
Menentukan metode pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpidato siswa
diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai materi yang disampaikan dan metode
yang dikuasai. Seorang guru harus menentukan metode pembelajaran yang tepat agar
peserta didik dapat dengan mudah menyerap materi yang disampaikan.
Secara umum, keterampilan berpidato persuasi siswa SMK belum optimal. Hal
demikian juga terjadi pada kelas XI jurusan pemasaran SMK N 1 Depok, Sleman,
Yogyakarta. Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 16 Februari hingga 9 Maret 2011,
diketahui bahwa keterampilan berpidato persuasi siswa rendah. Hal ini dapat dilihat dari
4
perolehan skor rata-rata kelas yang hanya mencapai 28,85. Kemudian, selama proses
pengajaran materi pidato persuasi berlangsung, terlihat siswa-siswi kurang meresponnya
dengan baik, siswa terlihat kurang bersemangat, bosan dan seolah-olah berharap
pelajaran segera berakhir. Dalam praktik berpidato, untuk menyampaikan ide ataupun
gagasan, siswa seringkali lupa; seolah mengingat kata-kata untuk menyalurkan maksud
yang diinginkan, akibatnya, pesan yang sampai pada audien (petutur) tidak dapat
dipahami dengan jelas. Gejala lain misalnya siswa terlihat kurang percaya diri, gerogi
ketika berbicara di muka umum.
Dalam proses pembelajaran, guru menerapkan metode tradisional, seperti metode
ceramah. Ceramah lebih dominan dari pada memberikan siswa rangsangan untuk
memecahkan masalah termasuk memberi kesempatan untuk berlatih. Guru memiliki
peran penting dalam meningkatkan keterampilan berpidato siswa, karena guru terlibat
langsung dalam membina siswa di sekolah melalui proses pembelajaran stándar
kompetensi berbicara. Pembinaan selama proses pembelajaran, fungsi guru adalah
sebagai pendamping, pengarah dan lebih memberikan bantuan serta bukan sebagai pusat
pembelajaran, dengan demikian pembelajaran ideal adalah yang dapat berpusat pada
siswa.
Faktor lain yang mempengaruhi keterampilan berpidato siswa adalah sarana atau
media pelajaran serta suasana atau keadaan tempat belajar. Ada banyak metode yang
dapat digunakan guru sebagai alternatif untuk mengajar keterampilan berpidato persuasi,
misalnya metode Twenty Questions. Cara lain yang dapat digunakan oleh guru untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi adalah menggunakan media iklan dan
5
video klip. Salah satu dari metode pembelajaran berpidato yang dipilih untuk
meningatkan keterampilan berpidato persuasi adalah metode Twenty Questions. Metode
ini dipilih untuk meningkatkan keterampilan pidato persuasi siswa karena memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor pertanyaan dan mengejar jawaban yang
paling tepat dari sebuah permasalahan, sehingga, dengan cara tersebut, siswa dapat
mengembangkan gagasan. Menurut Soeparno (1988:82) metode ini melatih cara berpikir
sintesis dan analitis. Metode Twenty Questions dapat mempertajam siswa dalam
menganalisis suatu barang secara detail, dengan demikian siswa akan lebih mudah
melakukan praktik berpidato persuasi. Twenty Questions merupakan suatu metode
belajar yang menyenangkan, aktif, dan interaktif. Pembelajaran menggunakan metode
ini memungkinkan siswa untuk saling bekerjasama, hal ini disebabkan karena setiap kali
pembelajaran berlangsung, para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian
setelah itu siswa diberi kesempatan untuk menerka sesuatu (barang) yang
disembunyikan oleh pihak lain/lawan dengan jalan mengajukan pertanyaan maksimal
sebanyak dua puluh kali. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus disusun sedemikian rupa,
sehingga memperoleh jawaban ya atau tidak. Setelah jawaban diketahui, siswa tersebut
diminta mempresentasikan jawabannya dengan cara berpidato persuasi dan harus
menggunakan kosakata dari hasil eksplorasi siswa ketika sedang berusaha menjawab
pertanyaan. Kemahiran menggunakan kosakata ketika sedang mempresentasikan suatu
barang, akan membuat siswa dengan mudah mempengaruhi orang lain agar orang lain
tersebut mau mengikuti maksud yang diinginkan.
6
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpidato
persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman Yogyakarta. Selain itu,
penerapan metode Twenty Questions diharapkan dapat menjadi alternatif sekaligus
inovasi bagi guru dalam pembelajaran berpidato persuasi. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penelitian mengenai penerapan metode Twenty Questions pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia dalam rangka membantu meningkatkan keterampilan berpidato
persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta. Peneliti
mengambil subjek penelitian siswa SMK N I Depok, Sleman, Yogyakarta kelas XI PM2
karena kelas tersebut skor keterampilan berpidato persuasinya rendah.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah-masalah
sebagai berikut.
a. Rendahnya minat siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta
terhadap pengajaran berpidato persuasi.
b. Keterampilan berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman,
Yogyakarta rendah.
c. Siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta masih kurang detail
dalam menganalisis suatu barang.
d. Siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta kurang berani
berbicara khusunya berpidato persuasi pada situasi formal.
7
e. Perlunya dipilih metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan
berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, masalah yang akan diteliti dalam
penelitian ini dibatasi hanya pada penggunaan metode Twenty Questions untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1
Depok, Sleman, Yogyakarta. Pembatasan masalah tersebut dipilih terkait dengan adanya
masalah yaitu selama ini siswa terlihat kurang bersemangat ketika pembelajaran
berlangsung, kurang percaya diri, serta merasa kesulitan untuk mencari ide pada saat
berpidato persuasi.
C. Rumusan Masalah
Sesuai dengan batasan masalah di atas, rumusan masalah yang dikaji dalam
penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan keterampilan berpidato persuasi pada
siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta melalui metode Twenty
Questions?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpidato persuasi
pada siswa kelas XI PM2 SMK Negeri 1 Depok, Yogyakarta melalui metode Twenty
Questions .
8
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam pengembangan teknik
pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran keterampilan berpidato
persuasi dengan metode Twenty Questions.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
a. Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan para
pengendali kebijakan di SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran berbicara khusunya keterampilan berpidato
persuasi.
b. Guru bahasa Indonesia
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menerapkan metode
Twenty Questions dalam mengajarkan keterampilan berpidato persuasi.
c. Bagi siswa
Hasil penelitian ini diharapkan agar siswa SMK Negeri 1 Depok, Sleman
Yogyakarta tidak kesulitan lagi dalam berpidato persuasi serta dapat digunakan untuk
meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia, khususnya keterampilan berpidato
persuasi.
9
F. Batasan Istilah
1. Peningkatan merupakan suatu perubahan dari keadaan tertentu menuju ke
kearah atau keadaan yang lebih baik.
2. Keterampilan berpidato persuasi adalah kemahiran siswa dalam menyampaikan ide,
pikiran, gagasan atau informasi kepada pendengar atau khalayak ramai secara lisan
dengan tujuan agar pendengar terpengaruh sehingga melakukan kehendak pembicara
3. Metode Twenty Questions merupakan suatu teknik pembelajaran bahasa yang
bertujuan agar siswa pandai menganalisis suatu barang sehingga dapat membantu
sekaligus meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa.
10
BAB II
KAJIAN TEORI
Berikut ini dijelaskan teori-teori yang relevan dengan fokus penelitian. Kajian
teori yang akan dipaparkan dalam bab ini, yaitu kemampuan berpidato, maksud dan
tujuan berpidato, jenis-jenis berpidato, faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan
berpidato, langkah-langkah berpidato, keterampilan berpidato persuasi, ciri-ciri pidato
persuasi, dan metode Twenty Questions.
A. Kemampuan Berpidato
Bahasa merupakan alat komunikasi vital yang diperlukan manusia untuk
berinteraksi. Bahasa lisan akan digunakan ketika manusia mengungkapkan dan
menyampaikan pikirannya kepada manusia lain. Kenyataan ini jelas menunjukkan
bahwa setiap manusia membutuhkan kemampuan berbicara ataupun berpidato agar
pesan komunikator dapat dipahami oleh resipiens. Kemampuan berpidato yang
dimaksud adalah kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata
yang ditunjukkan dihadapan orang banyak (Hadinegoro, 2003: 1). Senada dengan
pengertian di atas, Arsjad dan Mukti (1993: 51) mengemukakan, bahwa pidato
merupakan penyampaian dan penanaman pikiran, informasi, atau gagasan dari
pembicara kepada khalayak ramai.
Taraf kemampuan berpidato, menyatakan maksud dan perasaan secara lisan
pada tiap-tiap siswa tidaklah sama. Kemampuan tersebut bervariasi, mulai dari taraf baik
atau lancar, sedang, gagap atau kurang. Beberapa siswa belum dapat mengutarakan
11
maksud dihadapan teman-temannya. Rasa tidak percaya diri menjadikan siswa
berkeringat dingin ketika berada di depan kelas. Kekurangan-kekurangan tersebut dapat
teratasi dengan cara terus melatih kemampuan berpidato siswa. Keterampilan berbicara
merupakan keterampilan yang mekanistis (Tarigan, 1997: 43), jadi semakin banyak
berlatih, semakin dikuasai keterampilan tersebut. Kemahiran mengungkapkan secara
lisan, tidak saja menghendaki penguasaan bahasa yang baik dan lancar, tetapi hal itu
menghendaki pula persyaratan-persyaratan lain, misalnya keberanian, ketenangan sikap
di depan massa, sanggup mengadakan reaksi secara cepat dan tepat, sanggup
menampilkan gagasannya secara lancar dan teratur, serta mempeelihatkan suatu sikap
dan gerak-gerik yang tidak kaku dan canggung (Keraf,2001: 315).
Pidato merupakan satu jenis keterampilan berbicara yang telah dikenal luas
dikalangan masyarat, hampir kegiatan yang diadakan dalam masyarakat melibatkan
kegiatan berpidato, hal ini dapat dijumpai pada acara-acara formal maupun non formal,
misalnya acara pernikahan, kematian, pidato tentang politik, pidato kenegaraan,
termasuk juga ceramah-ceramah agama. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa
manusia memerlukan keterampilan berpidato selama berkomunikasi dengan anggota
masyarakat yang lain. Banyak orang yang beranggapan, bahwa kemampuan atau
kepandaian berpidato merupakan masalah bakat dan keturunan. Artinya kepintaran
seseorang dalam berpidato hanyalah karena bakat yang dimilikinya. Pandangan seperti
ini tidak selamanya benar, karena keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang
mekanistis, oleh karena itu, kemampuan berpidato dapat terus dilatih dari yang awalnya
tidak bisa sama sekali hingga menjadi mahir. Kemahiran mengungkapkan pesan secara
12
lisan tidak dapat diraih dengan satu kali latihan, atau bukan merupakan bakat sejak lahir,
jadi, semakin banyak berlatih, keterampilan tersebut semakin dapat dikuasai.
Dalam proses berkomunikasi seorang pembicara harus mampu menyampaikan
pidatonya dengan baik, hal ini bertujuan agar pendengar atau audien dapat memahami
pesan yang disampaikan oleh pembicara. Kemampuan berpidato yang dimaksud adalah
kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditunjukkan
kepada orang banyak, atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak
(Hadinegoro,2003: 1). Dalam berpidato seorang pembicara dituntut untuk dapat
melafalkan kata, kalimat sesuai dengan apa yang ada dalam gagasannya. Lebih dalam,
Keraf (2001: 315) menjelaskan, seorang pembicara juga dituntut untuk memiliki
keberanian, ketenangan sikap didepan massa, sanggup mengadakan reaksi yang cepat
dan tepat, sanggup menyampaikan gagasannya secara lancar dan teratur, serta
memperlihatkan suatu sikap dan gerak-gerik yang tidak kaku dan canggung. Dengan
kemampuan tersebut, seorang pembicara dapat memberikan kesan baik bagi pendengar
dalam arti orang-orang yang mendengarkan dapat memahami pesan atau maksud dengan
sangat jelas.
B. Maksud dan Tujuan Berpidato
Setiap manusia pada saat melakukan proses berbicara pasti memiliki tujuan
yang hendak dicapai. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Dalam
berpidato, tujuan berkomunikasi adalah dapat dipahaminya gagasan atau pendapat oleh
pendengar (Agustina,2007: 13)
13
Keraf (2001: 23) mengemukakan lima maksud dan tujuan berpidato, yaitu sebagai
berikut.
1. Mendorong
Penyampaian lisan dengan tujuan mendorong yaitu seorang pembicara mengharapkan
reaksi-reaksi yang menimbulkan inspirasi, membangkitkan emosi para pendengar.
2. Meyakinkan
Pidato dengan tujuan meyakinkan ini dapat diartikan bahwa pembicara berusaha
mempengaruhi mental atau intelektual para pendengar. Kegiatan berpidato yang ada
di dalamnya menggunakan pemaparan argumentasi. Penyampaian fakta-fakta disertai
bukti-bukti serta contoh-contoh kongkrit merupakan hal yang harus diterapkan,
supaya reaksi yang diharapkan dari para pendengar adalah terjadinya persesuaian
pendapat atau keyakinan dan kepercayaan atas materi yang disampaikan.
3. Berbuat
Reaksi fisik (tindakan) dari pendengar merupakan dampak dari tujuan berpidato
berbuat. Tujun pidato ini dapat dilihat ketika pendengar melakukan perbuatan
sebagaimana yang diinginkan oleh pembicara. Oleh karena itu, pidato dengan tujuan
ini bersifat persuasif .
4. Memberitahukan
Uraian lisan yang bertujuan memberitahukan adalah pembicara ingin
memberitahukan atau menyampaiakan sesuatu kepada pendengar agar mereka dapat
mengerti tentang sesuatu hal, atau untuk mempeluas pengetahuan, dari pemahaman
14
tersebut dapat dikategorikan bahwa pidato dengan tujuan memberitahukan bersifat
instruktif atau pidato yang mengandung ajaran.
5. Menyenangkan
Tujuan pidato ini adalah menghibur pendengar. Pidato dengan jenis ini biasanya
terdapat sisipan-sisipan humor. Humor menjadi alat penting yang tidak dapat
dipisahkan ketika menyampaikan pesan lisan.
Hampir sama dengan Keraf, Rakhmat (2000: 23) merumuskan tiga tujuan
pidato, yaitu sebagai berikut.
1. Pidato Informatif
Pidato ini ditujukan untuk menambah pengetahuan pendengar. Komunikasi yang
diharapkan memperoleh penjelasan, menaruh minat dan memiliki pengertian tentang
persoalan yang dibicarakan.
2. Pidato Persuasif
Pidato Persuasif ditujukan agar orang mempercayai sesuatu, malakukannya atau
terbakar semangat dan antusiasmenya. Keyakinan, tindakan dan semangat adalah
reaksi yang diharapkan
3. Pidato Rekreatif
Pidato ini bertujuan untuk menghibur. Reaksi yang diharapkan dari pendengar ádalah
perhatian, kesenangan dan humor.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum pembicara
berpidato, terlebih dahulu harus melakukan analisis terhadap pendengar, tujuan
15
melakukan análisis pendengar adalah agar pembicara dalam menyampaikan materi
dapat fokus pada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
C. Jenis-jenis Berpidato
Rakhmat (2000: 17) membagi jenis-jenis pidato sebagai berikut.
a. Importu, jenis pidato ini adalah seorang pembicara hendak mengungkapkan
perasaan yang sebenarnya, gagasan dan pendapatnya disampaiakan secara spontan
sehingga terkesan hidup.
b. Manuskrip, pidato ini disebut juga pidato dengan menggunakan naskah.
Pelaksanaan pidato manuskrip tidaklah sulit, seorang pembicara hanya
membacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato manuskrip telihat lebih
mudah karena pembicara dapat menyiapkan kata-kata sebelumnya, jadi seorang
pembicara memiliki waktu luang untuk menyususn kata-kata yang menarik. Pidato
manuskrip biasanya dibawakan oleh tokoh nasional dan ilmuan.
c. Memortier, pidato mimortier adalah pesan pidato ditulis kemudian kata-katanya
diingat, seperti manuskrip, memortier memungkinkan ungkapan yang tepat,
organisai yang berencana, pemilihan bahasa yang teliti, gerak dan isyarat yang
diintegrasikan dengan uraian.
d. Ekstempore, pidato ini adalah jenis pidato yang paling sering dilakukan oleh juru
pidato yang mahir. Pidato sudah dipersiapkan sebelumnya berupa out-line (garis
besar) dan pokok-pokok penunjang pembahasan (supporting points). Dalam pidato
ini seorang pembicara tidak perlu mengingat kata demi kata.
16
D. Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berpidato
Faktor penunjang keefektifan berbicara yang harus dimiliki oleh pembicara
adalah faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan (Arsjad dan Mukti, 1993: 17-22).
Adapun faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut: faktor kebahasaan, meliputi:
(a) ketepatan ucapan,(b) penempatan tekanan nada, sendi dan durasi(c) pilihan kata, (d)
ketepatan penggunaan kalimat serta tata bahasanya,(e) ketepatan sasaran pembicaraan.
Sementara itu, faktor nonkebahasaan, meliputi: (a) sikap yang wajar, tenang dan tidak
kaku,(b) pandangan harus diarahkan pada lawan bicara,(c) kesediaan menghargai
pendapat orang lain,(d) gerak-gerik dan mimik yang tepat,(e) kenyaringan,(f)
kelancaran,(g) relevansi/penalaran, dan (h) penguasaan topik.
E. Langkah-langkah Berpidato
Persiapan yang matang akan mempengaruhi keberhasilan dalam berpidato.
Oleh karena itu sebelum berpidato diperlukan suatu persiapan agar pidato yang
dibawakan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan pembicara. Langkahlangkah
yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan pidato menurut Keraf (2001:
317-318) adalah sebagai berikut.
a. Menentukan topik dan tujuan.
b. Menganalisis pendengar dan situasi.
c. Memilih dan menyempitkan topik.
d. Mengumpulkan bahan.
17
e. Membuat kerangka uraian.
f. Menguraikan secara mendetail.
g. Melatih dengan suara nyaring.
F. Keterampilan Berpidato Persuasi
Kemahiran berpidato persuasi hendaknya dimiliki oleh setiap orang terutama
para pedagang, ahli kampanye, sales, termasuk di dalamnya siswa jurusan pemasaran.
Dalam berpidato persuasi, tujuan akhir adalah mempengaruhi pendengar. Menurut Ari
Janu, pidato persuasi adalah pesan yang disampaikan kepada khalayak ramai yang
bertujuan untuk mempengaruhi pilihan khalayak ramai melalui pengondisian,
penguatan, atau pengubahan tanggapan (respon) mereka terhadap gagasan, isu, konsep,
atau produk (diakses dari http://wesakwela.com). Hampir senada dengan pengertian di
atas, Rakhmat (2000:102) mengatakan bahwa persuasi adalah proses mempengaruhi
pendapat, sikap, dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis,
sehingga orang tersebut bertindak atas kehendaknya sendiri untuk menyetujui atau
menyatakan ”ya”. Upaya persuasi akan berhasil baik, bila pesan yang disampaikan
memiliki akibat sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, seorang pembicara perlu
mengetahui kepribadian pendengar agar pembicara lebih mudah mengatur, atau
mengarahkan perilakunya.
Adapun hal yang perlu dilakukan ketika berpidato persuasi yaitu (1) penampilan
pembicara yang meyakinkan, (2) kemahiran menganilisis suatu barang, dan (3)
penguasaan kosakata. Pembicara juga harus berupaya sebisa mungkin mengarahkan
18
pendengar agar mereka seakan-akan ikut melihat, mendengar, mengecap, mencium,
menyentuh barang yang ditawarkan.
G. Ciri-ciri Pidato Persuasi
Jenis pidato cukup beragam, misalnya pidato informatif, rekreatif, persuasi, dll.
Masing-masing memiliki pengertian dan ciri-ciri khusus. Dalam penelitian ini akan
difokuskan pada ciri-cir pidato persuasi saja. Menurut Rakhmat (2000: 102) ciri-ciri
pidato persuasi adalah mempengaruhi pendapat, sikap dan tindakan orang dengan
menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas
kehendaknya sendiri. Ia juga menambahkan, pidato persuasi adalah sebuah pidato yang
memiliki tujuan manarik perhatian, meyakinkan, dan menyentuh atau menggerakkan
(2000: 115).
Selain itu, menurut hemat peneliti, pidato persuasi memiliki kecenderungan
paling banyak dihapal atau tanpa teks, dan pidato yang disampaikan terfokus pada topik
yang dipilih serta tujuan pidato persuasi itu sendiri. Keadaan yang demikian,
mengharuskan pembicara untuk dapat menguasai materi.
H. Metode Twenty Questions
Proses belajar mengajar menggunakan metode Twenty Questions atau dua puluh
pertanyaan dikembangkan oleh Soeparno. Metode ini digunakan untuk meningkatkan
keterampilan berbicara. Metode Twenty Questions sangat cocok untuk melatih pidato
persuasi, sebab dalam pelaksanaannya, metode ini memberikan kesempatan kepada
19
siswa untuk memberikan jawaban yang paling tepat dan melatih siswa berfikir secara
sintetis dan anlitis.
Dalam proses mencari jawaban tersebut, siswa berusaha menganilis barang
yang disembunyikan dengan cara mengeksplorasi gagasan-gagasan yang ada dalam
pikirannya, sehingga dalam proses tersebut secara tidak langsung siswa juga
mendapatkan banyak kosakata yang berguna untuk dijadikan bahan dalam kegiatan
berpidato persuasi.
Semakin pandai siswa dalam menganalisis gagasan, maka semakin mudah bagi
siswa untuk mempengaruhi orang lain. Hal ini terjadi karena, siswa memiliki banyak
cara untuk mempromosikan barang dengan menggunakan kosakata yang dikuasainya.
Metode ini terasa lebih menyenangkan karena dikemas dalam bentuk permaian. Dengan
demikian, pembelajaran terkesan tidak monoton dan siswa akan tertarik dengan materi
yang diajarkan tanpa merasakan kejenuhan.
Menurut Soeparno (1988: 82) dalam permainan, para siswa berusaha menerka
sesuatu yang disembunyikan oleh pihak lain/lawan dengan jalan mengajukan pertanyaan
sebanyak dua puluh kali. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus disusun sedemikian rupa
sehingga memperoleh jawaban ya atau tidak. Jika setelah dua puluh kali atau kurang dari
itu sudah dapat menerka apa yang disembunyikan pihak lawan, maka mereka dinyatakan
menang. Sebaliknya apabila meleset terkaannya atau tidak tepat terkaannya, maka
dinyatakan kalah.
20
Soeparno (1988: 82), mengemukakan langkah-langkah metode Twenty
Questions sebagai berikut.
1) Guru menjelaskan peraturan permainan.
2) Pemain dibagi menjadi dua regu, yaitu regu A dan regu B.
3) Regu A pada giliran pertama bertindak sebagai penjawab, sedangkan regu B
bertindak sebagai penanya.
4) Regu A menuliskan kata atau istilah pada secarik kertas kemudian kertas tersebut
dilipat dan disembunyikan.
5) Regu B mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya boleh di jawab ya atau tidak.
6) Pada giliran berikutnya dibalik, yaitu regu A sebagai penanya sedangkan regu B
sebagai penjawab.
7) Selanjutnya, giliran diberikan terus secara bergantian sampai lima kali penampilan.
8) Setelah itu jumlah kemenangan dihitung, regu yang pailng banyak memperoleh
kemenangan dinyatakan sebagai pemenang akhir.
Langkah-langkah metode Twenty Questions yang telah dimodifikasi dalam
pembelajaran keterampilan berpidato persuasi adalah sebagai berikut.
1) Guru menjelaskan peraturan permainan.
2) Siswa dibagi menjadi enam kelompok (A, B, C, D, E, F).
3) Masing-masing kelompok dibagi menjadi dua termin;pada giliran pertama bertindak
sebagai penjawab, selanjutnya bertindak sebagai penanya.
4) Masing-masing siswa dalam setiap kelompok mendapat penugasan dari guru supaya
ada pemerataan tanggung jawab. Misalnya: Pada kelompok yang mendapat giliran
21
sebagai penjawab (regu A, B, C) Siswa pertama bertugas menjelaskan tema, siswa
kedua bertugas sebagai moderator, siswa ketiga bertugas menjawab ya atau tidak atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak lawan, sedangkan siswa keempat dan
kelima bertugas mengecek jumlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak lawan
supaya tidak melampaui batas (dua puluh pertanyaan).
5) Pada kelompok yang mendapat giliran penjawab (regu D, E, F) semua anggota
kelompok mendiskusikan perkiraan jawaban dari pihak lawan. Siswa pertama
bertugas sebagai pencatat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, siswa kedua, ketiga
dan keempat bertugas sebagai penanya, siswa kelima bertugas menyimpulkan.
6) Kelompok penjawab (regu A, B, C) menuliskan kata atau istilah pada secarik kertas
kemudian kertas tersebut dilipat dan disembunyikan. Kata yang dituliskan itu
misalnya kupu-kupu.
7) Kelompok penanya (regu D, E, F) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya
boleh di jawab ya atau tidak.
8) Setelah menemukan jawaban, regu yang mendapat giliran pertanyaan diminta untuk
praktik berpidato persuasi di depan kelompok lawan. Regu yang berpidato dapat
menggunakan bantuan dari pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya diajukan. Hal ini
bertujuan untuk memudahkan siswa dalam berpidato.
9) Pada giliran berikutnya dibalik, yaitu regu A, B, C sebagai penanya, sedangkan regu
D, E, F sebagai penjawab.
10) Selanjutnya, giliran diberikan terus secara bergantian sampai lima kali penampilan.
22
11) Setelah itu jumlah kemenangan dihitung, regu yang paling banyak memperoleh
kemenangan dinyatakan sebagai pemenang akhir.
I. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan
oleh Lina Adiyana (2008) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Berpidato Melalui
Teknik The Heackling Debate pada Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri I Prambanan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran melalui metode ini mampu
meningkatkan keterampilan berpidato siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri I Prambanan.
Penelitian tersebut membahas keterampilan berbicara khususnya berpidato
persuasi sehingga dapat dikatakan penelitian tersebut relevan dengan penelitian ini.
Perbedaan penelitian Saudara Lina dengan penelitian ini terletak pada metode
pembelajaran yang digunakan dan jenis pidato yang dituju. Penelitian Saudara Lina
menggunakan teknik The Heackling Debate, sedangkan penelitian ini menggunkan
metode Twenty Questions. Selain itu jenis pidato yang dipilih dalam penelitian ini adalah
pidato persuasi, dan penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Depok, Sleman,
Yogyakarta, sedangkan dalam penelitian Lina Adiyana dilakukan di SMA Negeri I
Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Dengan demikian, hasil penelitian ini akan berbeda
dengan hasil penelian Lina Adiyana.
23
J. Kerangka Pikir
Keterampilan berpidato persuasi merupakan salah satu aspek yang perlu
dikembangkan dalam pembelajaran keterampialn berbahasa, terutama pada siswa SMK
jurusan pemasaran. Hal ini sangat penting, mengingat siswa pada jurusan tersebut dalam
praktiknya akan selalu melakukan kegiatan memasarkan barang. Dengan demikian,
kemahiran dalam berpidato persuasi mutlak dibutuhkan.
Dalam upaya meningkatkan keterampilan berpidato persuasi. Peneliti
menggunakan metode Twenty Questions. Metode ini diterapkan untuk membantu siswa
berpikir sintetis dan analitis sehingga menjadikan siswa terampil mengemukakan ide,
gagasan, serta pikiran kepada guru, teman dan juga orang lain.
Semakin detail siswa mengeksplorasi suatu barang, semakin mudah bagi siswa
untuk meyakinkan pendengar. Selanjutnya setelah yakin, pendengar dengan mudah
dapat terpengaruh untuk mengikuti kehendak pembicara. Selain itu, siswa yang kurang
tertarik terhadap pembelajaran berpidato termotivasi untuk berani berpidato karena
pelaksanaan metode Twenty Questions dibarengi dengan permainan.
K. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir yang telah diuraikan, hipotesis tindakan penelitian
ini adalah jika pembelajaran berpidato persuasi dilakukan dengan metode Twenty
Questions, maka keterampilan berpidato siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok,
Sleman, Yogyakarta akan meningkat.
24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan kelas (classroom action
research). Menurut Burns (melalu Madya, 2009:9), penelitian tindakan merupakan
penerapan penemuan fakta pada pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan
pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan di dalamnya, yang
melibatkan kolaborasi dan kerjasama para peneliti, praktisi, dan orang awam. Penelitian
tindakan juga bertujuan untuk melakukan perubahan pada semua diri pesertanya dan
perubahan situasi tempat penelitian dilakukan guna mencapai perbaikan praktik secara
incremental dan berkelanjutan (Madya, 2009:11). Penelitian tindakan terdiri dari empat
tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan (tindakan), pengamatan (observasi), dan refleksi
(Kemmis dkk. 1982; Burns 1999 lewat Madya, 2009: 59). Tahap-tahap dalam penelitian
tindakan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Perencanaan, rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersusun, dan dari
segi definisi harus mengarah pada tindakan, yaitu bahwa rencana tersebut harus
memandang kedepan.
2. Tindakan, yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, dan merupakan
variasi praktik yang cermat dan bijaksana.
3. Pengamatan (observasi) berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan
tersebut. Peneliti mencatat hasil pengamatan selama pembelajaran.
25
4. Refleksi adalah memberikan makna terhadap proses dan hasil yang terjadii akibat
adanya tindakan yang dilakukan(Madya, 2006: 59-66).
Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus, dan menggunakan desain
penelitian Arikunto (2008:16). Adapun model penelitiannya dapat digambarkan
sebagai berikut.
Gambar I. Model Penelitian Tindakan Kelas Arikunto (2008: 16)
a. Perencanaan (Siklus 1)
Pada siklus 1, peneliti bersama guru bahasa Indonesia yang dalam hal ini
sebagai kolaborator berdiskusi dan berkoordinasi terkait dengan masalah yang
ditemukan, selanjutnya merencanakan tindakan yang akan dilakukan. Adapun rencana
yang akan dilaksanakan sebagai berikut.
26
1) Peneliti bersama guru bahasa Indonesia menyamakan persepsi untuk mengidentifikasi
permasalahn yang muncul di dalam kelas ketika pembelajaran berpidato persuasi
berlangsung.
2) Peneliti dan guru merencanakan pelaksanaan metode Twenty Questions
3) Menentukan tema yang relevan atau sesuai dengan siswa. Tema tersebut digunakan
ketika pelaksanaan metode Twenty Questions berlangsung sekaligus nantinya akan
dipakai dalam berpidato persuasi siswa.
4) Menentukan langkah-langkah pelaksanaan metode Twenty Questions.
5) Menyiapkan materi pelajaran dan instrumen yang berupa lembar pengamatan, lembar
penilaian keterampilan berpidato persuasi, catatan lapangan, dan alat dokumentasi.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tahap tindakan merupakan realisasi dari rencana yan sudah dirancang
sebelumnya. Tindakan yang dilakukan pada siklus I adalah sebaga berikut.
1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada para siswa.
2) Guru melakukan apersepsi untuk membawa kesiapan siswa masuk ke materi
pembelajaran.
3) Guru menjelaskan materi tentang pidato persuasi, faktor-faktor-penunjang
keefektifan berpidato.
4) Guru menjelaskan materi tentang metode Twenty Questions meliputi
pengertian, manfaat, tujuan serta prosedur palaksanaan.
5) Guru membagi kelas menjadi enam regu atau kelompok. Masing-masing
berhadapan berpasang-pasangan (dua regu).
27
6) Guru menentukan tema permainan.
7) Siswa dari masing-masing kelompok berusaha menerka jawaban sesuai dengan
tema yang diberikan.
8) Dari pelaksanaan permainan (metode Twenty Questions), siswa membuat naskah
pidato persuasi.
9) Guru meminta siswa untuk praktik berpidato persuasi di depan kelas.
10) Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti dan guru melakuakan
pengamatan terhadap siswa.
c. Observasi
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengamati segala yang
dilakukan siswa di dalam kelas baik ketika didalam kelompok atau individu.
Pengamatan tersebut meliputi sikap, keaktifan siswa selama praktik metode Twenty
Questions. Selain itu, peneliti juga mengamati guru, apakah guru menjelaskan secara
detail tentang materi yang di ajarkan, memberi bimbingan, motivasi kepada siswa
selama pembelajaran.
d. Refleksi
Peneliti bersama guru melakukan refleksi; berdiskusi dan menganalisis hasil
pengamatan pada siklus I. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui keterampilan
berpidato siswa setelah dikenai tindakan, keaktifan siswa ketika berinteraksi dengan
guru dan siswa yang lainnya. Tahap ini digunakan untuk merencanakan kegiatan siklus
II. Kegiatan pada siklus II dan selanjutnya mengikuti prosedur pada siklus I yang terdiri
dari: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
28
B. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Depok. Sekolah ini
terletak di jalan Ringroad Utara, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. SMK
Negeri I Depok ini merupakan rintisan sekolah berstandar nasional dan termasuk salah
satu sekolah favorit serta teladan di kabuaten Sleman. SMK ini memiliki dua kelompok
program, yaitu kelompok bisnis dan managemen. Salah satu jurusan yang termasuk
dalam kelompok bisnis adalah jurusan pemasaran. Khusus pada kelas XI, disekolah ini
terdapat dua kelas jurusan pemasaran, yaitu pemasaran satu dan pemasaran dua (PMI
dan PM2). Adapun penelitian ini dilakukan di kelas XI PM2, kelas ini dipilih karena
siswa-siswinya memiliki keterampilan berpidato persuasi yang rendah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2011 sampai
bulan Juni 2011, yang meliputi kegiatan penelitian dari penemuan masalah hingga
pelaporan. Kegiatan penelitian dimulai dari penyusunan proposal dilanjutkan dengan
pembuatan instrumen penelitian yang dilakukan muali bulan Februari 2011. Tindakan
dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2011 menyesuaikan dengan guru mata
pelajaran berdasarkan SK/KD semester dua. Adapun pelaksanaan tindakan disesuaikan
dengan jawal pelajaran bahasa Indonesia kelas XI PM II (pemasaran dua) SMK Negeri I
Depok, Sleman, Yogyakarta.
29
C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI PM 2 (jurusan pemasaran dua) SMK
Negeri 1 Depok yang terdiri dari 34 siswa. Penentuan kelas didasarkan pada tingkat
permasalahan yang dimiliki sesuai dengan hasil wawancara dengan guru yang dilakukan
sebelum penelitian yaitu siswa merasa kesulitan untuk mencari ide pada saat berpidato
persuasi, sehingga yang terjadi siswa kurang detail dalam menganalisis suatu barang
yang akan diperdagangkan. Penggunaan metode Twenty Questions diharapkan dapat
meningkatkan ketajaman menganalisis suatu barang dagangan dan kemampuan siswa
dalam pidato persuasi.
2. Objek Penelitian
Pengambilan objek penelitian ini mencakup proses dan hasil. Objek yang
berupa proses adalah pelaksanaan proses pembelajaran berpidato persuasi yang
berlangsung pada siswa kelas XI PM 2 SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta
melalui metode Twenty Questions. Objek hasil atau produk penelitian adalah skor yang
diperoleh siswa selama pelaksanaan pembelajaran berpidato persuasi menggunakan
metode Twenty Questions.
D. Sumber dan Jenis Data
Sumber dan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) katakata
dan tindakan, (2) sumber tertulis; dalam penelitian ini meliputi hasil angket siswa
dan lembar pengamatan dalam catatan lapangan, (3) alat rekaman gambar; berupa foto
30
rekaman yang digunakan untuk menangkap hal-hal yang dilakukan guru, siswa, dan
peneliti.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi, tes berbicara (berpidato persuasi), catatan lapangan, wawancara, dan angket.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini meliputi.
1) Angket; untuk mendapatkan data tentang proses pembelajaran pidato persuasi yang
berlangsung pada siswa. Angket terdiri dari dua jenis, yaitu angket prasiklus yang
diberikan sebelum tindakan dilakukan serta angket pascasiklus yang diberikan di akhir
penelitian.
2) Lembar observasi; digunakan untuk mendata, memberikan gambaran proses
pembelajaran keterampilan berdiskusi yang berlangsung di kelas. Hasil observasi
dilengkapi dengan catatan lapangan (field notes).
3) Lembar penilaian keterampilan berpidato persuasi
Lembar penilaian keterampilan berpidato ini menggunakan penilaian berdasarkan
Arsjad dan Mukti (1993: 87) yang telah dimodifikasi. Adapun kriteria penilaian
keterampilan berpidato persuasi dapat dilihat pada Tabel berikut.
31
Tabel 1 : Pedoman Penilaian Tes Kemampuan Berpidato Persuasi
No. Aspek Skala Skor
1 2 3 4 5
1. Pilihan kata
2. Struktur
3. Pelafalan
4. Intonasi
5. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
6. Penguasaan medan
7. Penguasaan materi
8. Gerak-gerik dan mimic
9. Penalaran
10. Kemampuan mengarahkan opini
Jumlah
Secara umum, penilaian pidato mencakup sembilan aspek seperti yang tertera
pada Tabel I, namun dalam penilaian pidato persuasi, terdapat satu aspek penilaian yang
membedakan dengan jenis pidato yang lain. Aspek yang dimaksud adalah kemampuan
mengarahkan opini. Aspek ini dimaksudkan agar pembicara dapat menggiring opini
pendengar dengan cara menyampaikan gagasan secara runtut, logis, dan menggunakan
kalimat-kalimat yang bersifat membujuk atau mengajak. Berikut ini adalah deskripsi
pedoman penilaian tes keterampilan berpidato persuasi.
32
Tabel 2 : Deskripsi Penilaian Tes Keterampilan Berpidato Persuasi.
No. Aspek Subaspek Indikator Skor
1. Kebahasaan Pilihan kata Sangat tinggi: apabila kata-kata yang
digunakan tepat, semua kata yang
digunakan mendukung gagasan, unsur
kedaerahan sama sekali tidak tampak,
variatif.
5
tinggi: apabila kata-kata yang digunakan
tepat, semua kata yang digunakan
mendukung gagasan, unsur kedaerahan
tidak tampak, variatif.
4
Kurang tinggi: apabila kata-kata yang
digunakan tepat, semua kata yang
digunakan mendukung gagasan, unsur
kedaerahan mulai tampak, variatif.
3
Sedang: apabila kata-kata yang
digunakan tepat, terdapat beberapa kata
yang tidak mendukung gagasan, unsur
kedaerahan mulai tampak, variatif.
2
Rendah: apabila kata-kata yang
digunakan tidak tepat, kata yang
digunakan tidak mendukung gagasan,
unsur kedaerahan tampak jelas, tidak
variatif.
1
2. Struktur Sangat tinggi: apabila sama sekali tidak
terdapat kesalahan dalam susunan
kalimat, frasa, dan kata sehingga
informasi atau pesan yang disampaikan
dapat dipahami dengan baik.
5
Tinggi: apabila terdapat satu sampai tiga
kesalahan struktur, baik pada tingkat
kalimat, frasa, maupun dalam
4
33
penyususnan kata.
Kurang tinggi: apabila terdapat dua
sampai empat kesalahan, baik kesalahan
yang menyangkut kalimat, frasa
maupun kata.
3
Sedang: apabila terdapat sebanyak tiga
sampai lima, baik kesalahan yang
menyankut kalimat, frasa, maupun kata.
2
Rendah: apabila terdapat kesalahan
struktur yang terjadi terus menerus
sehingga informasi atau pesan yang
disampaikan tidak dapat di pahami
dengan baik.
1
3. Pelafalan Sangat tinggi: pelafalan fonem jelas dan
tidak ada pengaruh pelafalan dari
bahasa daerah dan asing
5
Tinggi: pelafalan fonem jelas, beberapa
kali terpengaruh pelafalan dari bahasa
daerah dan asing
4
Kurang tinggi: pelafalan fonem kurang
jelas, beberapa kali terpengaruh
pelafalan dari bahasa daerah dan asing
3
Sedang: pelafalan fonem kurang jelas,
terpengaruh pelafalan dari bahasa
daerah dan asing
2
Kurang: pelafalan fonem tidak jelas,
terpengaruh pelafalan dari bahasa
daerah dan asing
1
4. Intonasi Sangat tinggi : apabila terdapat
pembicaraan dengan intonasi bervariasi,
tidak monoton, penempatan intonasinya
5
34
tepat sehingga pendengar sedemikian
rupa tertarik pada gaya berbicaranya
Tinggi: apabila penerapan intonasi
bervariasi, tidak monoton, penempatan
intonasi kurang tepat
4
Kurang tinggi: apabila penerapan
intonasi bervariasi, nada suara monoton,
penempatan intonasi kurang tepat
3
Sedang: apabila penerapan intonasi
kurang bervariasi, nada suaranya
monoton, penempatan intonasi tidak
tepat sehingga gaya bicaranya agak
membosankan pendengar
2
Rendah: apabila intonasinya monoton,
nada suara monoton, sehingga
membosankan pendengar
1
5. Nonkebahas
aan
Sikap yang
wajar,
Tenang dan
tidak kaku
Sangat tinggi: Apabila pembicara
bersikap wajar, tidak aneh-aneh, tenang
dan tidak kaku.
5
Tinggi: Apabila pembicara bersikap
wajar, tidak aneh-aneh, tenang dan
sedikit kaku.
4
Kurang tinggi: Apabila pembicara
bersikap kurang wajar, kurang tenang
dan sedikit kaku.
3
Sedang: apabila salah satu sikap dari
ketiga sikap tersebut (wajar, tenang, tidak
kaku) tampak jelas dilakukan pembicara.
2
Rendah: apabila ketiga sikap tersebut
(wajar, tenang, dan tidak kaku) sama
sekali tidak tampak pada diri pembicara,
1
35
sehingga proses pembicaranya tidak
lancar
6. Penguasan
medan
Sangat tinggi: apabila pandangan
pembicara menyebar keseluruh penjuru
ruangan dan menguasai situasi
5
Tinggi: apabila pandangan pembicara
menyebar keseluruh penjuru ruangan dan
tetapi kurang menguasai situasi
4
Kurang tinggi: apabila pandangan
pembicara kurang menyebar keseluruh
ruangan dan kurang menguasai situasi
3
Sedang: apabila pandangan pembicara
kurang menyebar keseluruh ruangan dan
tidak menguasai situasi
2
Rendah: apabila pandangan tertuju pada
satu arah saja, sehingga yang lain tidak
diperhatikan dan kurang dapat menguasai
medan.
1
7. Penguasan
materi
Sangat tinggi: topik dan uraian sesuai,
mendalam, mudah dipahami, dan
informasi yang disampaikan lengkap
5
Tinggi: topik dan uraian sesuai, kurang
mendalam, cukup mudah dipahami, dan
informasi yang disampaikan cukup
lengkap
4
Kurang tinggi: topik dan uraian kurang
sesuai, kurang mendalam, cukup mudah
dipahami, dan informasi yang
disampaikan kurang lengkap
3
Sedang: topik dan uraian kurang sesuai,
tidak mendalam, sulit dipahami, dan
2
36
informasi yang disampaikan tidak
lengkap.
Rendah : topik dan uraian tidak sesuai,
tidak mendalam, sulit dipahami, dan
informasi yang disampaikan tidak
lengkap.
1
8. Gerak-gerik
dan mimik
Sangat tinggi: apabila gerak gerik
anggota badan mendukukng
pembicaraan dan mimik pembicara
sesuai dengan informasi yang
disampaikan
5
Tinggi: apabila gerak gerik anggota
badan mendukung pembicaraan dan
mimik pembicara kurang sesuai dengan
informasi yang disampaikan
4
Kurang tinggi: apabila gerak gerik
anggota badan kurang mendukung
pembicaraan dan mimik pembicara
kurang sesuai dengan informasi yang
disampaikan
3
Sedang: apabila gerak gerik anggota
badan tidak mendukukng pembicaraan
dan mimik pembicara kurang sesuai
dengan informasi yang disampaikan
2
Kurang: apabila sama sekali tidak
terdapat gerak gerik anggota badan dan
mimik yang mendukukng pembicaraan
1
9. Penalaran Sangat tinggi:apabila sangat sistematis,
atau sama sekali tidak berbelit-belit
5
37
Tinggi: apabila sistematis, atau sedikit
sekali berbelit-belit
4
Kurang tinggi: apabila kurang
sistematis, atau cukup banyak berbelitbelit
3
Sedang: apabila kurang sistematis, atau
banyak sekali berbelit-belit
2
Kurang: apabila sangat tidak sistematis,
atau sama sekali berbelit-belit
1
10. Pengarahan
opini
Sangat tinggi: apabila pembicara secara
jelas menggiring opini pendengar
dengan menggunakan kalimat-kalimat
yang bersifat membujuk atau mengajak.
Ajakan tersebut terlihat sangat
meyakinkan
5
Tinggi: apabila pembicara menggiring
opini pendengar dengan menggunakan
kalimat-kalimat yang bersifat
membujuk atau mengajak. Ajakan
tersebut terlihat cukup meyakinkan
4
Kurang tinggi: apabila pembicara
menggiring opini pendengar dengan
menggunakan kalimat-kalimat yang
bersifat membujuk atau mengajak.
Ajakan tersebut terlihat kurang
meyakinkan
3
Sedang: apabila pembicara menggiring
opini pendengar dengan menggunakan
sedikit kalimat-kalimat yang bersifat
membujuk atau mengajak. Ajakan
2
38
tersebut terlihat kurang meyakinkan
Kurang: apabila pembicara menggiring
opini pendengar dengan menggunakan
sedikit sekali kalimat-kalimat yang
bersifat membujuk atau mengajak.
Ajakan tersebut terlihat tidak
meyakinkan
1
Lembar penilaian dalam Tabel 1 akan digunakan oleh peneliti sebagai instrumen
penilaian keterampilan berpidato yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan
berpidato persuasi siswa baik sebelum tindakan maupun sesudah diberikan tindakan.
Pengamatan permainan kelompok menggunakan penilaian seperti pada
penilaian diskusi kelompok yaitu dengan menggunakan penilaian yang dikembangkan
berdasarkan pendapat Solihatin (2007: 84) yang telah dimodifikasi. Komponen
pengamatan terhadap permainan kelompok adalah.
Tabel 3: Pengamatan Permainan Kelompok
No. Aspek yang Diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama)
2 Memotivasi anggota lain
3 Logika berpikir analitis, sintesis, dan kritis.
4 Inisiatif kerja dalam kelompok
5 Keaktifan
39
Keterangan :
4 : Keterampilan sangat baik
3 : Keterampilan baik
2 : Keterampilan cukup baik
1 : Keterampilan kurang baik
G. Validitas dan Reliabilitas Data
1. Validitas
Menurut Burn (Madya, 2009:37-38), dalam penelitian tindakan kelas terdapat
lima jenis validitas. Kelima validitas tersebut adalah validitas demokratik, validitas
hasil, validitas proses, validitas katalik, dan validitas dialogis. Adapun dalam penelitian
ini hanya menggunakan tiga validitas yaitu: validitas demokratik validitas proses, dan
validitas hasil.
a. Validitas Demokratik
Vailiditas demokratik ini digunakan untuk mengetahui kekolaboratifan
penelitian dan pencakupan berbagai pendapat dari pemangku kepentingan. Penelitian ini
merupakan penelitian kolaboratif antara peneliti dengan guru bahasa Indonesia SMK
Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta yang dalam hal ini adalah Dra. Endang
Sripurwanti.
b. Validitas Proses
Validitas proses diterapkan dalam penelitian ini untuk mengukur
keterpercayaan proses pelaksanaan penelitian dari semua peserta penelitian. Dalam
40
penelitian ini, melalui penulisan, peneliti menunjukkan keseluruhan kegiatan
pembelajaran dari awal sampai akhir kegiatan. Selama pelaksanaan kegiatan
pembelajaran, Semua partisipan dalam penelitian ini yaitu peneliti, siswa, dan guru
selalu melaksanakan kegiatan pembelajaran selama proses penelitian sehingga data yang
dicatat diperoleh berdasarkan gejala yang ditangkap dari siswa kelas XI PM2 SMK
Negeri I Depok, Sleman Yogyakarta.
c. Validitas Hasil
Validitas hasil sangat bergantung pada validitas proses. Pada tahap refleksi
tindakan pertama, baik secara proses maupun produk, muncul permasalahan baru yang
menyebabkan pembelajaran kurang berhasil. Dari permasalahn tersebut, maka
diterapkan pemecahan masalah pada pemberian tindakan berikutnya sebagai upaya
perbaikan bertahap agar hasil pembelajaran di kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok,
Sleman Yogyakarta dapat berhasil sesuai tujuan.
2. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan cara untuk mengetahui sejauh mana data yang
dikumpulkan reliable adalah dengan mempercayai penilaian peneliti itu sendiri (Madya,
2009:45). Reliabilitas dalam penelitian tindakan ini diwujudkan dengan penyajian data
asli penelitian, meliputi transkrip wawancara, angket, catatan lapangan, rekaman foto
penelitian, dan lembar penilaian keterampilan berpidato persuasi.
41
H. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik
ini digunakan dalam rangka mendeskripsikan keterampilan berpidato siswa sebelum dan
sesudah mendapat tindakan. Teknik ini dibagi dua, yaitu analisis proses dan analisis
produk. Data proses dikumpulkan pada saat pembelajaran keterampilan bepidato
persuasi melalui metode Twenty Questions. Data produk dikumpulkan dari penilaian
tugas berpidato. Keberhasilan produk dapat dilihat dari tes berpidato.
I. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Indikator keberhasilan dapat ditentukan berdasarkan proses dan produk.
Pembelajaran berpidato persuasi secara proses dikatakan berhasil apabila siswa aktif,
tampil percaya diri, dan memiliki semangat dalam pembelajaran berpidato persuasi.
Analisis tersebut dilakukan dengan cara mendeskripsikan hal-hal yang terjadi selama
proses tindakan dilakukan, sedangkan indikator keberhasilan produk dapat dikatakan
berhasil apabila 75 % siswa sudah mencapai skor ≥ 40.
42
BAB 1V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan ditampilkan hasil penelitian tindakan kelas yang sesuai dengan
rumusan masalah yang diajukan. Hasil penelitian dideskripsikan secara rinci dari
perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil keterampilan berpidato persuasi siswa mulai dari prasiklus sampai akhir
siklus II akan disajikan dalam hasil penelitian ini. Sebelum dideskripsikan hasil
penelitian dan pembahasannya, sebagai data lengkap proses penelitian, terlebih dahulu
dideskripsikan keterampilan berpidato persuasi siswa sebelum implementasi tindakan
yang diperoleh dari pratindakan. Adapun Uraian yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Deskripsi Awal Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
Keterampilan awal berpidato persuasi siswa dapat dilihat dari hasil tes sebelum
dikenai tindakan. Dari hasil pretes, peneliti menghitung skor rata-rata setiap aspek,
kemudian nilai rata-rata tersebut dikategorikan. Berikut ini disajikan hasil pretes
keterampilan berpidato persuasi siswa sebelum dikenai implementasi tindakan.
43
Tabel 4: Skor Pretes Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
Kode
Aspek yang Dinilai Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor
S1 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32
S2 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 32
S3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S4 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 28
S5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S6 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 26
S7 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S8 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 27
S9 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 29
S10 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 27
S11 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 28
S12 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S13 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
S14 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 29
S15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S16 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 32
S17 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
S18 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 27
S19 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 28
S20 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 28
S21 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S22 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 30
S23 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 28
S24 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S25 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S26 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S27 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S28 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S29 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S30 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S31 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 27
S32 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S33 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S34 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
Jumlah 101 104 100 101 100 98 101 99 88 89 981
Rata-rata 2.97 3.06 2.94 2.97 2.94 2.88 2.97 2.91 2.59 2.62 28.85
44
Berikut ini skor rata-rata kelas keterampilan berpidato persuasi siswa dan dikategorikan.
Tabel 5: Skor Rata-rata Kelas Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa pada Tahap
Pretes.
No. Aspek Jumlah Skor Skor rata-rata Kategori
1. Pilihan kata 101 2,97 S
2. Struktur 104 3,06 KT
3. Pelafalan 100 2,94 S
4. Intonasi 101 2,97 S
5. Sikap yang wajar,
tenang dan tidak kaku
100 2,94 S
6. Penguasaan medan 98 2,88 S
7. Penguasaan materi 101 2,97 S
8. Gerak-gerik dan mimik 99 2,91 S
9. Penalaran 88 2,59 S
10. Kemampuan
megarahkan opini
89 2,65 S
Keterangan:
ST : Sangat tinggi dengan skor rata-rata kelas 5,00
T :Tinggi dengan skor rata-rata kelas 4,00
KT : Kurang Tinggi dengan skor rata-rata 3,00
S :Sedang dengan skor rata-rata 2,00
K :Kurang dengan skor rata-rata 1,00
Berikut akan dideskripsikan kemampuan berpidato persuasi siswa setiap aspek
sebelum dikenai impelmentasi tindakan
45
a. Aspek Pilihan Kata
Penilaian pada aspek pilihan kata meliputi ketepatan penggunaan kata, katakata
yang digunakan mendukung atau tidak dengan gagasan utama dan juga pemilihan
kata yang sama sekali tidak terpengaruh unsur kedaerahan. Dari penilaian pratindakan,
skor siswa pada aspek ini mencapai 2,97, skor rata-rata ini termasuk dalam katagori
sedang. Ketika praktik berpidato, sebagian besar siswa menggunakan kata-kata yang
kurang mendukung gagasan, serta masih terpengaruh dengan kosakata bahasa Jawa.
Dengan demikian, aspek pilihan kata perlu ditingkatkan lagi.
b. Aspek Struktur
Penilaian pada aspek ini meliputi penyusunan kata, frasa, hingga kalimat. Skor
rata-rata pada aspek ini dapat dikatakan kurang tinggi, yaitu memperoleh 3,06. Beberapa
siswa dalam menyusun struktur frase dan kalimat masih terdapat kesalahan, sehingga
kalimat yang disampaikan tidak jelas. Hal tersebut membuat audien kesulitan dalam
menangkap maksud yang diinginkan pembicara. Kondisi yang mendukung terdapat
dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 1 berikut ini.
Pratindakan
Novia dan Rika Apriyani mengulangi struktur kata yang salah. Rika
mengatakan”Straberinya enaknaya”, sedangkan Novia mengatakan” Mereah ada yang
berwarna Jambu biji”
CL.PP.9-3-2011
c. Aspek Pelafalan
Penilaian pada aspek ini didasarkan pada pelafalan fonem. Pelafalan juga
dipengaruhi oleh tingkat volume suara pembicara. Apabila volume yang digunakan
46
sesuai dengan proporsi yang seimbang, maka akan membuat pendengar merasa nyaman
dan juga dengan mudah dapat menangkap informasi yang disampaikan. Pada tahap
pratindakan, sebagian siswa cukup pelan dalam berpidato, beberapa siswa dalam
melafalkan juga tampak kurang tepat; sama seperti ketika melafalkan kata pada aktivitas
sehari-hari. Pada aspek pilhan kata, skor rata-rata yang dicapai siswa mencapai 2,94.
Skor ini termasuk dalam katagori sedang, shingga perlu ditingkatkan lagi.
d. Aspek Intonasi
Penggunaan intonasi yang tepat, bervariasi, dan tidak monoton menjadikan
pendengar akan tertarik. Hal tersebut belum sepenuhnya dilakukan oleh siswa-siswa
kelas XI PM2, masih ada siswa yang menggunakan intonasi secara mendatar, hal ini
membuat suasana kelas menjadi hambar, dan pendengarpun merasa bosan. Berdasarkan
penilaian ketika mereka praktik berpidato, skor yang didapatkan adalah 2,97. Pada aspek
ini, siswa masih dalam kategori sedang, sehingga penting untuk ditingkatkan lagi.
Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar
dalam vignette 2 berikut ini.
Pratindakan
…dia tampak gerogi, intonasinya monoton sehingga terkesan membosankan
CL.PP.2-3.-2011
e. Aspek Sikap yang Wajar, Tenang dan Tidak Kaku
Pembawaan sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku mengakibatkan pendengar
seolah terbawa oleh suasana yang menyenangkan. Pembawaan tersebut juga
mempengaruhi tingkat perhatian pendengar terhadap pembicara. Bila aspek ini dikaitkan
47
dengan keadaan siswa ketika praktik berpidato persuasi, maka dapat dikatakan bahwa
sebagian besar siswa masih tampak tidak tenang, tidak percaya diri, gerogi, dan kaku.
Selain itu, siswa juga masih sering melihat teman sebangkunya saja serta sering melihat
ke bawah (lantai) merupakan kebiasaan yang banyak dilakukan oleh mereka. Siswa pada
aspek ini termasuk dalam kategori sedang dengan skor rata-rata 2,94. Kondisi yang
mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 3
berikut ini.
Pratindakan
… Khotim Wijaya, ketika berpidato persuasi di depan, Ia menggenngam telapak
tangannya sendiri dan sering meoleh ke arah samping, padahal posisi pendengar
berada di depan.
CL.PP. 2-3-2011
f. Aspek Penguasan Medan
Aspek penguasaan medan ini terkait dengan pandangan mata pembicara. Pada
pratindakan, kebanyakan siswa ketika berpidato persuasi, pandangan matanya kurang
terarah(pandangan pembicara terlihat tidak menyebar keseluruh ruangan), dan tidak
dapat mengatasi situasi. Siswa sering melihat dinding belakang, ventilasi dan teman
sebangkunya. Skor yang didapat pada aspek ini adalah 2,88. Skor tersebut termasuk
dalam kategori sedang.
g. Penguasaan Materi
Penguasan materi merupakan faktor penting dalam berpidato, karena bila
pembicara menguasai meteri yang disampaikan maka, akan dengan mudah pendengar
dapat memahami informasi yang disampaikan. Penguasaan materi sangat mempengaruhi
48
keberanian dan kelancaran berpidato. Skor rata-rata pada aspek ini mencapai 2,97,
dengan demikian pada aspek penguasaan materi perlu ditingkatkan lagi. Skor tersebut
menunjukkan bahwa aspek ini termasuk dalam kategori sedang. Kondisi yang
mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 4
berikut ini.
Pratindakan
Terdapat 16 siswa ketika berpidato lupa dengan kata-kata yang hendak
diucapkan.
CL.PP. 9-3-2011
h. Gerak-gerik dan Mimik
Gerak-gerik dan mimik dapat membantu pendengar dalam memahami apa yang
disampaikan pembicara. Sebagian besar siswa tidak mendemonstrasikan kata-kata
tertentu dalam bentuk gerak-gerik dan ekspresi wajah yang sesuai. Pada aspek gerakgerik
dan mimik, sebagian besar siswa harus berupaya lebih lagi agar dapat menguasai
sesuai dengan yang diharapkan. Perolehan skor rata-rata siswa adalah 2,91. Skor
tersebut termasuk dalam kategori sedang.
i. Penalaran
Penilaian pada aspek penalaran meliputi apabila pembicara dalam
menyampaikan pidatonya sangat sistematis, atau sama sekali tidak berbelit-belit. skor
rata-rata yang diperoleh siswa adalah 2,59. Skor ini termasuk dalam kategori sedang.
Ketika siswa praktik berpidato persuasi, kebanyakan siswa menyampaikan informasi
49
kurang sistematis dan berbelit-belit. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran
catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 5 berikut ini.
Pratindakan
…dari hal itu pula, mereka terlihat menyampaikan meteri pidato persuasi kurang
sistematis dan berbelit-belit
CL.PP.9-3-2011
j. Pengarahan Opini
Penilaian pada aspek pengarahan opini berkaitan dengan kemampuan
pembicara menggiring opini pendengar dengan menggunakan kalimat-kalimat yang
bersifat membujuk. Pada aspek ini, terdapat satu siswa yang terjebak dalam pidato
deskripsi. Kalimat-kalimat yang bersifat ajakan juga sangat sedikit sekali digunakan
oleh para siswa. Hal demikian ini mengakibatkan pembicara belum bisa menggiring atau
mempengaruhi keyakinan pendengar. Adapun skor yang diperolah siswa adalah 2,65.
Skor rata-rata tersebut termasuk dalam kategori sedang. Kondisi yang mendukung
terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 6 berikut ini.
Pratindakan
….Desi Ambarwati hanya mendeskripsikan gagasan saja, tanpa ada upaya
mempengaruhi/membujuk pendengar.
CL.PP. 2-3-2011
50
2. Pelaksanaan Tindakan Kelas dengan Metode Twenty Questions dalam
Berpidato Persuasi
a. Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus I
1) Perencanaan
Setelah pelaksanaan tes pratindakan, peneliti bersama kolaborator berdiskusi
dan berkoordinasi untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus I.
Perencanaan penelitian ini bertujuan merencanakan pelaksanaan tindakan untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi. Perencanaan ini disusun atas
kesepakatan bersama antara peneliti dan guru bahasa Indonesia selaku kolaborator.
Adapun rencana penelitian tindakan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah
sebagai berikut.
a) Peneliti dan kolaborator menyamakan persepsi terkait dengan permasalahan yang
muncul dalam pembelajaran berpidato persuasi.
b) Peneliti dan kolaborator menentukan metode yang tepat untuk meningkatkan
keterampilan berpidato persuasi siswa, yaitu dengan menggunakan metode
Twenty Questions.
c) Setelah ditentukan metode yang tepat, peneliti dan kolaborator merencanakan
pelaksanaan metode Twenty Questions.
d) Peneliti dan kolaborator menyiapkan tema permainan Twenty Questions.
e) Menentukan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran berpidato persuasi
melalui metode Twenty Questions.
f) Menyiapkan bahan pembelajaran dan instrumen yang berupa lembar pengamatan,
lembar penilaian keterampilan berpidato persuasi catatan lapangan, dan alat51
dokumentasi.
g) Menentukan waktu pelaksanaan tindakan yaitu dua kali pertemuan dalam satu
siklus (4x45 menit).
2) Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan melalui metode Twenty Questions diharapkan dapat
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I
Depok, Sleman, Yogyakarta. Dalam pelaksanaan tindakan ini, dilakukan dua kali
pertemuan (4 x 45 menit).
a) Pertemuan Pertama (Rabu, 16 Maret 2011)
Pada pertemuan pertama siklus satu, guru mengawali pembelajaran dengan
menyampaikan kembali Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai
siswa. Setelah itu, menjelaskan pengertian metode Twenty Questions serta prosedur
pelaksanaannya. Disamping guru menjelaskan materi, Ia juga memotivasi siswa agar
tampil percaya diri ketika berpidato di depan kelas. Siswa pada tahap ini diberi
kesempatan bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang dianggapnya belum jelas.
Setelah tidak ada siswa yang bertanya, guru kemudian menjelaskan aspek-aspek yang
dapat membantu kelancaran berpidato persuasi, baik kebahasaan dan non kebahasaan.
Kemudian, guru membagi kelas menjadi enam kelompok, pembagian kelompok
dilakukan dengan cara hitungan setiap siswa.
Selanjutnya setiap dua kelompok diminta berhadap-hadapan (kelompok satu
melawan kelompok dua, kelompokk tiga melawan kelompok empat, dan kelompok lima
melawan kelompok enam), guru memberikan tema permainan berupa buah-buahan,
52
barang-barang elektronik, dan hewan yang dapat dikonsumsi manusia, tema permainan
tersebut juga nantinya dijadikan sebagai tema berpidato persuasi. Setelah itu, masingmasing
kelompok bermusyawarah untuk menyembunyikan satu kata yang akan
dijadikan sebagai bahan tebak-tebakan. Kelompok satu, tiga dan lima mendapat
kesempatan pertama sebagai kelompok yang bertugas menyembunyikan kata, sedangkan
kelompok dua, empat, dan enam bertugas sebagai penerka dan penjawab.
Siswa secara kelompok berdiskusi, mengeksplor gagasan mengenai kata yang
disembunyikan. Guru sebagai kolaborator aktif membimbing siswa, memberikan
motivasi kepada siswa, sementara itu peneliti bertindak sebagai pengamat. Masingmasing
kelompok terlihat berdiskusi, saling memotivasi, berikut pula ada yang bertugas
sebgai pencatat kalimat-kalimat hasil terkaan sampai menemukan jawaban yang benar,
peneliti mengamati jalannya permainan.
Permainan berlangsung selama 20 menit. Permainan selesai, masing-masing
siswa diminta membuat naskah pidato persuasi sesuai dengan permainan yang telah
dilakukan. Dalam hal ini, siswa membuat naskah pidato persuasi berdasarkan pada
kalimat-kalimat hasil terkaan selama berlangsungnya permainan, guru bertugas memberi
arahan dan membimbing para siswa untuk menemukan gagasan yang sesuai dengan
kata-kata hasil tebakan. Setelah itu, guru meminta siswa praktik berpidato persuasi di
depan kelas. Guru menunjuk secara acak siswa yang akan maju berpidato persuasi di
depan kelas. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar semua siswa siap untuk berpidato
persuasi. Awalnya para siswa menolak, sebagian besar mereka protes dengan perintah
guru tersebut, tetapi kemudian guru dengan sabar memberi penjelasan, akhirnya mereka
53
mengikuti perintah guru. Kemudian disisa waktu pelajaran hanya 10 orang siswa yang
tampil di depan karena jam pelajaran telah selesai. Adapun praktik dilanjutkan pada
pertemuan berikutnya. Pelajaran ditutup dengan salam.
b) Pertemuan Kedua (Rabu, 23 Maret 2011)
Pada pertemuan kedua ini guru kembali mengarahkan dan membimbing para
siswa agar memperhatikan aspek-aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Guru meminta
siswa mencermati kembali naskah yang telah dibuat dan memberikan waktu lima menit
untuk persiapan sebelum praktik di depan kelas. Masing-masing siswa diberi waktu lima
menit untuk berpidato persuasi dengan mengunakan metode Twenty Questions.
Guru tetap menunjuk secara acak siswa yang akan maju berpidato persuasi di
depan kelas. Satu-persatu mereka berpidato sesuai dengan tema yang diberikan. Guru
juga memberikan motivasi pada setiap siswa yang maju berpidato agar mereka lebih
semangat dan percaya diri.
3) Pengamatan
Setelah dilakukan pelaksanaan tindakan dengan metode Twenty Questions,
peneliti bersama kolaborator melakukan pengamatan secara cermat terhadap tindakan
yang telah dilakukan pada siklus I. Hasil pengamatan meliputi dua bagian, yaitu
pengamatan proses dan pengamatan produk. Pengamatan secara proses meliputi
aktivitas siswa selaku subjek penelitian dalam pelaksanaan berpidato persuasi dengan
menggunakan metode Twenty Questions, respon siswa terhadap pembelajaran, dan
situasi yang tergambar ketika pembelajaran sedang berlangsung. Pengamatan secara
produk berupa skor yang diperoleh siswa dari hasil berpidato persuasi di depan kelas.
54
a) Pengamatan Proses
Hasil pengamatan peneliti bersama kolaborator menunjukkan bahwa
pelaksanaan tindakan pada siklus I cukup berjalan sesuai dengan rencana awal. Peneliti
mengamati semua proses pembelajaran dari awal hingga akhir; guru menjelaskan aspek
kebahasaan dan non kebahasaan, aktivitas siswa ketika proses pembelajaran
berlangsung, dan ketika siswa praktik berpidato persuasi dengan menggunakan metode
Twenty Questions. Selama proses pembelajaran, siswa memperhatikan dengan baik
terhadap apa yang disampaikan oleh guru, sebagian siswa yang sebelumnya kurang
percaya diri ketika tampil di depan, dan gerogi ketika berpidato persuasi, setelah dikenai
tindakan, mereka lebih berani tampil percaya diri. Rasa percaya diri ini sudah mulai
tertanam dari dalam diri siswa (meskipun belum semuanya), siswa juga tidak egois dan
tidak segan lagi untuk memotivasi temannya baik ketika di dalam kelompok maupun
ketika mereka akan maju untuk praktik berpidato persuasi di depan kelas.
Hasil pemantauan yang juga menunjukkan adanya perubahan perilaku ditandai
dengan perilaku siswa yang awalnya ragu-ragu dalam menyampaikan gagasannya,
setelah diberi siklus I akhirnya mereka mampu tampil berpidato dengan cukup baik,
meskipun dalam beberapa aspek masih ada yang lebih diperbaiki lagi. Selain itu, peran
guru juga menentukan dalam proses keberhasilan siswa ketika belajar di dalam kelas,
menurut pengamatan peneliti, guru dapat melakukan tugasnya dengan baik;
mengarahkan siswa, mengendalikan kelas agar tetap kondusif serta memotivasi siswa
agar mereka tampil secara maksimal. Ketika pembelajaran berlangsung, guru selalu
memberi kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan hal-hal yang masih belum
55
dipahami dan dirasa masih sulit. Berikut ini data hasil pengamatan permainan kelompok
siklus I.
Tabel 6: Pengamatan Permainan Kelompok Siklus I
No Aspek yang Diamati Kelompok
1 2 3 4 5 6
1 Kekompakan (saling bekerja
sama)
3 2 2 3 2 2
2 Memotivasi anggota lain 2 2 2 2 2 2
3 Logika berpikir analitis, sintesis,
dan kritis.
3 2 3 3 2 3
4 Inisiatif kerja dalam kelompok 2 3 3 3 2 2
5 Keaktifan 3 3 3 3 3 3
Keterangan :
4 : Keterampilan sangat baik
3 : Keterampilan baik
2 : Keterampilan cukup baik
1 : Keterampilan kurang baik
Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa jika dibandingkan dengan sebelum
dikenai tindakan, pada siklus I terjadi peningkatan yang cukup baik. Aspek yang perlu
ditingkatkan lagi adalah aspek memotivasi anggota lain dalam satu kelompok, keenam
kelompok sama-sama termasuk dalam kategori cukup baik. Pada saat berdiskusi, setiap
individu disetiap kelompok cenderung berpikir sendiri, sehingga aktivitas memotivasi
teman satu kelompok menjadi terabaikan. Aspek kekompakan mendapatkan skor
sebesar 3 untuk kelompok 1 dan 4, sedangkan kelompok 2,3, 5, dan 6 mendapatkan skor
56
2, anggota dari keempat kelompok tersebut terlihat banyak yang diam dan malu-malu
untuk berbicara.
Aspek Logika berpikir analitis, sintesis, dan kritis yang memperoleh skor cukup
baik adalah kelompok 2 dan 5, dua kelompok ini, beberapa anggota kelompok masih
cukup kebingungan sehingga mereka terlihat hanya mengikuti alur, sedangkan
kelompok yang lain mendapatkan skor baik karena logika berikir kritis, analitis dan
kreatif sudah terbangun. Hal ini dapat dilihat cukup detailnya mereka menganalisis kisikisi
atau prolog yang diberikan lawan. Aspek inilah yang mendorong siswa dapat tampil
percaya diri, sebab ketika mereka mampu menganalisis dengan baik, mereka akan
mudah menguasai materi sehingga dapat tampil percaya diri. Untuk aspek inisiatif kerja
dalam kelompok, yang memperoleh skor baik adalah kelompok 2, 3, dan 4, sedangkan
keopok yang lainnya mendaptkan skor 2 atau masuk dalam kategori cukup baik.
Kemudian aspek keaktifan, keenam kelopok memperoleh skor baik.
Selain peningkatan yang dicapai siswa pada siklus I, terdapat kekurangankekurangan
yang perlu diperbaiki lagi, adapun kekurangan yang dimaksud adalah masih
ada siswa ketika berpidato persuasi terlihat monoton atau kaku, sebagian siswa saat
berpidato pandangan matanya terfokus kepada teman sebangkunya, selain itu sebagian
siswa juga berhenti berbicara, mereka lupa terhadap kata-kata yang akan diucapkan,
terlihat berfikir terlalu lama, sehingga gagasan yang ingin disampaikan tidak
sepenuhnya dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini mengakibatkan sikap pendengar
yang kurang bisa menangkap maksud yang diinginkan pembicara.
57
b) Pengamatan Produk
Keberhasilan tindakan secara produk terlihat dari perolehan skor tes
keterampilan berpidato persuasi siswa siklus I. Pengamatan ini dilakukan pada saat
siswa praktik berpidato persuasi di depan kelas. Berdasarkan pengamatan dan evaluasi
peneliti bersama kolaborator dapat diketahui bahwa pada umumnya siswa dapat
berpidato persuasi dengan baik setelah menggunakan metode Twenty Questions. Adapun
perubahan hasil yang telah dicapai dalam pembelajaran berpidato persuasi dengan
menggunakan metode Twenty Questions ini adalah meningkatnya setiap aspek
keterampilan berpidato persuasi siswa dalam berpidato persuasi. Tabel dibawah ini
merupakan skor keterampilan berpidato persuasi siswa siklus I.
58
Tabel 7: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa Siklus I.
Kode
Aspek yang Dinilai Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor
S1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
S2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
S3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 34
S4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 32
S5 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 34
S6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S7 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S8 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S9 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 35
S10 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 32
S11 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 31
S12 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 34
S13
S14 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 31
S15 4 3 4 3 3 3 4 3 4 4 35
S16 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 38
S17 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 32
S18 3 4 4 3 3 2 3 2 3 3 30
S19 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S20 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S21 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S22
S23 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 35
S24 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S25 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 37
S26 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S27 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 37
S28 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S29 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 36
S30 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S31 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32
S32 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 36
S33 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 33
S34 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
Jumlah
115 111 104 103 102 106 105 110 106 106 1068
Rata-rata 3.59 3.47 3.25 3.22 3.19 3.31 3.28 3.44 3.31 3.31 33.38
59
Berikut ini skor rata-rata kelas keterampilan berpidato persuasi siswa dan dikategorikan.
Tabel 8: Peningkatan Skor Rata-rata Kelas Keterampilan Berpidato Persuasi dari
Pratindakan ke Siklus I
No. Aspek Skor rata-rata
pratindakan
Skor
ratarata
siklus I
Kategori Peningkatan
1. Pilihan kata 2,97 3,59 KT 0,62
2. Struktur 3,06 3,47 KT 0,41
3. Pelafalan 2,94 3,25 KT 0,31
4. Intonasi 2,97 3,22 KT 0,25
5. Sikap yang wajar,
tenang dan tidak
kaku
2,94 3,19 KT 0,25
6. Penguasaan medan 2,88 3,31 KT 0,43
7. Penguasaan materi 2,97 3,28 KT 0,31
8. Gerak-gerik dan
mimic
2,91 3,44 KT 0,53
9. Penalaran 2,59 3,31 KT 0,72
10. Kemampuan
megarahkan opini
2,65 3,31 KT 0,69
Rata-rata 28,85 33.38 4,53
Jumlah 981 1068 4,52
Gra
sikl
pra
Ad
ber
pal
Kem
kat
pen
0,4
afik berikut
lus I.
Gambar
Pratinda
Dari d
atindakan be
dapun pening
rpidato, mul
ling rendah,
mampuan m
ta mengalam
ningkatan se
43, (6) aspek
1
1
2
2
3
3
Jumlah Skor
merupakan p
II: Grafik
kan ke Siklu
data Tabel 7
rjumlah 981
gkatan terse
lai dari aspe
yaitu (1)
megarahkan o
mi peningkata
ebesar 0,53,
k struktur m
0
5
10
15
20
25
30
35
Pra
peningkatan
Peningkata
us I.
dan Grafik t
1, kemudian
ebut terjadi
ek yang me
aspek pena
opini menga
an sebesar 0
(5) aspek pe
mengalami pe
asiklus
28.85
n keterampila
an Keteramp
tersebut men
skor menin
pada setiap
engalami pen
laran meng
alami pening
0,62, (4) asp
enguasaan m
eningkatan s
Siklus
33
an berpidato
pilan Berpid
nunjukkan b
ngkat lagi m
p aspek. Pad
ningkatan p
alami penin
gkatan sebes
ek gerak-ge
medan menga
sebesar 0,41
s 1
.38
o siswa dari p
dato Persua
bahwa perole
enjadi 1068
da setiap as
paling tinggi
ngkatan sebe
sar 0,69, (3)
rik dan mim
alami pening
1, (7) aspek
Pr
Sik
pratindakan
asi Siswa d
ehan skor pa
pada siklus
spek penilai
i sampai ya
esar 0,72, (
) aspek pilih
mik mengalam
gkatan sebes
pelafalan d
asiklus
klus I
60
ke
ari
ada
s I.
ian
ang
2)
han
mi
sar
dan
61
penguasaan materi sama-sama mengalami peningkatan sebesar 0,31, (8) aspek intonasi
dan aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku sama-sama mengalami peningkatan
sebesar 0,25.
a. Aspek Pilihan Kata
Aspek pilihan kata terkait dengan katepatan penggunaan kata, kata-kata yang
digunakan mendukung atau tidak dengan gagasan utama dan juga pemilihan kata yang
sama sekali tidak terpengaruh unsur kedaerahan. Apabila dibandingkan dengan tahap
pratindakan, pemakaian kosakata daerah pada siklus I ini sudah mulai berkurang,
namun, beberapa siswa masih menggunakan kosakata bahasa Jawa. Kata-kata yang
digunakan juga mendukung dengan gagasan utama. Peningkatan skor rata-rata kelas
pada aspek pilihan kata sebesar 0,62, pada pratindakan skor rata-rata 2,97 sedangkan
pada siklus I meningkat menjadi 3,59. Kondisi yang mendukung terdapat dalam
lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 7 berikut ini.
Tindakan I
Mar’atus Sholihah masih terpengaruh dengan kosakata bahasa Jawa. Ketika
berpidato persuasi, ia lupa dengan kata-kata yang hendak diucapkan, sehingga
dalam keadaan tersebut ia mengatakan “si’ dilit, apa ya, aduh ko’ lali”.
CL. PP. 23-3-2011
b. Aspek Struktur
Aspek ini meliputi penyusunan kata, frasa, hingga kalimat. Skor rata-rata pada
aspek ini mengalami peningkatan, yaitu memperoleh 3,06 pada pratindakan, setelah
dikenai tindakan pada siklus I, skor pada aspek struktur meningkat menjadi 3,47. Dari
62
perolehan skor tersebut dapat diketahui skor rata-rata kelas dari pratindakan hingga
siklus I mengalami peningkatan sebesar 0,41. Diantara kesepuluh aspek penilaian
berpidato persuasi, aspek struktur merupakan aspek yang paling banyak dikuasai siswa.
Peningkatan pada siklus I tersebut ditandai dengan pengunaan struktur frasa dan kalimat
pada saat berpidato persuasi siswa sudah baik, namun tetap perlu ditingkatkan.
Beberapa siswa yang pada saat pratindakan masih belum menguasai aspek tersebut, kini
pada siklus I, mereka terlihat lebih termotivasi untuk dapat memahaminya dengan baik,
hal itu terjadi karena mereka melihat sebagian besar teman-temannya sudah dapat
menguasai aspek strukutur. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan
lapangan yang tergambar dalam vignette 8 berikut ini.
Tindakan I
Rika dan Novia tidak lagi mengulangi kesalahan, mereka menggunakan strukutur
kata yang tepat.
CL.PP.23-3-2011
c. Aspek Pelafalan
Aspek ini didasarkan pada pelafalan fonem. Pelafalan juga dipengaruhi oleh
tingkat volume suara pembicara. Pada siklus I, beberapa siswa masih terpengaruh
dengan pelafalan daerah. Sedangkan volume yang digunakan pembicara cukup dapat
didengar dengan baik oleh pendengar, namun tidak semua siswa demikian. Peningkatan
pada aspek ini ditunjukkan pada Tabel 7 yaitu dari 2,94 menjadi 3,25 terjadi
peningkatan sebesar 0,31. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan
lapangan yang tergambar dalam vignette 9 berikut ini.
63
Tindakan I
Wuri Rejeki menggunakan volume suara pelan. Hal ini membuat pendengar yang
tempat duduknya dibelakang sampai-sampai mengeryitkan kening,
…ketika Kartika melafalkan kata jeruk, huruf konsonan /K/ tidak dibaca,
sehingga berbunyi “jeru’ ”.
CL.PP. 23-3-2011
d. Aspek Intonasi
Aspek intonasi terkait dengan apabila menggunakan intonasi bervariasi, tidak
monoton, penempatan intonasinya tepat sehingga pendengar sedemikian rupa tertarik
pada gaya berbicaranya. Pada siklus penggunakan intonasi secara mendatar oleh siswa
sudah mulai berkurang, hal ini berdampak pada suasana kelas yang pada tahap
pratindakan terasa hambar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Peningkatan
skor rata-rata kelas pada aspek pilihan intonasi sebesar 0,25, pada pratindakan skor ratarata
2,97 sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 3,22. Kondisi yang mendukung
terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 10 berikut ini.
Tindakan I
Pada siklus I, mayoritas siswa dapat menggunakan intonasi dengan baik, selama
praktik berpidato, siswa cukup antusias mendengarkan.
CL.PP.23-3-2011
64
e. Aspek Sikap yang Wajar, Tenang dan Tidak Kaku
Aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku berkaitan dengan apabila
pembicara bersikap wajar, tidak aneh-aneh, tenang dan tidak kaku. Berbeda dengan
pratindakan, pada siklus I ini siswa sudah mulai tampil percaya diri. Pada saat praktik
berpidato persuasi, sebagian besar siswa dapat bersikap wajar dan terlihat cukup lepas,
meskipun masih ada siswa yang terkadang menggaruk-garuk kepala. Perubahan tersebut
dipengaruhi oleh motivasi yang dilakukan guru kepada siswanya. Guru selalu
memotivasi siswanya ketika akan praktik berpidato persuasi, disamping itu, faktor
teman juga mempengaruhi kepercayaan diri siswa, karena pada siklus I ini para siswa
sudah mulai terbuka dalam arti saling perhatian dengan sesama teman. Sehingga pada
siklus I, mereka mulai terbiasa untuk saling memberi semangat. Adapun peningkatan
skor rata-rata kelas pada aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku sebesar 0,25,
pada pratindakan skor rata-rata 2,94 sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 3,19.
Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar
dalam vignette 11 berikut ini.
Tindakan I
Khotim, Marlina, Ana Perwitasari nampak masih malu-malu ketika
menyampaikan pidato, ketiganya terkadang tersenyum tanpa sebab, menggarukgaruk
kepala, memilin baju, tubuhnya hamper tak bergerak sama sekali (kaku)
CL. PP.23-3-2011
65
f. Aspek Penguasan Medan
Aspek penguasaan medan ini terkait dengan pandangan pembicara, aspek ini
juga berkaitan dengan keberanian, apabila siswa sudah berani berpidato di depan kelas
dengan penuh percaya diri, tidak malu dan tidak ragu-ragu maka siswa tersebut juga
tidak akan ragu-ragu lagi memandang audien secara menyeluruh. Pada aspek
penguasaan medan, sebagian besar siswa ketika berpidato persuasi sudah cukup terarah
namun kurang menyeluruh terhadap audien yang ada di depannya. Sebagian yang lain
terlihat masih malu untuk melihat pendengar yang dalam hal ini adalah temannya
sendiri, karena masih malu sehingga pandangan siswa tersebut sering melihat dinding
belakang, ventilasi dan teman sebangkunya. Peningkatan skor rata-rata pada aspek ini
sebesar 0,43, ini menunjukkan bahwa siswa sudah cukup mengarahkan pandangan
matanya kepada para pendengar atau audien. Siswa juga lebih berani tampil percaya di
depan dengan cukup percaya diri. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran
catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 12 berikut ini.
Tindakan I
Khotim, Marlina, Ana Perwitasari terlihat pandangan matanya kurang
menyeluruh. Ketiganya sama-sama sering melihat dinding belakang dan teman
sebangkunya.
CL.PP.23-3-2011
g. Penguasaan Materi
Penguasan materi berkaitan dengan topik dan uraian sesuai, mendalam, mudah
dipahami, dan informasi yang disampaikan lengkap. Pada siklus I ini siswa berpidato
66
persuasi dengan topik peralatan rumah tangga dan hewan yang dapat dikonsumsi
manusia. Dengan metode Twenty Questions, siswa dengan mudah dapat menguasai
topik yang dipilih, sebab di dalam metode tersebut siswa berlatih bagaimana cara
mengeksplor gagasan sesuai dengan tema melalui pertanyaan-pertanyaan yang dibuat
yang tentunya bersifat menguraikan secara detail tentang barang dagangan yang
dijadikan sebagai pilihan berpidato persuasi. Peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek
penguasaan materi sebesar 0,31, pada pratindakan skor rata-rata 2,97 sedangkan pada
siklus I meningkat menjadi 3,28. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran
catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 13 berikut ini.
Tindakan I
Semua siswa terlihat dapat menguasai materi dengan cukup baik, walaupun
dalam menyampaikan materi, sebagian diantaranya masih malu-malu dan kurang
mendalam. Materi dapat dikuasai dengan baik, terutama oleh Afelia Sindi dan
Airin,
CL.PP-23-3-2011
h. Gerak-gerik dan Mimik
Gerak-gerik dan mimik terkait dengan apabila gerak-gerik anggota badan
mendukung pembicaraan dan mimik pembicara sesuai dengan informasi yang
disampaikan. Pada siklus ini kebanyakan siswa sudah mendemonstrasikannya dalam
bentuk gerak-gerik dan ekspresi wajah yang sesuai dengan kata-kata atau informasi yang
disampaikan. Keberanian siswa dalam berekspresi dan kemahiran siswa dalam
menggunakan gerak-gerik anggota badan dapat mempengaruhi keberhasilan dalam
berpidato persuasi. Bila informasi yang disampaikan di dukung dengan penyampain
67
yang baik, maka pendengar pun akan semakin yakin terhadap informasi yang
disampaikan sekaligus dapat memahami informasi dengan baik. Peningkatan skor ratarata
kelas pada aspek ini sebesar 0,53, pada pratindakan skor rata-rata 2,91 sedangkan
pada siklus I meningkat menjadi 3,44. Kondisi yang mendukung terdapat dalam
lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 14 berikut ini.
Tindakan I
Walaupun sudah menguasai materi dengan cukup baik, Khotim belum
sepenuhnya mampu memanfaatkan gerak-gerik dan mimik untuk manarik
perhatian pendengar
CLL.PP.23-3-2011
i. Aspek Penalaran
Aspek penalaran terkait dengan apabila dalam menyampaikan informasi,
pembicara dapat menyampaikan secara sistematis, atau sama sekali tidak berbelit-belit,
fokus pada bahan pembicaraaan. Pada pratindakan kebanyakan siswa ketika
menyampaikan informasi kurang sistematis dan berbelit-belit, namun setelah dikenai
tindakan, penalaran siswa cukup meningkat. Para siswa sudah cukup sistematis dan
tidak berbelit-belit. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari metode yang digunakan.
Metode Twenty Questions memudahan siswa untuk dapat berpikir sistematis dan
analitis. Peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek ini sebesar 0,72. Peningkatan
tersebut merupakan peringkat tertinggi dari kesepuluh aspek penilaian berpidato
persuasi. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang
tergambar dalam vignette 15 berikut ini.
68
Tindakan I
Pada siklus 1 , para siswa sudah dapat menyampaikan pidato persuasi dengan
cukup sistematis.
CL.PP.23-3-2011
j. Pengarahan Opini
Aspek pengarahan opini berkaitan dengan kemampuan pembicara menggiring
opini pendengar dengan menggunakan kalimat-kalimat yang bersifat membujuk. Pada
siklus I, siswa tidak lagi terjebak pada pidato deskripsi, namun, ketika berpidato
persuasi, kalimat-kalimat yang bersifat ajakan masih sedikit sekali digunakan. Aspek
pengarahan opini mengalami peningkatan yang signifikn, hal ini dapat dilihat dari Tabel
5 di atas, adapun peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek ini sebesar 0,69, pada
pratindakan skor rata-rata 2,65 sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 3,31.
Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar
dalam vignette 16 berikut ini.
Tindakan I
… meskipun siswa dapat menyampaikan pidatonya secara sistematis, namun,
Khotim hanya menggunakan satu kalimat ajakan, yaitu “ mari beli semangka”,
setelah itu ia menutup pidatonya.
CL.PP.23-3-2011
Berdasarkah hasil deskripsi dari seluruh aspek tersebut dapat disimpulkan
bahwa kemampuan berpidato siswa mengalami peningkatan dari keadaan yang
sebelumnya (pratindakan) menuju kearah yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan dengan
69
terjadinya peningkatan pada setiap aspek. Keterampilan berpidato siswa yang
sebelumnya masuk dalam kategori sedang, dalam siklus I berubah menjadi kurang tinggi
dalam melakukan praktik berpidato persuasi.
4) Refleksi
Tahap yang dilakukan selanjutnya adalah tahap refleksi. Pada tahap refleksi
ini peneliti bersama kolaborator mendiskusikan kembali apa saja yang telah
dilaksanakan pada siklus I; guru dan kolaborator menganalisis hasil tindakan siklus I.
Adapun refleksi tersebut didasarkan pada pencapaian indikator keberhasilan penelitian.
Oleh karena itu, refleksi untuk siklus I dapat dilihat baik secara proses maupun secara
produk.
Secara proses, menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa, hal itu ditandai
dengan perilaku siswa yang awalnya pasif menjadi aktif, artinya suasana kelas setelah
dikenai tindakan tampak hidup hidup. Kondisi yang mendukung terdapat dalam
lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 17 berikut ini.
Tindakan 1
Secara umum pembelajaran pada tindakan I, terlihat lebih hidup, hal ini dapat dilihat
dari respon dan antusias belajar siswa. Sebagian besar mereka terlihat aktif
berpendapat, mengeluarkan gagasan.
CL.PP.23-3-2011
Aktivitas siswa yang terlihat bersemangat ketika mengikuti pembelajaran berpidato
persuasi dengan menggunakan metode Twenty Questions. Sebagian besar terlihat berani
mengeluarkan gagasannya ketika berdiskusi dikelompoknya, dari keberanian siswa
mengeluarkan gagasan, akhirnya secara tidak langsung, siswa dengan mudah dapat
70
mengeksplor gagasan secara lebih mendalam sehingga dengan mudah pula siswa dapat
menguasai materi. Selain dua hal tersebut, siswa juga mulai tampil dengan percaya diri.
Meskipun terjadi peningkatan, namun, peningkatan tersebut belum maksimal, oleh
sebab itu masih perlu ditingkatkan lagi. Adapun kekurangan-kekurangan yang terdapat
pada setiap aspek akan menjadi perbaikan untuk siklus selanjutnya.
Secara produk, peningkatan keterampilan berpidato siswa dapat dilihat dari tes
keterampilan berpidato persuasi. Peningkatan skor dapat dilihat dari skor rata-rata kelas
pratindakan ke siklus I yang meliputi peningkatan pada tiap-tiap aspeknya. Peningkatan
tersebut yaitu (1) aspek pilihan kata mengalami peningkatan sebesar 0,62, (2) aspek
struktur mengalami peningkatan sebesar 0,38, (3) aspek pelafalan mengalami
peningkatan sebesar 0,3, (4) aspek intonasi mengalami peningkatan sebesar 0,24, (5)
aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku mengalami peningkatan sebesar 0,24, (6)
aspek penguasaan medan mengalami peningkatan sebesar 0,41, (7) aspek penguasaan
materi mengalami peningkatan sebesar 0,29, (8) aspek gerak-gerik dan mimik
mengalami peningkatan sebesar 0,5, (9) aspek penalaran mengalami peningkatan
sebesar 0,7, dan (10) aspek mengarahkan opini mengalami peningkatan sebesar 0,67.
Hasil yang didapatkan dari siklus I baik secara proses maupun produk telah
menunjukkan peningkatan yang cukup baik walaupun masih ada kekurangan.
Kekurangan tersebut disebabkan karena ada beberapa kendala yang dihadapi selama
tindakan berlangsung. Adapun kendala yang ditemukan oleh peneliti dan kolaborator
adalah sebagai berikut:
71
a) Pemahaman siswa terkait dengan prosedur pelaksanaan metode Twenty Questions
masih kurang sesuai dengan petunjuk, beberapa siswa masih bingung tentang tata
urut pelaksanaan metode tersebut.
b) Pemberian tiga tema yang menjadi bahan berpidato persuasi kurang menarik
sehingga berpengaruh ketika praktik berpidato persuasi
c) Aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan,
dan aspek penguasaan materi perlu mendapatkan perhatian yang lebih untuk
ditingkatkan lagi.
Refleksi yang dilakukan baik secara proses maupun produk menunjukkan adanya
peningkatan dan kekurangan. Kekurangan atau kendala yang terjadi selama siklus I akan
menjadi dasar dari pelaksanaan siklus selanjutnya sehingga diharapkan pada siklus
berikutnya akan mengalami peningkatan secara signifikan.
b. Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus II
1) Perencanaan
Perencanaan tindakan siklus II ini bertujuan untuk meningkatkan aspek-aspek
yang dianggap kurang pada tahap siklus I. Aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek
intonasi dan aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek
pelafalan, dan aspek penguasaan materi. Selain itu, keenam aspek yang lainnya juga
perlu ditingkatkan, sebab indikator keberhasilan belum tercapai. Adapun rancangan
penelitian tindakan pada siklus II ini adalah sebagai berikut:
72
(1) Guru sebagai kolaborator menjelaskan kembali hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam berpidato persuasi terutama pada aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku,
aspek intonasi, aspek pelafalan, dan aspek penguasaan materi.
(2) Guru memberikan contoh berpidato persuasi yang baik sesuai dengan aspek-aspek
berpidato persuasi dengan menggunakan metode Twenty Questions.
(3) Guru memberikan tema buah-buahan pada permaianan Twenty Questions. Tema
tersbut didasarkan pada tingkat pengetahuan siswa serta kebiasaan siswa ketika praktik
menawarkan barang. Dengan penguasaan topik, diharapkan siswa mampu berpidato
persuasi dengan baik dan lancar.
(4) Menyiapkan instrumen meliputi lembar pengamatan, lembar penilaian
keterampilan berpidato persuasi, catatan lapangan, dan alat dokumentasi berupa kamera
digital.
(5) Menentukan waktu pelaksanaan tindakan yaitu dua kali pertemuan dalam satu
siklus.
2) Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini diharapkan dapat meningkatkan beberapa
aspek yang masih kurang pada siklus I baik secara proses maupun secara prouk.
Implementasi tindakan pada siklus kedua ini dilakukan dalam dua kali pertemuan.
Tindakan pada siklus II ini melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut
dideskripsikan sebagai berikut.
73
a) Pertemuan pertama (Rabu, 30 Maret 2011)
Pertemuan pertama siklus II digunakan guru untuk mengulas kembali kegiatan
yang telah dilakukan pada siklus I. Guru menjelaskan kembali mengenai proses
berpidato persuasi dengan menggunakan metode Twenty Questions dengan benar. Guru
juga mengingatkan kembali hal-hal yang perlu diperhatikan saat berpidato persuasi.
Dengan pemahaman yang mendalam diharapkan siswa dapat berpidato persuasi dengan
baik. Pertemuan pertama pada siklus II ini diawali dengan pemberian motivasi oleh guru
kepada siswanya, terutama terhadap siswa yang skornya masih rendah. Setelah guru
memotivasi siswa, guru lalu memberikan contoh berpidato persuasi, dalam memberikan
contoh, guru juga memberikan penjelasan mengenai aspek-aspek yang harus
diperhatikan oleh siswa terutama aspek yang belum dikuasai siswa (aspek intonasi dan
aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan, dan
aspek penguasaan materi) kemudian siswa membentuk kelompok sesuai dengan
kelompok masing-masing sama seperti pada pertemuan sebelumnya. Kemudian guru
menentukan tema”buah” sebagai bahan permainan kata. Setelah siswa dirasa cukup
memahami tema permainan, guru mempersilakan siswa untuk memulai permainan.
Peneliti dan guru sebagai kolaborator mengamati jalannya permaianan. Adapun rincian
tindakan dapat diuraikan sebagai berikut.
74
(1) Guru menjelaskan kembali hal-hal yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan
permaianan Twenty Questions.
(2) Guru mengingatkan agar semua anggota kelompok dapat bekerjasama dengan
baik.
(3) Guru memberikan motivasi kepada siswa.
(4) Guru mengingatkan kembali agar siswa lebih memperhatiakn aspek sikap yang
wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan, dan aspek penguasaan
materi.
(5) Guru membentuk enam kelompok baru. setiap dua kelompok diminta berhadaphadapan
(kelompok satu melawan kelompok dua, kelompok tiga melawan kelompok
empat, dan kelompok lima melawan kelompok enam), masing-masing kelompok
bermusyawarah untuk menyembunyikan satu kata yang akan dijadikan sebagai bahan
tebak-tebakan. Kelompok satu, tiga dan lima mendapat kesempatan pertama sebagai
kelompok yang bertugas menyembukan kata, sedangkan kelompok dua, empat, dan
enam bertugas sebagai penerka dan penjawab. Siswa secara kelompok berdiskusi,
mengeksplor gagasan mengenai kata yang disembunyikan. Guru sebagai kolaborator
aktif membimbing siswa, memberikan motivasi kepada siswa, sementara itu peneliti
bertindak sebagai pengamat. Salah satu anggota dari tiap kelompok, mecatat perolehan
skor atau poin. Kelompok yang mendapatkan poin terbanyak, maka secara otomatis
memenangkan permaianan.
(6) Masing-masing kelompok terlihat berdiskusi, saling memotivasi, berikut pula
ada yang bertugas sebagai pencatat kalimat-kalimat hasil terkaan sampai menemukan
75
jawaban yang benar, peneliti mengamati jalannya permainan. Permainan berlangsung
selama 18 menit.
(7) Permainan selesai, masing-masing siswa diminta membuat naskah pidato
persuasi sesuai dengan permainan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, siswa membuat
naskah pidato persuasi berdasarkan pada kalimat-kalimat hasil terkaan selama
berlangsungnya permainan,
(8) guru bertugas memberi arahan dan membimbing para siswa untuk menemukan
gagasan yang sesuai dengan kata-kata hasil tebakan. Setelah itu, guru meminta siswa
praktik berpidato persuasi di depan kelas,
(9) siswa selesai menulis naskah pidato persuasi selama 15 menit.
(10) Setelah itu guru memberikan kesempatan 5 menit kepada siswa untuk berlatih
terlebih dahulu sebelum praktik berpidato persuasi di depan kelas.
(11) Siswa diberi kesempatan praktik berpidato maksimal 5 menit.
(12) Siswa praktik berpidato persuasi
b) Pertemuan kedua (Rabu, 6 April 2011)
Pertemuan kedua ini kegiatan pembelajaran dimulai dengan pemberian motivasi
guru terhadap siswanya guru mengemukakan kepada siswa tentang kriteria-kriteria
memperoleh nilai yang baik. Setelah itu, guru kembali mengarahkan dan membimbing
para siswa agar memperhatikan aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek
intonasi, aspek pelafalan, dan aspek penguasaan materi.
. Guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal
yang masih belum dipahami siswa, setelah tidak ada siswa yang bertanya, guru
76
kemudian menginstruksikan agar siswa mencermati kembali naskah yang telah dibuat
dan memberikan waktu lima menit untuk persiapan sebelum praktik di depan kelas.
Seperti pada pertemuan pertama, siswa ditunjuk secara acak siswa yang akan maju
berpidato persuasi di depan kelas. Satu-persatu mereka berpidato sesuai dengan tema
yang diberikan.
3) Pengamatan
Seperti pada siklus I, pada siklus II ini guru sebagai kolaborator dan peneliti
yang bertindak sebagai observer mengamati jalannya proses pembelajaran di kelas XI
PM2 (Pemasaran II) SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta. Tindakan pada siklus
ini dilakukan dengan instrumen yang sama dengan siklus I. Hasil pengamatan diuraikan
dalam dua bagian, yaitu pengamatan secara proses maupun pengamatan secara produk.
a) Keberhasilan Proses
Hasil pengamatan secara proses dilakukaan dengan cara peniliti dan guru
mengamati jalannya pelaksanaan metode Twenty Questions. Tindakan pada siklus II ini
telah sesuai dengan rencana yang telah dirancang sebelumnya. Pengamatan pada siklus
ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan atau peningkatan yang signifikan pada
perilaku subjek.
Siswa sudah semakin percaya diri ketika tampil di depan, tidak gerogi ataupun
malu-malu ketika berpidato persuasi, mereka lebih berani tampil percaya diri. Selain itu
siswa juga saling memotivasi dan dapat bekerja sama dengan baik. berdasarkan lembar
pengamatan pelaksanaan permainan metode Twenty Questions, terlihat bahwa semua
77
aspek mengalami peningkatan yang signifikan. Adapun hasil pengamatan tersebut
adalah sebaga berikut.
Tabel 9: Pengamatan Permainan Kelompok Siklus II
No Aspek yang Diamati Kelompok
1 2 3 4 5 6
1 Kekompakan (saling bekerja sama) 4 3 4 4 4 4
2 Memotivasi anggota lain 3 3 3 3 3 3
3 Logika berpikir analitis, sintesis,
dan kritis.
4 4 4 4 4 4
4 Inisiatif kerja dalam kelompok 3 4 4 4 3 3
5 Keaktifan 4 4 4 4 4 4
Keterangan :
4 : Keterampilan sangat baik
3 : Keterampilan baik
2 : Keterampilan cukup baik
1 : Keterampilan kurang baik
Berdasarkan Tabel 9, dapat diketahui bahwa pada siklus II ini semua aspek
mengalami peningkatan yang signifikan. siswa semakin aktif dan melaksanakan
prosedur permaianan Twenty Questions dengan baik, anggota kelompok yang pada
siklus sebelumnya masih pendiam dan malu-malu, pada siklus II ini terlihat berani dan
aktif untuk mengemukakan gagasannya.
78
Rasa kepedulian sesama teman juga meningkat, mereka saling memotivasi
untuk memberikan semangat terhadap teman yang lainnya. Logika berpikir analitis,
sintesis, dan kritis mendapatkan nilai sangat baik. nilai tersebut meningkat tajam
disebabkan oleh pemahaman siswa terkait dengan prosedur penggunaan metode Twenty
Questions meningkat, artinya siswa memahami secara komprehensif tentang metode
yang digunakan. Aspek kekompakan, dan inisiatif kerja dalam kelompok terjadi
peningkatan yang cukup memuaskan.
b) Keberhasilan Produk
Keberhasilan produk terlihat dari perolehan skor tes keterampilan berpidato
persuasi siswa siklus II. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh data
sebagai berikut.
79
Tabel 10: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi dari Siklus II
Kode
Aspek yang Dinilai Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor
S1
S2 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 48
S3 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 46
S4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 41
S5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 45
S6 4 5 4 3 4 4 4 3 4 4 39
S7 5 4 4 4 4 4 4 3 4 4 40
S8 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S9 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 42
S10 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S11 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 42
S12 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S13 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 40
S14 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S15 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S16 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 48
S17 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S18 4 5 4 4 4 3 4 3 4 4 39
S19 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S20 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S21 4 5 4 3 4 4 5 4 5 5 43
S22 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 41
S23 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S24 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S25 5 4 4 5 4 4 5 5 5 5 46
S26 5 5 4 4 4 4 4 5 4 4 43
S27 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 47
S28 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 42
S29 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S30 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 46
S31 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S32 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 46
S33 5 5 4 5 4 4 5 4 5 5 46
S34 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
Jumlah 155 161 134 135 132 132 155 136 155 156 1451
Rata-rata 4.70 4.88 4.06 4.09 4.00 4.00 4.70 4.12 4.70 4.73 43.97
80
Berikut ini disajikan peningkatan rata-rata skor kelas dari pratindakan hingga siklus II
Tabel 11: Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa dari Pratindakan-Siklus
II
No. Aspek Pratindakan Siklus I Siklus II Peningkatan
Rata-rata Rata-rata Rata-rata
1. Pilihan kata 2,97 3,59 4,70 1,73
2. Struktur 3,06 3,47 4,88 1,82
3. Pelafalan 2,94 3,25 4,06 1,12
4. Intonasi 2,97 3,22 4,09 1,15
5. Sikap yang wajar,
tenang dan tidak kaku
2,94 3,19 4,00 1,06
6. Penguasaan medan 2,88 3,31 4,00 1,12
7. Penguasaan materi 2,97 3,28 4,70 1,73
8. Gerak-gerik dan
mimic
2,91 3,44 4,12 1,21
9. Penalaran 2,59 3,31 4,70 2,11
10. Kemampuan
megarahkan opini
2,65 3,31 4,73 2,11
Rata-rata 28,85 33.38 43,97
Jumlah 981 1068 1451
Gra
sikl
S
afik berikut
lusI kesiklus
Gambar
Siklus I ke S
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Jumlah Skor
t merupakan
sII.
III: Grafik
Siklus II.
Siklus
33
n peningkat
k Peningkata
s I
.38
tan keteram
an Keteramp
Sik
mpilan berpi
pilan Berpid
lus II
43.97
dato persua
dato Persua
asi siswa d
asi Siswa d
Siklus II
Siklus I
81
ari
ari
82
Berikut ini disajikan secara detail peningkatan keterampilan berpidato persuasi
siswa dari prasiklus hingga siklus II
Gambar IV: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa dari
Prasiklus-Siklus II.
Berdasarkan Tabel 11, dapat diketahui peningkatan skor tes keterampilan
berpidato persuasi dengan menggunakan metode Twenty Questions yang telah dilakukan
dari mulai pratindakan hingga siklus II. Adapun skor rata-rata kelas yaitu, pada
pratindakan sebesar 28,85, pada siklus I skor rata-rata kelas naik menjadi 33,38,
kemudian pada siklus II skor rata-rata kelas menjadi 43,97. Kenaikan skor rata-rata
mulai dari pratindakan hingga siklus II adalah sebesar 15,12. Adapun deskripsi setiap
aspek adalah sebagai berikut.
2.97 3.06 2.94 2.97 2.94 2.88 2.97 2.91
2.59 2.62
3.59 3.47
3.25 3.22 3.19 3.31 3.28 3.44 3.31 3.31
4.71 4.88
4.06 4.09 4 4
4.7
4.12
4.7 4.73
0
1
2
3
4
5
6
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor
Aspek yang dinilai
Prasiklus
Siklus I
Siklus II
83
1) Aspek pilihan kata
Apabila dibandingkan dengan siklus I, skor rata-rata pada siklus II mengalami
peningkatan yang signifikan, yaitu sebesar 4,70. Siswa sudah terbiasa menggunakan
pilihan kata yang sesuai dengan kaidah yang berlaku, dalam hal ini pilihan kata yang
digunakan juga mendukung atau sesuai dengan gagasan. Kondisi yang mendukung
terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 18 berikut ini.
Tindakan II
Pada aspej pilihan kata, semua siswa sudah menggunakan kata yang sesuai atau
mendukung tema.
CL.PP.6-4-2011
2) Aspek struktur
Skor rata-rata pada aspek ini pada siklus II meningkat menjadi 4,88. Dari
perolehan skor tersebut dapat diketahui skor rata-rata kelas dari siklus I hingga siklus II
mengalami peningkatan sebesar 1,41. Pada saat praktik berpidato persuasi, siswa dapat
mengunakan struktur frasa dan kalimat dengan tepat.
3) Aspek pelafalan
Aspek ini didasarkan pada pelafalan fonem. Pelafalan juga dipengaruhi oleh
tingkat volume suara pembicara. Bila pada siklus I sebagian siswa belum sepenuhnya
mampu menghilangkan kosakata daerah, pada siklus II ini siswa sudah tidak lagi
menggunakan kosakata dari bahasa Jawa. Peningkatan pada aspek ini ditunjukkan pada
Tabel 7 yaitu dari 3,25 menjadi 4,06 terjadi peningkatan sebesar 0,81.
84
4) Aspek intonasi
Siswa pada siklus II ini dapat menggunakan intonasi bervariasi, tidak monoton.
Hal ini berdampak pada suasana kelas yang terkesan lebih hidup dan tidak
membosankan. Peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek intonasi sebesar 0,87, pada
Siklus I skor rata-rata 3,22 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,09.
5) Aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
Pada saat praktik berpidato persuasi, sebagian besar siswa dapat bersikap wajar,
beberapa siswa yang memiliki kebiasaan terkadang tersenyum tanpa sebab, menggarukgaruk
kepala, memilin baju, sudah mulai ditinggalkan. Adapun peningkatan skor ratarata
kelas pada aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku sebesar 0,85, pada siklus I
sebesar 3,18 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,03.
6) Aspek penguasan medan
Pada aspek ini, sebagian siswa ketika berpidato persuasi sudah baik, terarah dan
cukup menyeluruh terhadap audien yang ada di depannya. Sebagian siswa yang pada
saat siklus I terlihat masih malu untuk melihat pendengar kini pada siklus II sudah
tampil berani dan percaya diri. Peningkatan skor rata-rata pada aspek ini sebesar 0,69.
7) Penguasaan materi
Pada aspek penguasan materi terjadi peningkatan yang signifikan. Ketika
praktik berpidato persuasi di depan kelas, siswa tidak lagi berhenti untuk mengingatingat
kata-kata yang hendak dikeluarkan karena siswa dapat menguasai tema pidato
dengan baik, peningkatan ini tidak terlepas dari penggunaan metode Twenty Questions
dalam berpidato persuasi. Dengan metode Twenty Questions, siswa dilatih untuk
85
berpikir mendalam dan komprehensif, sehingga topik yang dipilih dapat ditelaah dari
berbagai aspek secara detail. Selain itu, peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh tema
yang ditentukan oleh guru. Tema yang diberikan adalah seputar buah-buahan yang biasa
diperdagangkan. Pilihan tema tersebut didasarkan pada tingkat pengetahuan siswa.
Adapun peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek penguasaan materi sebesar 1,42,
pada siklus I skor rata-rata 3,28 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,70.
Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar
dalam vignette 19 berikut ini.
Tindakan II
Semua siswa tampil dengan baik, ketika menyampaikan pidatonya, terlihat siswa
sudah dapat menguasai materi dengan baik.
CL.PP.6-4-2011
8) Gerak-gerik dan mimik
Pada aspek ini siswa lebih ekspresif dan luwes. Informasi yang disampaikan di
dukung dengan penyampain yang baik, dengan menggunakan gerak-gerik dan mimik
yang sesuai dengan kata-kata yang diucapkan. Peningkatan skor rata-rata kelas pada
aspek ini sebesar 0,68.
9) Penalaran
Beberapa siswa ketika berpidato di depan kelas dapat menyampaikan gagasan
atau informasi dengan sistematis dan lancar. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari
metode yang dignakan. Metode Twenty Questions memudahan siswa untuk dapat
86
berpikir sintesis, sistematis, dan analitis. Peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek ini
sebesar 1,39.
10) Pengarahan opini
Aspek pengarahan opini mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan
skor rata-rata kelas pada aspek ini sebesar 1,42, pada siklus I skor rata-rata 3,31
sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,73.
4) Refleksi
Dari tindakan siklus II, peneliti dan kolaborator dapat menyimpulkan bahwa
dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan yang signifikan baik secara proses maupun
produk. Pelaksanaan metode Twenty Questions dapat berlangsung dengan baik. Secara
proses, pembelajaran berpidato persuasi dapat dikatakan berhasil karena pada siklus II
ini siswa semakin aktif, tampil percaya diri, dan memiliki semangat dalam pembelajaran
berpidato persuasi.
Secara produk, pembelajaran berpidato persuasi dapat dikatan berhasil, karena
terjadi peningkatan skor pada saat dilakukan tes berpidato persusi. Peningkatan skor
dapat dilihat dari skor rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II yang meliputi peningkatan
setiap aspek-aspeknya. Peningkatan tersebut yaitu (1) aspek pilihan kata mengalami
peningkatan sebesar 1,11 (2) aspek struktur mengalami peningkatan sebesar 1,41, (3)
aspek pelafalan mengalami peningkatan sebesar 0,81, (4) aspek intonasi mengalami
peningkatan sebesar 0,87, (5) aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku mengalami
peningkatan sebesar 0,81, (6) aspek penguasaan medan mengalami peningkatan sebesar
0,69, (7) aspek penguasaan materi mengalami peningkatan sebesar 1,42, (8) aspek
87
gerak-gerik dan mimik mengalami peningkatan sebesar 0,68, (9) aspek penalaran
mengalami peningkatan sebesar 1,39, dan (10) aspek mengarahkan opini mengalami
peningkatan sebesar 1,42.
B. Pembahasan
Pada pembahasan ini difokuskan pada (1) deskripsi awal keterampilan
berpidato persuasi siswa, (2) pelaksanaan tindakan kelas dengan metode Twenty
Questions, dan (3) peningkatan keterampilan berpidato persuasi siswa dengan metode
Twenty Questions.
1. Deskripsi Awal Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
Sebelum dilakukan tindakan, peneliti terlebih dahulu melakukan pretes. Pretes
dilakukan pada saat siswa praktik berpidato persuasi. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui keterampilan berpidato siswa sebelum dikenai tindakan. Peneliti dan
kolaborator sepakat untuk mengatasi masalah pada pembelejaran berpidato persuasi
dengan menggunakan metode Twenty Questions. Metode ini dipilih karena
memungkinakan untuk dapat membantu siswa ketika praktik berpidato persuasi, siswa
dengan metode ini dilatih untuk berpikir kritis, kreatif dan analitis. Skor rata-rata kelas
tiap aspek pada saat pretes adalah (1) aspek pilihan kata 2,97, (2) aspek struktur 3,06, (3)
aspek pelafalan 2,94, (4) aspek intonasi 2,97, (5) aspek sikap yang wajar, tenang dan
tidak kaku 2,94, (6) aspek penguasaan medan 2,88, (7) aspek penguasaan materi 2,97,
(8) aspek gerak-gerik dan mimik 2,91, (9) aspek penalaran 2,59, dan (10) aspek
88
mengarahkan opini 2,62. Skor rata-rata kelas tiap aspek termasuk dalam kategori sedang
kecuali aspek struktur. Peneliti dan kolaborator sepakat untuk menerapkan pembelajaran
pidato persuasi siswa dengan menggunakan metode Twenty Questions untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa.
2. Pelaksanaan Tindakan Kelas dengan Metode Twenty Questions
Peneliti melakukan observasi terhadap pembelajaran berpidato persuasi di kelas
XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta untuk mengetahui masalah-masalah
yang dihadapi ketika proses pembelajaran berpidato persuasi. Peneliti melakukan
wawancara dengan siswa terkait dengan kendala-kendala yang dihadapi ketika berpidato
persuasi. Selain itu, peneliti juga memberi angket pratindakan yang memiliki tujuan
sama yaitu untuk mengetahui kemampuan afektik siswa dalam pembelajaran berpidato
persuasi dikelas. Berdasarkan hasil observasi tersebut, dapat diketahui kendala-kendala
yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung, adapun kendala-kendala
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Selama proses pengajaran materi pidato persuasi berlangsung, siswa-siswi
kurang meresponnya dengan baik, siswa terlihat kurang bersemangat.
b. Pada saat praktik berpidato, untuk menyampaikan ide ataupun gagasan,
siswa seringkali lupa pada kata-kata yang hendak diucapkan, siswa mencoba
mengingat-ingat kata-kata untuk menyalurkan maksud yang diinginkan.
c. Siswa terlihat kurang percaya diri, gerogi ketika berbicara di muka umum.
89
d. Siswa belum dapat mengeksplor gagasan secara detail, sehingga berpengaruh
pada berhasil atau tidaknya mempengaruhi pendengar.
Pembelajaran keterampilan berpidato persuasi melalui metode Twenty
Questions untuk meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa dilakuakan
selama dua siklus. Siklus I dan siklus II dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang
direncanakan. Selanjutnya dalam penelitian ini, alat ukur yang digunakan untuk
mengetahui peningkatan keterampilan berpidato persuasi siswa adalah dengan
menggunakan penilaian. Penilaian tersebut meliputi 10 aspek, yaitu (1) aspek pilihan
kata, (2) aspek struktur, (3) aspek pelafalan, (4) aspek intonasi, (5) aspek sikap yang
wajar, tenang dan tidak kaku, (6) aspek penguasaan medan, (7) aspek penguasaan
materi, (8) aspek gerak-gerik dan mimik, (9) aspek penalaran, dan (10) aspek
mengarahkan opini.
Tindakan pada siklus I didasarkan pada masalah yang ditemukan, kemudian
peneliti dan kolaborator menyepakati penggunaan metode Twenty Questions untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa. Pelaksanaan siklus I dari
perencanaan hingga refleksi belum mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan.
Dalam pelaksanaan tersebut terdapat beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya
adalah pelaksanaan metode Twenty Questions belum sepenuhnya sesuai dengan
prosedur. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang
tergambar dalam vignette 20 berikut ini.
90
Tindakan 1
Kelompok 2 dan 3 masih bertanya tentang mekanisme atau prosedur metode Twenty
Questions.
CL.PP.16-3-2011
Penguasaan siswa terkait dengan setiap aspek berpidato persuasi juga masih kurang.
Ketika berpidato persuasi siswa terlihat masih kuarang percaya diri, dan gerogi. Akibat
dari kekurangan tersebut penampilan siswa cenderung kaku. Kondisi yang mendukung
terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 21 berikut ini.
Tindakan I
Khotim, Marlina, Ana Perwitasari nampak masih malu-malu ketika menyampaikan
pidato, ketiganya terkadang tersenyum tanpa sebab, menggaruk-garuk kepala,
memilin baju, tubuhnya hamper tak bergerak sama sekali (kaku)
CL. PP.23-3-2011
Aspek penguasaan materi yang kurang menyeluruh menjadikan pendengar tidak dapat
memahami informasi yang disampaikan, beberapa siswa ketika berpidato persuasi di
depan kelas terkadang masih berhenti karena mengingat-ingat kata-kata yang akan
diucapakan. Selain itu, siswa beberapa siswa terjebak dalam pidato deskripsi.
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan siklus I tersebut dapat diketahui bahwa masih
perlu dilaksanakan perbaikan menyeluruh pada siklus II. Siklus II merupakan perbaikan
dari siklus I untuk meningkatkan aspek-aspek keterampilan berpidato persuasi yang
masih rendah dan memungkinkan lagi untuk dimaksimalkan. Jika dilihat dari hasil
berpidato persuasi siswa setelah implementasi tindakan I, setiap aspek mengalami
peningkatan, akan tetapi, ada aspek yang perlu lebih ditingkatkan lagi, yaitu aspek sikap
91
yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan, dan aspek
penguasaan materi. Disamping itu, keenam aspek lainnya juga perlu dimaksimalkan.
Pada siklus II, tindakan yang dilakukan sama seperti siklus I, tetapi dalam siklus
II ini, tindakan difokuskan pada aspek keterampilan berpidato siswa yang belum baik.
Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang tergambar
dalam vignette 22 berikut ini.
Tindakan II
Bu Endang lebih memfokuskan penjelasan pada aspek sikap yang wajar, tenang dan
tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan , dan aspek penguasaan materi.
CL.PP.30-3-2011
Tema yang diberikan pada siklus II ini berbeda dengan siklus I, tema pada siklus II
berkaitan dengan buah-buahan. Tema ini dipilih disesuaikan dengan pengetahuan siswa
sehingga siswa merasa tidak ada beban berat dan merasa senang. Selain itu dengan tema
ini, siswa juga lebih dapat menguasai materi. Kondisi yang mendukung terdapat dalam
lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 23 berikut ini.
Tindakan II
Tema buah-buahan merupakan tema yang disukai siswa, pengetahuan siswa tentang
tema tersebut cukup luas. Hal ini membuat mereka dapat menguasai materi dengan
baik, selain itu, siswa juga terbantu dengan adanya metode Twenty Questions.
CL.PP.6-4-2011
Setelah implementasi tindakan pada siklus II ini aktivitas siswa yang kurang baik
meningkat menjadi lebih baik. Siswa yang tadinya kurang percaya diri, dan masih
gerogi kini sudah berani tampil dengan penuh percaya diri dan tidak lagi gerogi.
Suasana kelas terlihat hidup karena siswa-siswa semangat dalam menjalani proses
92
pembelajaran. Kondisi yang mendukung terdapat dalam lampiran catatan lapangan yang
tergambar dalam vignette 24 berikut ini.
Tindakan II
Pada siklus II, suasana kelas tampak hidup karena pendengar mendengarkan dengan
baik dan komunikatif.
CL.PP.6-4-2011
Hasil postes menunjukkan bahwa siklus II dapat dikatakan berhasil karena sesuai dengan
rencana. Pada siklus ini rata-rata skor dari keempat aspek meningkat, yaitu, aspek aspek sikap
yang wajar, tenang dan tidak kaku sebesar 0,81, aspek intonasi sebesar 0’87, aspek pelafalan
sebesar 0,81, aspek penguasaan materi sebesar 1,42.
Setelah selesai pelaksanaan tindakan, peneliti memberikan angket
pascatindakan dan melakukan wawancara kepada siswa serta guru. Hasil pengisian
angket dan wawancara menunjukkan bahwa metode Twenty Questions ini memberikan
beberapa manfaat yang membantu siswa dalam berpidato persuasi, antara lain sebagai
berikut.
a. Melatih siswa berpikir sintesis, analitis, dan kritis. Bila dilihat dari angket yang
terkait dengan hal tersebut, hampir semua siswa (33 siswa) menyatakan bahwa
mereka dengan metode tersebut dapat berpikir sintesis, analitis, dan kritis.
b. Siswa dapat mengeksplor gagasan secara detail, memudahkan siswa dalam
meyakinkan pendengar, sehingga pendengar atau audien dapat dengan mudah
dipengaruhi.
93
c. Siswa dapat mengatasi kesulitan ketika berpidato persuasi, misalnya gerogi, sering
berhenti berbicara karena lupa.
d. Siswa lebih termotivasi dengan adanya metode pembelajaran yang variatif, dalam hal
ini adalah metode Twenty Questions.
e. Siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok dengan baik.
3. Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa dengan Metode
Twenty Questions
Peningkatan keterampilan berpidato persuasi siswa dengan metode Twenty
Questions dapat dilihat dari prasiklus hingga siklus II. Peningkatan tersebut diketahui
dari hasil penilaian pada tiap tahap; tahap pratindakan, siklus I, dan siklus II. Adapun
peningkatan keterampilan berpidato persuasi siswa pada tahap-tahap tersebut adalah
sebagai berikut.
Gambar V: Grafik Peningkatan Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa dari
Siklus I ke Siklus II.
tind
me
me
seb
dar
1) A
dig
sam
asp
Berdas
dakan skor
ningkat me
njadi 3’97.
besar 15,12.
Beriku
ri masing-ma
Aspek piliha
Aspek
gunakan men
ma sekali tid
pek ini cuku
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Jumlah Skor
sarkan gamb
rata-rata sis
enjadi 33,38
Kenaikan s
ut ini deskrip
asing aspek.
an kata
k pilihan kat
ndukung ata
dak terpenga
up signifika
Pratindaka
28.85
bar V, terlih
swa adalah 2
8, dan ketik
kor rata-rata
psi peningka
ta terkait de
u tidak deng
aruh unsur
an yaitu 1,7
an S
hat peningka
28,85, kemu
ka diberi ti
a mulai dari
atan keteram
engan katepa
gan gagasan
kedaerahan.
73. Pada p
Siklus I
33,38
atan yang sig
udian setelah
ndakan pad
i pratindaka
mpilan berpid
atan penggun
n utama dan
Peningkata
pratindakan
Siklus II
43
gnifikan. Seb
h diberi tind
da siklus II
an hingga si
dato persuas
naan kata, k
juga pemili
an yang ditu
siswa masi
,97
belum diken
dakan siklus
I meningkat
iklus II adal
si siswa dilih
kata-kata ya
ihan kata ya
unjukkan pa
h terpengar
Pratindakan
Siklus I
Siklus II
94
nai
s I
tan
lah
hat
ang
ang
ada
ruh
n
95
dengan kosakata daerah yang dalam hal ini adalah bahasa Jawa, kemudian setelah
dekenai tindakan sampai pada siklus II, aspek pilihan kata siswa meningkat, siswa tidak
lagi terpengaruh dengan bahasa Jawa, siswa juga mampu memilih dan menggunakan
kata-kata yang mendukung dengan gagasan utama. Pada pratindakan skor rata-rata siswa
mencapa 2,97, siklus I meningkat menjadi 3,59, dan pada siklus II mengalami
peningkatan sebesar 1,11 sehingga menjadi 4,70.
2) Aspek struktur
Aspek ini meliputi penyusunan kata, frasa, hingga kalimat. Pada pratindakan,
beberapa siswa dalam menyusun struktur frase dan kalimat masih terdapat kesalahan,
sehingga kalimat yang disampaikan tidak jelas. Pada siklus II ketika praktik berpidato
persuasi, siswa sudah mampu mengunakan struktur frasa dan kalimat dengan tepat.
Skor rata-rata aspek struktur mengalami peningkatan dari pratindakan 3,06, pada siklus I
3,47, dan pada siklus II meningkat menjadi 4,88.
3) Aspek pelafalan
Aspek ini didasarkan pada pelafalan fonem. Bila dilihat dari pratindakan hingga
siklus II aspek pelafalan mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 1,12.
Pada pratindakan skor rata-rata siswa mencapai 2,94, pada siklus I sebesar 3,25, dan
pada siklus II meningkat menjadi 4,06.
4) Aspek intonasi
Aspek intonasi terkait dengan apabila menggunakan intonasi bervariasi, tidak
monoton, penempatan intonasinya tepat sehingga pendengar sedemikian rupa tertarik
pada gaya berbicaranya. Pada siklus II, terlihat para siswa cukup menikmati pidato96
pidato yang dilakukan oleh temannya, suasana seperti itu disebabkan karena para siswa
dapat membawakan pidato dengan intonasi yang baik. Skor rata-rata kelas pada aspek
intonasi sebesar 2,97 pada pratindakan, skor rata-rata pada siklus I meningkat menjadi
3,22, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 4,09.
5) Aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
Aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku berkaitan dengan apabila
pembicara bersikap wajar, tidak aneh-aneh, tenang dan tidak kaku. Berbeda dengan
pratindakan, pada siklus I ini siswa sudah mulai tampil percaya diri. Pada siklus II,
sebagian besar siswa saat praktik berpidato persuasi dapat bersikap wajar, apa adanya,
tenang dan luwes. Kebiasaan siswa menggaruk-garuk kepala, memilin baju dan lain-lain
sudah ditinggalkan. Perubahan tersebut selain dipengaruhi oleh motivasi yang dilakukan
guru, perubahan juga disebabkan karena tingkat keseriusan siswa untuk terus
memperbaiki diri kian meningkat. Skor rata-rata aspek sikap yang wajar, tenang dan
tidak kaku mengalami peningkatan dari pratindakan, I dan II, pada pratindakan sebesar
2,94, pada siklus I menjadi 3,19, meningkat lagi pada siklus II menjadi 4,00.
6) Aspek penguasan medan
Pada aspek ini, sebagian siswa ketika berpidato persuasi pandangaan matanya
sudah terarah dan menyeluruh terhadap audien yang ada di depannya. Aspek ini juga
berkaitan dengan keberanian, ketika praktik, siswa sudah berani berpidato di depan kelas
dengan penuh percaya diri, tidak malu dan tidak ragu-ragu sehingga terlihat jelas bahwa
para siswa tidak akan ragu-ragu lagi memandang audien secara menyeluruh. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa siswa dapat menguasai medan dengan baik. Skor rata97
rata aspek penguasan medan mengalami peningkatan dari pratindakan 2,88, meningkat
pada siklus I 3,31, dan pada silus II meningkat menjadi 4,00.
7) Penguasaan materi
Penguasan materi berkaitan dengan topik dan uraian sesuai, mendalam, mudah
dipahami, dan informasi yang disampaikan lengkap. Peningkatan yang ditunjukkan pada
aspek ini cukup signifikan yaitu 1,73. Pada siklus II siswa sudah dapat menguasai materi
dengan baik, hal ini dapat dilihat ketika mereka berpidato persuasi di depan kelas,
mereka terlihat sangat lancar ketika praktik, siswa tidak lagi berhenti secara tiba-tiba
karena mereka menguasai topik yang dipidatokan. Peningkatan tersebut dipengaruhi
oleh pemahaman siswa terkait dengan metode Twenty Questions cukup komprehensif,
sehingga mereka dapat dengan mudah memanfaatkan metode tersebut untuk
keberhasilan berpidato. Selain itu, tema pada siklus II juga sesuai dengan pengetahuan
siswa, sehingga siswa dengan tanpa beban dan penuh semanagat dapat menguasai topik
yang diberikan. Peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek penguasaan materi cukup
signifikan. Pada pratindakan skor rata-rata siswa mencapai 2,97, siklus I meningkat
menjadi 3,28, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 1,42 sehingga menjadi
4,70.
8) Gerak-gerik dan mimik
Gerak-gerik dan mimik terkait dengan apabila gerak-gerik anggota badan
mendukung pembicaraan dan mimik pembicara sesuai dengan informasi yang
disampaikan. Pada siklus ini kebanyakan siswa sudah mendemonstrasikannya dalam
bentuk gerak-gerik dan ekspresi wajah yang sesuai dengan kata-kata atau informasi yang
98
disampaikan. Keberanian siswa dalam berekspresi dan kemahiran siswa dalam
menggunakan gerak-gerik anggota badan cukup meningkat pada siklus II. Peningkatan
skor rata-rata kelas pada aspek ini sebesar 1,21, pada pratindakan skor rata-rata 2,91,
pada siklus I 3,44, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,12.
9) Penalaran
Pada pratindakan kebanyakan siswa ketika menyampaikan informasi kurang
sistematis dan berbelit-belit, namun setelah dikenai tindakan hingga siklus II, penalaran
siswa meningkat tajam. Beberapa siswa sudah sistematis dan tidak berbelit-belit.
Peningkatan tersebut tidak terlepas dari metode yang digunakan (Metode Twenty
Questions). Metode ini memudahkan siswa untuk dapat berpikir sistematis dan analitis.
Pada siklus II peningkatan skor rata-rata kelas pada aspek ini sebesar 2,11. Pada
pratindakan skor rata-rata 2,59, pada siklus I 3,31, sedangkan pada siklus II meningkat
menjadi 4,70.
10) Pengarahan opini
Aspek pengarahan opini berkaitan dengan kemampuan pembicara menggiring
opini pendengar dengan menggunakan kalimat-kalimat yang bersifat membujuk. Pidato
persuasi dapat dikatakan berhasil bila pembicara dapat mempengaruhi pendengar. Oleh
karena itu, siswa sedapat mungkin agar dapat mempengaruhi pendengar dengan cara
mengarahkan opini mereka sampai pendengar benar-benar percaya dan akhirnya mau
mengikuti kehendak pembicara. Pada siklus II, siswa terlihat mahir dalam upaya
mempengaruhi pendengar. Mereka sudah menggunakan kalimat-kalimat ajakan yang
bersifat membujuk, mereka dalam berpidato juga menggunakan data-data atau fakta
99
untuk lebih meyakinkan pendengar. Aspek pengarahan opini mengalami peningkatan
yang signifikn, yaitu sebesar 2,11. Pada pratindakan skor rata-rata 2,65, pada siklus I
3,31,, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 4,73.
4. Keterbatasan Penelitian
Penelitian tindakan kelas tentang peningkatan keterampilan berpidato siswa
melalui metode Twenty Questions siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman,
Yogyakarta dihentikan pada siklus II. Berdasarkan diskusi antara peneliti dan
kolaborator, penelitian ini dihentikan karena hasil penelitian secara proses maupun
produk telah memenuhi indikator keberhasilan, yaitu terlaksananya pembelajaran yang
aktif, menyenangkan dan 75 % siswa sudah mencapai skor ≥ 40. Selain itu, penelitian
ini dihentikan karena keterbatasan waktu, yaitu siswa akan menghadapi ujian akhir
kenaikan kelas, sehingga penelitian ini harus dihentikan pada siklus II supaya guru dan
siswa dapat berkonsentrasi menghadapi ujian akhir.
100
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab
sebelumnya, baik dilihat dari indikator keberhasilan proses maupun keberhasilan
produk, maka dapat disimpulkan bahwa metode Twenty Questions dapat meningkatkan
keterampilan berpiato persuasi siswa kelas XI PM2 SMK Negeri I Depok, Sleman,
Yogyakarta. Peningkatan secara proses, tampak pada kualitas pembelajaran yang
ditunjukkan oleh keaktifan siswa, antusias siswa ketika berpidato persuasi, keberanian
siswa untuk tampil didepan kelas, siswa tidak lagi berhenti untuk mengingat-ingat katakata
yang hendak dibicarakan, kesemuanya itu menjadikan suasana kelas menjadi lebih
hidup dan menyenangkan.
Peningakatan keterampilan berpidato persuasi dapat dilihat dari 10 aspek, yaitu
(1) aspek pilihan kata, (2) aspek struktur, (3) aspek pelafalan, (4) aspek intonasi, (5)
aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, (6) aspek penguasaan medan, (7) aspek
penguasaan materi, (8) aspek gerak-gerik dan mimik, (9) aspek penalaran, dan (10)
aspek mengarahkan opini. Peningkatan secara produk berdasarkan jumlah skor rata-rata
yang diperoleh yaitu pada pratindakan 28,85, pada siklus I 33.38, dan pada siklus II
meningkat menjadi 43,97. Kenaikan skor rata-rata dari pratindakan hingga suklus II
adalah sebesar 15,12.
101
B. Rencana Tindak Lanjut
Dari hasil penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode Twenty
Questions untuk meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa, maka rencana
tindak lanjut dari hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
1. Guru bahasa Indonesia SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta yang dalam hal
ini Dra. Endang Sripurwanti akan menerapkan metode Twenty Questions dalam
pembelajaran berpidato persuasi pada tahun ajaran berikutnya.
2. Metode Twenty Questions dapat digunakan sebagai salah satu teknik yang tepat
dalam pembelajaran berbicara khusunya berpidato persuasi siswa sehingga ketika
proses pembelajaran siswa lebih aktif, antusias, siswa berani tampil percaya diri
didepan kelas, dan menjadikan suasana kelas menjadi lebih hidup dan
menyenangkan. Selain itu, keterampilan berbicara pada tiap-tiap aspek lebih dapat
meningkat.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peniliti dapat menyarankan
hal-hal sebagai berikut.
1. Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta, sebaiknya
menggunakan metode Twenty Questions dalam pembelajaran berbicara terutama
berpidato persuasi, karena metode ini dapat meningkatkan keaktifan siswa, antusias
siswa ketika berpidato persuasi, keberanian siswa untuk tampil didepan kelas,
kesemuanya itu menjadikan suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
102
Selain itu, metode ini juga dapat melatih siswa untuk mampu berpikir kritis, sintesis,
analitis, dan kreatif sehingga memudahkan siswa dalam menguasai sebuah topik.
2. Penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan proses belajar mengajar di
sekolah khususnya keterampilan berpidato persuasi siswa.
103
DAFTAR PUSTAKA
Agustira Tri.2007. Keefektifan Teknik Three Step Interview terhadap Peningkatan
Keterampilan Berpidato Siswa Kelas VIII SMP Negeri di KecamatanPleret,
Kabupaten Bantul. Skripsi
Arikunto, Suharsimi, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Arsjad, Mardar dan Mukti U.S. 1993. Pembimbingn Kemampuan Berbicara Bahasa
Indonesia.Jakrta: Airlangga
Hadinegoro, Lukman.2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir.Yogyakarta:Penerbit
Absolut
http://wesakwela.com//. Diunduh pada tanggal 14 Januari 2011
Isjoni. 2007. Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Ende: Nusa Indah
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: BPFE.
Rahmat, Jalaludin.2000. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana
Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Klaten: Intan Pariwara.
104
_______.2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Yogya
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning: Analisis Model
Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryaman, Maman.2009. Draf Panduan Pendidikan dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia SMP/MTS.Jakarta: Pusat Perbukuan Depiknas
Tarigan, Djago. 1999.Pintar Bahasa Indonesia SMP Kelas 1 (Pelajaran kelima
kegiatan membuat ikhtisar isi pidato). Jakarta: Balai Pustaka
Tarigan, Djago, dkk.1997. Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta: Depdikbud
105
Lampiran 1 : Jadwal Pelaksanaan Penelitian
JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN
No. Hari/tanggal Kegiatan Observer
1. Rabu/
23 Februari
2011
Guru melakukan tes pratindakan untuk
mengetahui keterampilan awal berpidato
persuasi siswa
Moh. Aris P.
2. Rabu/
2 Maret
2011
Melanjutkan pelaksanaan keterampilan
berpidato persuasi siswa pratindakan
Moh. Aris P.
3. Rabu/ 9
Maret 2011
Melanjutkan pelaksanaan keterampilan
berpidato persuasi siswa pratindakan
Moh. Aris P.
4. Rabu/ 16
Maret 2011
Guru melaksanakan tindakan keterampilan
berpidato persuasi siswa siklus I. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui keterampilan
berpidato persuasi siswa setelah diberi
tindakan siklus I
Moh. Aris P.
5. Rabu/ 23
Maret 2011
Melanjutkan pelaksanaan tindakan siklus I Moh. Aris P.
6. Rabu/ 30
Maret 2011
Guru melaksanakan tindakan keterampilan
berpidato persuasi siswa siklus II. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui keterampilan
berpidato persuasi siswa setelah diberi
tindakan siklus II
7. Rabu/
6 April 2010
Melanjutkan pelaksanaan tindakan siklus II Moh. Aris P.
106
Lampiran 2 : Catatan Lapangan
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Pratindakan Pertemuan 1
Waktu : Rabu, 23 februari 2011
Pukul : 9.15-11.00 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi
Deskripsi Catatan Lapangan
Pukul 09.15 bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Guru dan peneliti menuju
ke kelas XI PM2. Semua siswa sudah berada di kelas ketika peneliti dan guru sampai
di kelas. Suasana di kelas cukup gaduh namun terkendali. Guru membuka pelajaran
dengan mengucapkan salam dan berdoa. Guru mempersilahkan peneliti
memperkenalkan diri, kemudian setelah memperkenalkan diri, peneliti menempatkan
diri di belakang untuk mempersiapkan angket dan lembar pengamatan. Guru memulai
pelajaran dengan mengabsen siswa terlebih dahulu. Semua siswa hadir, jumlah
semuanya sebanyak 34 siswa. Guru menjelaskan SK dan KD kepada siswa. Guru dan
siswa mengadakan tanya jawab mengenai pengertian pidato persuasi, tata cara
pelaksanaan pidato persuasi, dan tugas-tugas saat berpidato persuasi.
Guru menjelaskan materi seputar pidato persuasi, mulai dari pengertian, hal-hal
yang harus diperhatikan dalam berpidato, tujuan berpidato dan memberikan sedikit
contoh pidato persuasi. Peneliti mengamati pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dan siswa sesuai dengan pedoman pengamatan serta membagikan angket pratindakan
kepada masing-masing siswa, siswa mengisi angket di sela-sela waktu pembelajaran
berpidato persuasi.
Siswa mencatat hal-hal yang ditulis guru di papan tulis. Setelah itu guru
mempersilakan siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang masih belum dipahami.
Kemudian, salah satu siswa (Afelia) bertanya tentang makna persuasi itu sendiri.
Setelah memastikan tidak ada siswa yang bertanya. Guru memberi tugas kepada siswa
107
untuk menulis teks pidato persuasi dengan tema bebas, 10 menit kemudian, bel
istirahat berbunyi. Guru menutup dengan salam dan siswa istirahat 15 menit.
Pukul 10.15 bel masuk berbunyi, semua siswa sudah berada di dalam kelas.
Guru dan peneliti masuk ruang kelas, peneliti seperti biasa berada di belakang sebagai
observer. Guru memulai pelajaran dengan mengucapkan salam. Guru meminta siswa
untuk melanjutkan menulis naskah atau teks pidato persuasi. Setengah jam atau 30
menit berjalan, siswa sudah selesai menulis nskah, guru meminta siswa
mempersiapkan diri agar dapat tampil berpidato dengan baik. Ketika siswa mengetahui
bahwa guru memerintahkan untuk maju satu persatu. Kebanyakan mereka protes.
namun guru dapat mengkondisikan kelas, akhirnya suasana kelas yang tadinya ramai
menjadi tenang kembali. Bel pergantian pelajaran berbunyi. Guru menegaskan agar
rabu depan semua siswa dapat maju praktik berpidato. Guru menutup dengan salam.
Peneliti dan guru keluar ruangan.
Observer
(Moh. Aris P.)
108
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Pratindakan Pertemuan II
Waktu : Rabu, 2 Maret 2011
Pukul : 9.15-11.00 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema bebas
Deskripsi Catatan Lapangan
Guru dan peneliti masuk ke ruang kelas XI PM2 pada pukul 09.15. Guru
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa. Seperti biasa peneliti
duduk dibangku paling belakang untuk melakukan pengamatan. Guru memberi
kesempaatan 10 menit agar siswa bersiap-siap. Setelah itu guru mempersilakan siapa
yang akan maju terlebih dahulu. Suasana cukup ramai karena siswa saling tunjuk.
Ternyata tidak ada yang mau maju, akhirnya guru menunjuk secara urut.
Afelia Sindi Utama mendapat giliran pertama, Afelia berpidato dengan tema
rescooker, Ia berpidato cukup lancar, namun pandangan matanya terkadang tidak bisa
menyeluruh, sesekali dia melihat ventilasi dan atap atau ternit. Airin Sri Handayani juga
cukup lancar menyampaikan materi, namun pandangan matanya masih melihat jendela,
terkadang lebih fokus melihat teman sebangkunya, selain itu, intonasinya monoton. Ana
tampil dengan malu-malu atau kurang percaya diri, sehingga terkadang senyum-senyum
sendiri, volume suara pelan dan menggunakan intonasi yang monoton. Ari lestari
berpidato dengan kurang lancar, dia juga lupa dengan kata-kata yang akan ia ucapkan.
Astri Lestari berpidato dengan cukup lancar namun terkadang pandangan matanya
melihat atap dan lantai. Desi Ambarwati berpidato dengan cukup singkat hanya dua
menit, belum sampai selesai semua yang ingin disampaikan, ditengah praktik dia tibatiba
berhenti berbicara karena lupa. Desi Ambarwati hanya mendeskripsikan gagasan
saja, tanpa ada upaya untuk mempengaruhi atau membujuk pendengar. Dewi juga sama
tiba-tiba berhenti, karena lupa materi.
109
Dwi Febri juga tampak gerogi, terlihat lama sekali dia berfikir, ternyata dia lupa
dengan kata-kata yang hendak ia ucapkan.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 bel istirahat berbunyi, namun guru meminta
pelajaran tetap berlanjut, guru menetapkan pukul 10.30 -10.45 adalah waktu istirahat
khusus bagi kelas XI PM2. Guru melanjutkan praktik berpidato, Ia menunjuk Enjun
Jurnasih untuk maju ke depan, enjun berpidato dengan suara cukup pelan dan sangat
singkat. Erma yulianti ketika berpidto terlihat gerogi dan terdapat kata-kata yang lupa ia
ucapkan, pandangan matanya sering ke bawah(lantai). Erni Lestyaningsih tidak lancar
dalam menyampaikan materi pidato. cukup lancar dalam berpidato persuasi, namun
intonasinya monoton, yaitu pandangan matanya tidak bisa menyeluruh. Fetri Nurmala
Yulaika kurang lancar dalam berpidato, terlihat masih mencoba mengingat-ingat tiap
kali hendak berbicara, selain itu intonasinya juga datar-datar saja. Fiti Susilowati juga
tidak jauh berbeda dengan penampilan Fetri. Suasana kelas mulai ramai karena
beberapa siswa yang sudah selesai praktik, berbicara sendiri dengan teman
sebangkunya. Kemudian yang belum mendapat giliran juga bersuara sendiri, karena
berusaha mempersiapkan diri, sehingga suasana kelas cukup gaduh. Guru kemudian
mengingatkan siswa agar tidak ramai sendiri. Suasana cukup tenang, guru melanjutkan
praktik berpidato lagi. Gita Anggriani mendapat giliran tampil di depan, dia tampak
gerogi, intonasinya monoton sehingga terkesan membosankan.
Guntur berpidato dengan cukup percaya diri, tetapi pandangan matanya belum
bisa menyeluruh. Kartika juga demikian, pandangan matanya tidak bisa menyeluruh, Ia
sering melihat lantai dan memegangi jilbab bagian belakang. Khatim Wijaya, ketika
berpidato persuasi di depan, Ia menggenggam telapak tangannya sendiri, dan sering
melihat ke arah samping kiri, padahal posisi pendengar berada di depan.
110
Waktu menunjukkan pukul 10.30 siswa meminta istirahat, guru pun
mengiyakan, guru memberikan pesan agar ketika istirahat tidak rame sendiri karena
kelas yang lain sedang pelajaran. Sebelum ditutup, guru mengingatkan agar yang lain
tetap berlatih dirumah, karena rabu depan akan dilanjutkan praktik berpidato persuasi.
Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
Observer,
(Moh. Aris P.)
111
Deskripsi Catatan Lapangan
Guru dan peneliti masuk ke ruang kelas XI PM2 pada pukul 09.15. Guru
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa. Seperti biasa peneliti
duduk dibangku paling belakang untuk melakukan pengamatan. Guru mengingatkan
agar siswa memperhatikan pandangan mata dan gerak tubuh.
Selanjutnya guru meminta Maliada untuk praktik berpidato, ketika berpidato
intonasinya terasa monoton, sehingga membuat pendengar merasa bosan, dalam
menyampaikan materi juga kurang lancar karena ia lupa akan kata-kata yang hendak
diucapkan. Mar’atus ketika berpidato masih terpengaruh dengan kosakata bahasa Jawa,
Ia juga lupa dengan kata-kata yang ingin diucapkan dan penampilannya tampak kaku
serta tegang, padahal tema yang dibawakan sudah berulang-ulang dipraktikan di depan.
Berbeda dengan yang lainnya, Marlina dalam penyampaiannya, ia terlihat gerogi,
pandangan matanya juga lebih terfokus kepada teman sebangkunya saja. Tidak hanya
itu, durasi berpidato juga cukup singkat, hal ini terjadi karena dia lupa akan kata-kata
yang hendak diucapkan. Natia berpidato dengan cukup lancar namun terkadang
pandangan matanya melihat atap dan lantai. Novi berpidato dengan cukup singkat,
belum sampai selesai semua yang ingin disampaikan, ditengah praktik dia tiba-tiba
berhenti berbicara karena lupa. Novia juga tampak gerogi dalam berpidato persuasi,
dalam penguasaan materinya masih kurang, padahal ia berpidato dengan menawarkan
buah straberi. Dalam penyampaiannya, ia menggunakan stukrtur kata yang salah. Rika
Apryani, tampak gerogi, terlihat lama sekali dia berfikir, hal ini terjadi karena dia lupa
dengan kata-kata yang hendak ia ucapkan, Rika juga mengucapkan kata dengan struktur
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Pratindakan Pertemuan III
Waktu : Rabu, 9 Maret 2011
Pukul : 9.15-11.00 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema bebas
112
yang salah. Novia dan Rika Apriyani mengulangi struktur kata yang salah. Rika
mengatakan”Straberinya enaknaya”, sedangkan Novia mengatakan” Merah ada yang
berwarna Jambu biji”. Rizky Mylina berpidato dengan cukup baik, hanya intonasinya
bias dikatakan cukup monoton, dan belum bisa memanfaatkan gerak tubuh yang
mendukung gagasan. Rousalia membawakan tema tentang ikan lele, ia cukup
menguasai materi namun kurang detail dalam mengeksplor gagasan. Safitri lupa dengan
kata-kata yang hendak ia ucapkan. Sahrul ketika berpidato terlihat masih bercanda
karena masih malu tampil di depan. Titik tidak lancar dalam menyampaikan materi
pidato, ia juga gerogi dan lupa terhadap kata-kata yang ingin ia ucapkan. Titik Nur tidak
lancar dalam berpidato persuasi. Vonda Aprilia cukup lancar dalam berpidato, namun
terkesan masih mencoba mengingat-ingat tiap kali hendak berbicara. Wahyu Cahyanti
dalam membawakan pidato, ia tampak tidak tenang, terkadang menginjak sepatunya,
meremas-remas tangan dan menggunakan intonasi yang monoton. Penampilan terakhir
adalah Wuri Rejeki, dalam berpidato persuasi dia juga lupa akan kata-kata yang ingin Ia
ucapkan, sedikit sekali kata-kata ajakan yang ia ucapkan.
Para siswa terlihat bosan, karena melihat penampilan teman-temannya sendiri
yang belum optimal, mereka ingin agar pembelajaran segera berakhir. Sebanyak 16
siswa ketika berpidato lupa dengan kata-kata yang hendak diucapkan. Hal itu
diakibatkan karena sebagian besar siswa kurang menguasai materi dengan baik, dari hal
itu pula mereka terlihat sekali menyampaikan materi persuasi kurang sistematis dan
berbelit-belit. Selanjutnya, guru mengulas sebentar tentang penampilan siswa yang
cukup bagus dan masih kurang.
113
Guru juga membuka pertanyaan bagi siswa yang belum memahami materi
pelajaran. Guru menutup pelajaran dengan salam. Pembelajaran selesai pukul 11.00
WIB.
Observer,
(Moh. Aris P.)
114
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Siklus I Pertemuan I
Waktu : Rabu, 16 Maret 2011
Pukul : 9.15-10.50 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema buah-buahan,
barang-barang rumah tangga,
dan daging hewan yang bisa dikonsumsi manusia.
Deskripsi Catatan Lapangan
Guru dan peneliti masuk ke ruang kelas XI PM2 pada pukul 09.15. Guru
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa. Guru menanyakan
siapa yang pada hari itu tidak hadir. Dari 34 siswa, hanya dua siswa yang tidak
masuk, yaitu Fetri Nurmala dan Natia. Guru Setelah itu mengoreksi pembelajaran
berpidato persuasi pada pertemuan sebelumnya.
Pada pertemuan sebelumnya, kegiatan praktik pidato persuasi belum berjalan
lancar seperti yang diharapkan. Beberapa siswa masih gerogi, tidak percaya diri,
merasa bosan dengan materi dan kurang menguasai materi. Maka pada pertemuan
ini akan diadakan pidato persuasi lagi dengan menerapkan metode Twenty
Questions. Guru menyampaikan kembali Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar yang harus dicapai siswa.
Guru menjelaskan pengertian metode Twenty Questions serta prosedur
pelaksanaannya. Guru juga memotivasi siswa agar percaya diri, tidak malu-malu
lagi juga diharapkan seluruh siswa dapat berperan aktif dan penuh semangat dalam
berpidato persuasi. Setelah siswa jelas dan tidak ada pertanyaan, guru kemudian
melanjutkan dengan menjelaskan tentang aspek-aspek yang dapat membantu
kelancaran berpidato persuasi, baik aspek kebahasaan maupun aspek non
kebahasaan. Adapun guru menjelaskan seputar materi sekitar 20 menit.
115
Setelah itu, guru membagi kelas menjadi enam kelompok, pembagian
kelompok dilakukan dengan hitungan setiap siswa. Adapun keenam kelompok yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
a) Kelompok I terdiri dari: Ana Perwitasari, Dewi Krisnawati, Mar’atus Solihah,
Novia Puji Lestari dan Titik Nursusanti.
b) kelompok dua yaitu: guntur, Ari Lestari, Khotim Wiranti, Marlina, Enjun
Jurnasih, dan Erma Yulianti,
c) kelompok tiga yaitu astri Larasati, Etik Poniastutik, Kartika Tanjung, Rika
Apriyani, Rousalina dan Titik Nur.
d) Kelompok empat yaitu Afelia Sindi Utama, Sahrul, Erni Lestyaningsih, Desi
Ambarwati, Novi Wulandari.
e) Kelompok lima yaitu, Dewi Febri, Fiti Susilowati, Vonda Aprilia, Wahyu
Cahyani, Wuri Rejeki.
f) Kelompok enam yaitu, Airin, Sri Handayani, Safitri Nur Handayani, Rizki
Mylina, Gita Anggriani, Maliada.
Selanjutnya setiap dua kelompok diminta berhadap-hadapan (kelompok satu
melawan kelompok dua, kelompokk tiga melawan kelompok empat, dan kelompok
lima melawan kelompok enam), guru memberikan tema permainan berupa buahbuahan,
barang-barang elektronik, dan hewan yang dapat dikonsumsi manusia, tema
permainan tersebut juga nantinya dijadikan sebagai tema berpidato persuasi. Setelah
itu, asing-masing kelompok bermusyawarah untuk menyembunyikan satu kata yang
akan dijadikan sebagai bahan tebak-tebakan. Kelompok satu, tiga dan lima mendapat
kesempatan pertama sebagai kelompok yang bertugas menyembunyikan kata,
sedangkan kelompok dua, empat, dan enam bertugas sebagai penerka dan penjawab.
Permainan berlangsung selama 20 menit dengan tema buah-buahan, barang-barang
elektronik, dan daging yang bisa dikonsumsi manusia. Siswa terlihat bekerjasama
secara tim, mencoba mengeksplor gagasan mengeni kata yang disembunyikan lawan.
sementara itu guru terlihat aktif terlibat membantu siswa. Permaianan berlangsung
selama 20 menit. Setelah itu guru memberikan waktu, selama 10 menit untuk siswa
agar membuat naskah atau teks pidato persuasi dengan pilihan tiga tema yang di
tawarkan guru. Guru membantu cara membuat naskah pidato dengan metode Twenty
116
Questions, namun ternyata belum semua siswa memahami prosedur Metode Twenty
Questions sebagai sarana untuk membantu memudahkan siswa dalam berpidato
persuasi. Kebingungan itu terlihat dengan masih ada siswa dalam suatu kelompok
yang bertanya tentang mekanisme atau prosedur metode Twenty Questions,
kelompok yang dimaksud adalah kelompok dua dan tiga. Kelompok empat
mendapatkan skor 2 sedangkan kelompok tiga mendapatkan skor 3. Tiga poin diraih
kelompok tiga karena berhasil menjawab kata-kata yang disembunyikan oleh
kelompok tiga, kata yang dimaksud adalah blender dan setrika, satu poin lagi mereka
dapatkan karena berhasil menjawab pertanyaan rebutan dari guru, adapun pertanyaan
rebutan yang dimaksud adalah buah jeruk. Kelompok yang lain, yaitu kelompok satu
juga berhasil memperoleh skor 3 atas kelompok dua. Mereka terlihat bersemangat
dalam upaya menjawab pertanyaan lawan, kelompok satu berhasil menjawab kompor
gas, salak dan kipas angin. Kelompok dua sendiri hanya mendapat poin dua, poin itu
di dapat karena berhasil menjawab dua dari pertanyaan atau kata yang
disembunyikan lawan. Kata yang berhasil ditebak adalah semangka dan AC. Selain
keempat kelompok di atas, terdapat kelompok lima dan enam, dalam
pertandingannya kelompok enam berhasil memenangkan pertandingan, ia berhasil
mendapat poin 3, sedangkan kelompok lima hanya mendapat poin satu, poin-poin
yang dimaksud yaitu kelompok lima berhasil menjawab TV saja, sedangkan
kelompok enam berhasil menjawab kulkas, belut, dan piring.
Setelah itu guru meminta siswa untuk maju di depan, guru menunjuk siswa
secara acak agar adil dan semuanya supaya siap, namun kebanyakan siswa
menentang kebijakan guru tersebut, suasana cukup gaduh, suasana tersebut dapat
kembali tenang setelah guru menjelaskan alasannya. Kesempatan yang pertama
diberikan kepada Ari lestari ketika berpidato sudah cukup lancar, hanya masih
terlihat gerogi sekikit, selanjutnya Erni Lestyaningsih, ketika berpidato ia sudah
cukup baik bila dibandingkan dengan ketika sebelum dikenai tindakan hanya saja
masih tampak kurang percaya diri. Rousalia membawakan materi tentang blender,
dalam berpidato Ia lebih lancar dan menguasai materi, namun pandangan matanya
belum menyeluruh. Sahrul dalam membawakan pidatonya cukup menarik, Ia ketika
maju cukup percaya diri dan terlihat lebih santai. Novi Wulandari cukup ada
117
peningkatan yang signifikan, kali ini ia tidak lagi lupa dengan kata-kata yang hendak
diucapkan, namun masih terlihat sedikit mengingat-ingat kata-kata yang ingin
diucapkan. Desi ambarwati, ia sudah berpidato persuasi namun dalam menawarkan
barang dagangannya hanya sedikit sekali kata-kata ajakan yang ia munculkan. Vonda
Aprilia tampil dengan cukup percaya diri, ia tidak terlihat mengingat-ingat kata-kata,
namun kurang detail dalam mengurai gagasan. Fiti Susilowati masih tampak gerogi
dan pandangan matanya kuranng menyeluruh. Dwi Febri H, membawakan tema
tentang ikan Nila, ia mencoba mempromosikan budidaya ikan Nila kepada
pendengar namun dalam penyampaiannya masih kurang detail. Dewi Krisnawati
berpidato dengan penampilan yang kurang maksimal namun lebih baik bila
dibanding ketika pratindakan. Dalam membawakan materi pandangan matanya
masih belum menyeluruh ke seluruh pendengar.
Guru kemudian menutup pelajaran dan meminta siswa agar tetap berlatih bagi
yang belum mendapat giliran praktik. Pembelajaran berakhir pukul 10.50 WIB.
Observer,
(Moh. Aris P.)
118
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Siklus I Pertemuan II
Waktu : Rabu, 16 Maret 2011
Pukul : 9.15-10.50 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema buahbuahan,
barang-barang perabot rumah tangga, dan
daging hewan yang bisa dikonsumsi manusia.
Deskripsi Catatan Lapangan
Guru dan peneliti memasuki ruang kelas pukul 09.15. Siswa sudah terlebih
dahulu berada di ruangan. Suasana kelas tidak terlalu gaduh. Guru membuka pelajaran
dengan mengucapkan salam. Seperti biasa peneliti duduk dibangku paling belakang
untuk melakukan pengamatan. Guru mengingatkan kembali agar siswa
memperhatikan aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Guru memberikan waktu lima
menit untuk mempersiapkan diri. Setelah semuanya siap, guru menunjuk Gita
Anggriani untuk maju di depan,Ia membawakn tema tentang kulkas, dalam
penyampaian materi, Gita terlihat lebih percaya diri dan cukup semangat, pandangan
matanya sudah mulai menyebar keseluruh ruangan. Rizky mylina mendapat giliran
kedua, Ia tampil berpidato dengan mengetengahkan tema tentang budidaya belut.
Materi yang disampaikan kepada pendengar cukup jelas, namun kalimat ajakan masih
sedikit sekali. Wahyu Cahyanti mendapat giliran selanjutnya, , Intonasinya cukup
bagus, tidak terlalu monoton. Hanya saja pandangan matanya belum bisa fokus. Titik
Nur Rahmawati cukup lancar dalam membawakan materi, hanya saja pandangan
matanya kurang menyeluruh dan gerak-geriknya belum luwes, ia memasarkan kompor
gas. Titik Nur susanti, intonasi yang digunakan ketika berpidato persuasi cukup datar.
Afelia lancar dalam menyampaikan materi, pandangan matanya juga seudah cukup
menyebar keseluruh ruangan, penampilannya meyakinkan dan pebuh percaya diri.
Airin penampilannya cukup baik, hampir sama dengan penampilan Afelia. Safitri
menawarkan barang dagangan dengan penampilan yang rapi dan cukup meyakinkan,
dalam berpidato volume suaranya cukup bagus, Ia terlalu mengekspolr materi, lebih
119
banyak mengurai, namun tidak memperhatikan kalimat persuasif untuk mempengaruhi
pendengar. Mar’atus solihah berpidato tentang kompor gas, dalam berpidato ia masih
terpengaruh dengan bahasa Jawa. Ketika berpidato persuasi, ia lupa dengan kata-kata
yang hendak diucapkan, sehingga dalam keadaan tersebut ia mengatakan “si’ dilit, apa
ya, aduh ko’ lali”. Wuri Rejeki menggunakan volume suara pelan. Hal ini membuat
pendengar yang tempat duduknya dibelakang sampai-sampai mengeryitkan kening.
Kartika membawakan tema pidato tentang jeruk, ketika Kartika melafalkan kata Jeruk,
huruf konsonan /K/ tidak dibaca, sehingga berbunyi “jeru’”. Enjun Jurnasih
membawakan tema tentang buah semangka. Dalam praktinya, Ia belum bisa tampil
secara optimal, karena gerak-geriknya cukup kaku dan intonasinya cukup datar. Erma
Yulianti dalam membawakn pidatonya terlihat sekali masih mencoba mengingat-ingat
kata-kata yang ingin diucapkan, namun materi yang disampaikan cukup penuh, artinya
tidak terputus sebelum selesai. Astri dalam menyampaikan materi intonasinya msh
perlu diperbaiki lagi. Guntur berpenampilan meyakinkan. Etik pandangan matanya
kurang menyeluruh keseluruh ruangan. Poni Astutik berpidato tentang Jeruk, Ia cukup
bagus dalam membawakan materi. Titik Nursusanti cukup bagus dalam membawakan
materi. Selanjutnya giliran Maliada Yuliana, bila dilihat dari ketika ia tampil sebelum
dikenai tindakan dengan sekarang, terlihat sekali ada perbedaan, saat ini ia lebih bisa
membawa diri, artinya lebih percaya diri, walaupun masih banyak yang perlu
ditingkatkan lagi. Khotim membawakan materi tentang buah Semangka. Walaupun
sudah menguasai meteri dengan cukup baik, Khotim belum sepenuhnya mampu
memanfaatkan gerak-gerik dan mimik untuk menarik perhatian pendengar, pandangan
matanya juga belum sepenuhnya menyebar keseluruh ruangan, selain itu, meskipun ia
dapat menyampaikan pidato secara sistematis, namun, Khotim hanya menggunakan
satu kalimat ajakan , yaitu, “mari beli semangka” setelah itu ia menutup pidatonya.
Marlina dalam membawakan materi terlihat gerogi. Ana perwitasari sudah ada
peningkatan yang baik, namun sesekali rasa geroginya mudah diketahui oleh
pendengar, sehingga berpengaruh pada tingkat keykinan pendengar, selain itu
pandngan matanya juga belum menyeluruh. Khotim, Marlina, Ana Perwitasari nampak
masih malu-maluketika menyampaikan pidato, ketiganya terkadang tersenyum tanpa
seba, menggaruk-garuk kepala, memilin baju, tubuhnya hampir tak bergerak sama
120
sekali (kaku). Khotim, Marlina, Ana Perwitasari terlihat pandngan matanya kurang
menyeluruh. Ketiganya sama-sama sering melihat dinding belakang dan teman
sebangkunya. Namun demikian, Penampilan ketiganya (Khatim, Marlina, Ana
Perwitasari) sudah cukup bagus bila dibandingkan dengan sebelum dikenai tindakan.
Walau mereka belum optimal, tetapi setidaknya ada peningkatan yang cukup baik.
Penampilan Rika cukup bagus, ia membawakan materi tentang buah jeruk. Novia
membawakan tema tentang buah salak, dalam penyampaiannya, ia tidak lagi salah
dalam menempatkan struktur kata. Rika dan Novia tidak lagi mengulangi kesalahan,
mereka menggunakan struktur kata yang tepat.
Pada siklus I , mayoritas siswa dapat menggunakan materi dengan baik, selama
praktik berpidato, siswa cukup antusias mendengarkan. Siswa yang tadinya malu-malu,
kini sudah bisa tampil dengan lebih baik. Pada siklus satu ini, para siswa sudah dapat
menyampaikan pidato persuasi dengan cukup baik, semua siswa terlihat dapat menguasai
dengan cukup bai, walaupun dalam menyampaikan materi, sebagian diantaranya masih
malu-malu dan kurang mendalam. Materi dapat dikuasai dengan baik terutama oleh
Afelia Sindi dan Airin. Tindakan 1
Secara umum pembelajaran pada tindakan I, terlihat lebih hidup, hal ini dapat
dilihat dari respon dan antusias belajar siswa. Sebagian besar mereka terlihat aktif
berpendapat, mengeluarkan gagasan. Pukul 11.00 guru menutup pelajaran, sebelum
itu guru memberitahukan bahwa ketika dalam penilaian nanti skor masih belum
memenuhi nilai KKM maka siswa diminta untuk mempraktikkan pidato persuasi lagi.
Observer
(Moh. Aris P)
121
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Siklus II Pertemuan I
Waktu : Rabu, 30 Maret 2011
Pukul : 9.15-10.50 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema buah-buahan,
Deskripsi Catatan Lapangan
Guru dan peneliti masuk ke ruang kelas XI PM2 pada pukul 09.15. Guru
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa. Guru menanyakan
siapa yang pada hari itu tidak hadir. Pagi ini Afelia Sindi Utama tidak masuk karena
sakit. Guru menanyakan kabr murid dan menjelaskan perolehan skor siswa, guru
menunjukkan kelebihan-kelabihan yang telah dicapai siswa, dan menunjukkan
aspek-aspek yang belum sepenuhnya dikuasai siswa, dari penjelasan tersebut guru
meminta diadakan pidato persuasi lagi dengan metode yang sama. Siswa mendengar
penjelasan tersebut merasa senang, karena pembelajaran dikemas dalam bentuk
permainan yang menyenangkan. Bu Endang lebih memfokuskan penjelasan pada
aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek pelafalan , dan
aspek penguasaan materi.
Setelah mengulas kembali pembelajaran yang sebelumnya, selanjutnya yang
dilakukan guru adalah menjelaskan kembali proses berpidato persuasi dengan
menggunakan metode Twenty Questions, guru juga mengingatkan kembali hal-hal
yang perlu diperhatikan saat berpidato persuasi. Setelah itu guru memberikan
motivasi kepada siswa, siswa terlihat antusias mendegarkan motivasi dari guru.
Setelah itu guru membentuk kelompok dengan anggota yang baru.. kelompok yang
dimaksud adalah sebagi berikut:
122
Nama Keterangan
Dewi Krisnawati Kelompok satu
Mar’atus Sholihah
Novia Puji Lestari
Titik Nur Susanti
Ana Perwitasari
Natia
Rizky Mylina Kelompok dua
Maliada Yuliana
Enjun Jurnasih
Erma Yulianti
Airin Sri Handayani
Wahyu Cahyanti
Etik Poniastuti Kelompok tiga
Astri Larasati
Rika Apriyani
Kartika Tanjung
Titik Nur R
Gita Anggriani Kelompok empat
Erni Lestyaningsih
Desi Ambarwati
Novi Wulandari
Sahrul
Fetri Nurmala Yulaika
Vonda Aprilia Putri Kelompok lima
Fiti Susilowati
Dwi Febri H.
Wuri Rejeki
123
Pada tindakan II kali ini guru memberikan tema buah-buahan. Peneliti
mengamati terus jalannya permainan. Kelompok empat berhasil menerka jawaban
atau kata yang disembunyikan kelompok tiga, yaitu berhasil menjawab buah tomat,
dan melon, kelompok tiga juga demikian, mereka berhasil menjawab buah straberi
dan jeruk. Skor imbang menjadikan suasana semakin seru, akhirnya satu pertanyaan
yang diajukan guru sebagai penentu kelompok mana yang akan menang, guru
menyembunyikan kata ”pepaya”, akhirnya kelompok empatlah yang berhasil
menjawab, dengan demikian kelompok empat mendapatkan tambahan satu poin dan
memenangkan pertandingan. Kemudian kelompok lima mendapat poin 3 atas
kelompok enam. Kelompok lima berhasil menebak kata yang disembunyikan yaitu
belimbing dan melon, ia mendapat tambahan satu poin lagi karena berhasil
menjawab pertanyaan rebutan yang diajukan guru, adapun jawaban yang dimaksud
adalah kata atau buah nangka, Adapun keompok enam hanya berhasil menjawab
jambu buji dan semangka. Kelompok dua juga berhasil memenagkan pertandingan
atau permaianan dengan skor telak 3-1 atas kelompok dua. Kelompok dua berhasil
menjawab 3 kata sekaligus yaitu jambu air dan pisang, ia mendapat poin tiga karena
kelompok dua tidak berhasil menjawab satu pertanyaan yang diajukan kelompok
satu. Permainan berlangsung 20 menit. Guru meminta siswa untuk membuat naskah
pidato selama lima menit, tema pidato diambil dari kata-kata yang berhasil ditebak
dari serangkaian permaianan yang telah dilaksanakan. Guru terlihat membimbing
siswa secara sungguh-sungguh. Siswa mempersiapkan diri selama lima menit juga.
Guru kemudian meminta siswa untuk praktik berpidato persuasi dengan menunjuk
secara acak. Guntur Pamungkas mendapat giliran pertama, ia membawakan tema
tentang buah Jambu biji, dalam menyampaikan materi, ia sangat percaya diri,
Khotim Wiranti Kelompok enam
Guntur Pamungkas
Safitri Nur Handayani
Rousalia Ponce Gillie
Marlina
124
volume suara cukup terdengar pas dan pandangan matanya sudah bisa menyeluruh.
Marlina dalam pidatonya membicarakan tentang semangka, padangannya
menyeluruh keseluruh ruangan, artinya tidak hanya teman sebangkunya yang ia
lihat, melainkan seluruh pendengar dilihatnya dengan baik dan penuh perhatian.
Rizky Mylina membawakan tema tentang buah pisang, , ketika tampil Ia tak lagi
gerogi, dengan semangat atau segera Ia maju kedepan untuk mempresentasikan
barang dagangannya. Safitri Nur Handayani lancar dalam berpidato, ia berpidato
tentang jambu biji, ia mengeksplor khasiat jambu biji dan berusaha membujuk
pendengar agar mau membeli barang dagangannya. Desi Ambarwati membicarakan
tentang tomat, ia membawakan materi dengan baik. Kartika Tanjung berpidato
tentang buah straberi, Ia tampil berpidato dengan baik, tidak gerogi dan menguasai
medan. Mar’atus Sholihah berpidato dengan menawarkan apel kepada pendengar, ia
menguasai materi dengan baik dan lancer. Erma Yulianti membawakan materi
tentang pisang, ketika Ia berpidato, Ia memanfaatkan gerak tubuh dengan baik. Novi
Wulandari tampil dengan baik, ia membawakan tema buah tomat. Airin Sri
Handayani menawarkan buah pisang kepada pendengar, Ia terlihat menguasai materi
dan forum, ketika berpidato, pendengar antusias mendengarkan pidatonya. Rika
Apriyani terlihat bersemangat ketika berpidato tentang buah stroberi, ia tampil
dengan percaya diri. Guru memberikan apresiasi kepada siswa yang telah maju di
depan, setelah itu guru menutup pelajaran dengan salam. Waktu tepat menunjukkan
pukul 10.50 WIB.
Observer
(Moh. Aris P)
125
CATATAN LAPANGAN/FIELD NOTES
Siklus : Siklus II Pertemuan II
Waktu : Rabu, 6 April 2011
Pukul : 9.15-11.15 WIB
Objek : Siswa kelas XI PM2
Materi : Pidato persuasi dengan tema buah-buahan,
Guru dan Peneliti memasuki ruang kelas pukul 09.16. seperti biasa peneliti
duduk di kursi belakang. Guru membuka pelajaran dengan salam dan do’a. setelah
itu guru menagabsen siswa, siswa yang tidak hadir adalah Afelia Sindi, Ia tidak
masuk karena sakit. Pertemuan kali ini dimulai dengan pemberian motivasi kepasa
siswa. Kali ini guru mengemukakan kriteria mendapatkan nilai yang baik. Setelah
itu guru menjelaskan aspek-aspek yang belum dikuasai siswa, aspek yang dimaksud
adalah aspek sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, aspek intonasi, aspek
pelafalan, dan aspek penguasaan materi. Guru juga membuka pertanyaan bagi siswa
yang masih belum paham. Guru memberikan waktu lima menit agar siswa yang
belum tampil dapat mempersiapkan diri.
Kesempatan pertama jatuh pada Gita Anggriani menyampaikan meteri tentang
tomat, dalam pidatonya Ia berusaha meyakinkan pendengar dengan menggunakan
kalimat-kalimat ajakan semaksimal mungkin. Titik Nur Susanti mengetengahkan
tema tentang buah Apel, pilihan kata yang dipilih sesuai dengan gagasan, dalam
mennyampaikan materi, ia terlihat lancer dan tidak ragu-ragu. Vonda Aprilia Putri
berpidato dengan tema belimbing, penyampaian materinya sudah baik, ia juga
menyinggung makna filosofi dari buah belimbing itu sendiri, yang menurutnya
konon dipakai sunan kali jaga untuk berdakwah. Dwi Febri H membawakan tema
tentang melon, Ia menjelaskan khasiat melon untuk kesehatan kepada pendengar.
Natia Febi P berpidato dengan pembawaan yang cukup baik, adapun materi yang
disampaikan adalah tentang buah apel. Dewi Krisnawati membawakan materi
tentang Apel, penampilannya kurang optimal, terkadang masih melihat lantai, meski
demikian, bisa dikatakan penampilannya cukup baik. Wahyu Cahyanti
membawakan meteri tentang buah pisang, seolah-olah dia pedagang besar,
126
penampilannya meyakinkan pendengar, sama sekali tidak ada keraguan tentang apa
yang dikatakan. Fetri Nurmala Yulaika membawakan materi tentang khasiat buah
tomat, dalam penyampaiannya terlihat pandangan matanya melihat pendengar atu
bisa dikatakan ada kontak mata dengan pendengar. Pelafalannya juga bagus. Titik
Nur R berpidato tentang buah Jeruk, ia memaparkan manfaat buah jeruk untuk
kesehatan, kalimat-kalimat ajakan juga banyak sekali ia gunakan. Etik Poniastuti
juga membawkan tema yang sama, ia berpidato dengan lancer dan meyakinkan.
Wuri Rejeki membawakan tema belimbing, dalam pidatonya, Ia terlihat sama sekali
tidak malu, pendengar juga memperhatikan dengan baik tentang apa-apa yang
disampaikan Wuri. Ana Perwitasari dan Novia Puji Lestari sama-sama
membawakan materi tentang buah apel, keduanya memiliki kesamaan volume suara
yang bagus, Novi dalam pidatonya sempat membuat pendengar tersenyum. Rousalia
Ponce Gillie mengalami peningkatan yang signifikan, pada tindakan II ini ia terlihat
lebih bisa lepas, ia juga cukup baik dalam menyampaikan materi, artinya dalam
penyampaiannya, Ia cukup mengeklsplor materi dan juga berusaha mempengaruhi
pendengar, adapun materi yang Ia bawakan adalah tentang buah jambu biji. Khatim
berpenampilan rapi, dia masih mencoba mengingat-ingat kata-kata yang hendak
diucapkan, ketika berpidato di depan Ia terlihat cukup lepas. Adapun materi yang ia
angkat adalah berkaitan dengan buah semangka. Novia berpidato tentang buah Apel,
pandangan matanya sudah bagus, menyebar keseluruh ruangan, intonasinya juga
bagus. Ana Perwitasari berpidato tentang buah Apel, pada tahap tindakan kedua ini,
dia tampil lebih percaya diri, dapat membawakan materi dengan baik dan lancer.
Maliada Yuliana membawakan materi tentang khasiat buah pisang, dari pentingnya
buah pisang, ia berusaha membawa pendengar agar mau mengikuti ajakannya.
Sahrul juga meyakinkan dalam meyampaikan pidatonya, ia membawakan materi
tentang buah tomat. Astri Larasati berpidato persuasi dengan pembawaan yang baik,
pandangan matanya dapat menyebar keseluruh ruangan, Ia memasarkan tentang
buah jeruk. Enjun Jurnasih menjelaskan tentang buah pisang, dalam menjelaskan
materi sudah cukup sistematis, tidak gerogi dan percaya diri. Erni Lestyaningsih
membicaran tomat, penampialnnya cukup baik dan pendengar juga
memperhatikannya dengan antusias. Fiti Susilowati mengalami perkembangan yang
127
signifikan, Ia membawakan materi dengan lancer dan berpenampilan meyakinkan,
suaranya juga terdengar baik hingga bangku belakang, Fiti berpidato tentang buah
belimbing.Aewi membawakan materi tentang buah Apel. Keterampilan
berpidatonya sudah bagus, terlihat tidak gerogi dan meyakinkan. Semua siswa
tampil dengan baik, ketika menyampaikan pidatonya, terlihat siswa sudah dapat
menguasai materi dengan baik. Pada aspek pilihan kata, semua siswa sudah
menggunakan kata yang sesuai atau mendukung tema. Tema buah-buahan
merupakan tema yang disukai siswa, pengetahuan siswa tentang tema tersebut cukup
luas. Hal ini membuat mereka dapat menguasai materi dengan baik, selain itu, siswa
juga terbantu dengan adanya metode Twenty Questions. Pada siklus II, suasana kelas
tampak hidup karena pendengar mendengarkan dengan baik dan komunikatif.
Pembelajran kali ini selesai pukul 11.15, bu Endang sengaja dan sudah meminta ijin
kepada guru maple lain agar jamnya diambil sementara waktu. Guru memberikan
refleksi terkait dengan pembelajaran yang telah dilalui. Guru memberikan apresiasi
kepada siswa dan menutup pelajaran dengan salam.
Observer
(Moh. Aris P)
128
Lampiran 3: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS I)
Sekolah : SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XI Semester 2
Standar Kompetensi : Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
setara dengan kualifikasi madya
Kompetensi Dasar : Berpidato yang bermakna dalam konteks bekerja
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit
1. Tujuan Pembelajaran:
a) Siswa dapat membedakan faktor kebahasaan dan non kebahasaan
dalam berpidato persuasi
b) Siswa dapat mengidentifikasi gagasan pada tema yang telah
ditentukan
c) Siswa mampu praktik berpidato persuasi di depan kelas dengan
memperhatikan faktor kebahasaan dan non kebahasaan
2. Materi Pembelajaran:
a) Pengertian pidato persuasi
Pidato persuasi adalah pidato atau pesan yang disampaikan kepada
sekelompok khalayak oleh seorang pembicara yang bertujuan untuk
mempengaruhi pilihan khalayak agar bersedia mengikuti kehendak
pembicara
b) Faktor kebahasaan dan non kebahasaan yang terdapat dalam pidato
persuasi.
- faktor kebahasaan, meliputi: (a) ketepatan ucapan,(b) penempatan
tekanan nada, sendi dan durasi(c) pilihan kata, (d) ketepatan
penggunaan kalimat serta tata bahasanya, (e) ketepatan sasaran
pembicaraan.
- faktor nonkebahasaan, meliputi: (a) sikap yang wajar, tenang dan
tidak kaku,(b) pandangan harus diarahkan pada lawan bicara,(c)
kesediaan menghargai pendapat orang lain,(d) gerak-gerik dan
mimik yang tepat,(e) kenyaringan,(f) kelancaran,(g)
relevansi/penalaran, dan (h) penguasaan topik.
c) Metode Twenty Questions
Metode Twenty Questions adalah model pembelajaran dengan cara
bermain. Dalam permainan ini para siswa berusaha menerka atau
menemukan sesuatu yag dirahasiakan oleh pihak lain dengan jalan
mengajukan pertanyaan sebanyak dua puluh kali. Pertanyaanpertanyaan
tersebut harus disusun sedemikian rupa sehingga
memperoleh jawaban ya atau tidak.
129
3. Metode Pembelajaran
a) Metode Twenty Questions
b) Tanya jawab
4. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan pertama
a. Kegiatan Awal
1. Siswa berdo’a
2. Guru membuka pelajaran (apersepsi, dan presensi) dan menyampaikan
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh
siswa
b. Kegiatan Inti
Eksplorasi
1. Siswa bertanya jawab tentang pengetahuan dasar siswa mengenai
pidato persuasi
2. Guru menjelaskan faktor kebahasaan dan non kebahasaan sebagai
penunjang
kefektifan berpidato
3. Guru menjelaskan tentang metode Twenty Questionss pada materi
berpidato persuasi
4. Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan metode Twenty
Questions serta menjelaskan peraturan permainan.
(1) Siswa dibagi menjadi enam kelompok (A, B, C, D, E, F).
(2) Masing-masing kelompok dibagi menjadi dua termin;pada
giliran pertama bertindak sebagai penjawab, selanjutnya
bertindak sebagai penanya.
(3) Masing-masing siswa dalam setiap kelompok mendapat
penugasan dari guru supaya ada pemerataan tanggung jawab.
Misalnya: Pada kelompok yang mendapat giliran sebagai
penjawab (regu A, B, C) Siswa pertama bertugas menjelaskan
tema, siswa kedua bertugas sebagai moderator, siswa ketiga
bertugas menjawab ya atau tidak atas pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan pihak lawan, sedangkan siswa keempat dan
kelima bertugas mengecek jumlah pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan pihak lawan supaya tidak melampaui batas (dua puluh
pertanyaan).
130
(4) Pada kelompok yang mendapat giliran penjawab (regu D, E, F)
semua anggota kelompok mendiskusikan perkiraan jawaban
dari pihak lawan. Siswa pertama bertugas sebagai pencatat
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, siswa kedua, ketiga dan
keempat bertugas sebagai penanya, siswa kelima dan keenam
bertugas menyimpulkan.
(5) Kelompok penjawab (regu A, B, C) menuliskan kata atau
istilah pada secarik kertas kemudian kertas tersebut dilipat dan
disembunyikan. Kata yang dituliskan itu misalnya kipas angin.
(6) Kelompok penanya (regu D, E, F) mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang hanya boleh di jawab ya atau tidak.
(7) Pada giliran berikutnya dibalik, yaitu regu A, B, C sebagai
penanya sedangkan regu D, E, F sebagai penjawab.
(8) Selanjutnya, giliran diberikan terus secara bergantian sampai
lima kali penampilan.
(9) Setelah itu jumlah kemenangan dihitung, regu yang paling
banyak memperoleh kemenangan dinyatakan sebagai
pemenang akhir.
(10) Dari jawaban yang berhasil ditemukan, semua anggota
kelompok merancang teks pidato yang gagasan utamanya
diambil dari hasil permainan tadi. Siswa dapat menggunakan
bantuan dari pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya
diajukan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam
berpidato.
5. Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang metode Twenty
Questions
Elaborasi
1. Regu penanya (regu A, B, C) mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada regu penjawab (regu D, E, F).
2. Pada giliran berikutnya dibalik, regu yang tadinya bertugas sebagai
penanya sekarang bertugas sebagai penjawab.
131
3. Guru mengamati sekaligus mengarahkan peserta permainan.
4. Guru memberikan bimbingan pada siswa tentang bagaimana cara
mencari gagasan dengan cara metode Twenty Questions yang berasal
dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pihak regu lawan.
5. Siswa menyusun teks pidato persuasi.
Konfirmasi
1. Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung.
c. Kegiatan Akhir
1 Komentar siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang baru saja dilalui
2 Guru menutup pelajaran
Pertemuan kedua
a. Kegiatan Awal
1. Siswa berdo’a
2. Guru membuka pelajaran (apersepsi, dan presensi) dan
menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai terkait
berpidato persuasi dengan menerapkan metode Twenty Questions
b. Kegiatan Inti
Eksplorasi
1. Siswa mencermati kembali materi pada pertemuan pertama
2. Siswa dan Guru tanya jawab seputar pelaksanaan pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan metode Twenty Questionss
Elaborasi
1. Siswa diberi waktu beberapa menit agar siswa mempersiapkan diri
untuk berpidato persuasi
2. Siswa melanjutkan praktik berpidato persuasi
3. Guru melakukan pengamatan terhadap kekurangan yang dihadapi
siswa pada saat praktik berpidato persuasi
Konfirmasi
1. Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung
c. Kegiatan Akhir
1. Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
Pertemuan ketiga
a. Kegiatan Awal
1. Siswa berdo’a
2. Guru membuka pelajaran (apersepsi, dan presensi) dan menyampaikan
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh
siswa
b. Kegiatan Inti
Eksplorasi
1. Siswa mencermati kembali materi pada pertemuan kedua
Elaborasi
132
1. Guru memberikan waktu beberapa menit agar siswa mempersiapkan
diri untuk berpidato persuasi
2. Guru mulai memanggil satu persatu siswa yang pada pertemuan kedua
siklus 1 ini belum sempat praktik berpidato persuasi
3. Guru dan peneliti melakukan pengamatan terhadap jalannya
pembelajaran berpidato persuasi
Konfirmasi
1. Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung
c. Kegiatan Akhir
1. Siswa bersama melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah
dilalui
5. Sumber Belajar
a. Arsjad, Mardar dan Mukti U.S. 1993. Pembimbingn Kemampuan
Berbicara Bahasa Indonesia.Jakrta: Airlangga
b. Buku teks
c. Depdiknas.2003. Kamus Besar Bahasa Indobesia: Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka
d. Rahmat, Jalaludin.2000. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung:
PT. Rosdakarya
e. Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Klaten: Intan Pariwara.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes lisan
b. Instrumen : Berpidatolah sesuai topik yang telah guru tentukan!
Rubrik Penilaian :
Pedoman Penilaian Tes Keterampilan Berpidato Persuasi
Nama :
No. Presensi :
Tema :
No. Aspek Skala Skor
1 2 3 4 5
1. Pilihan kata
2. Struktur
3. Pelafalan
4. Intonasi
5. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
6. Penguasaan medan
7. Penguasaan materi
8. Gerak-gerik dan mimic
9. Penalaran
10. Kemampuan megarahkan opini
Jumlah total
Nilai
133
Nilai akhir = perolehan skor x 100
skor maksimal (50)
Depok, 17 Januari 2011
Mengatahui,
Guru Mata Pelajaran
Dra. Endang Sripurwanti
NIP 19580517 197803 2005
Observer,
Moh. Aris Prasetiyanto
NIM 06201241009
134
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS II)
Sekolah : SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XI Semester 2
Standar Kompetensi : Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
setara dengan kualifikasi madya
Kompetensi Dasar : Berpidato yang bermakna dalam konteks bekerja
Indikator : 1. Mengetahui faktor kebahasaan dan non
kebahasaan dalam berpidato persuasi.
2. Mampu mengidentifikasi gagasan melalui metode
Twenty Questions dalam berpidato persuasi.
3. Mampu praktik berpidato persuasi di depan kelas
dengan
memperhatikan faktor kebahasaan dan non
kebahasaan
berdasarkan metode Twenty Questions
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit
1. Tujuan Pembelajaran:
a) Siswa dapat mengetahui faktor kebahasaan dan non kebahasaan dalam
berpidato persuasi
b) Siswa dapat mengidentifikasi gagasan melalui metode Twenty
Questionss dalam berpidato persuasi
c) Siswa mampu praktik berpidato persuasi di depan kelas dengan
memperhatikan faktor kebahasaan dan non kebahasaan berdasarkan
metode Twenty Questions
2. Materi Pembelajaran:
a) Faktor kebahasaan dan non kebahasaan yang terdapat dalam pidato
persuasi
3. Metode Pembelajaran
a) Metode Twenty Questions
b) Tanya jawab
4. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan pertama
a. Kegiatan Awal
1) Guru membuka pelajaran ( berdoa, presensi )
2) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai terkait
berpidato persuasi dengan menerapkan metode Twenty Questions.
b. Kegiatan Inti
Eksplorasi
135
1) Guru menjelaskan kembali pelaksanaan metode Twenty Questions
pada materi berpidato persuasi yang telah dilaksanakan pada
pertemuan sebelumnya.
2) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan metode Twenty
Questions
3) Guru menjelaskan peraturan permainan
(1) Siswa dibagi menjadi enam kelompok (A, B, C, D, E, F)
(2) Masing-masing kelompok dibagi menjadi dua termin;pada
giliran pertama bertindak sebagai penjawab, selanjutnya
bertindak sebagai penanya.
(3) Masing-masing siswa dalam setiap kelompok mendapat
penugasan dari guru supaya ada pemerataan tanggung
jawab. Misalnya: Pada kelompok yang mendapat giliran
sebagai penjawab (regu A, B, C) Siswa pertama bertugas
menjelaskan tema, siswa kedua bertugas sebagai moderator,
siswa ketiga bertugas menjawab ya atau tidak atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak lawan,
sedangkan siswa keempat dan kelima bertugas mengecek
jumlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak lawan
supaya tidak melampaui batas (dua puluh pertanyaan)
(4) Pada kelompok yang mendapat giliran penjawab (regu D,
E, F) semua anggota kelompok mendiskusikan perkiraan
jawaban dari pihak lawan. Siswa pertama bertugas sebagai
pencatat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, siswa
kedua, ketiga dan keempat bertugas sebagai penanya, siswa
kelima dan keenam bertugas menyimpulkan.
(5) Kelompok penjawab (regu A, B, C) menuliskan kata atau
istilah pada secarik kertas kemudian kertas tersebut dilipat
dan disembunyikan. Kata yang dituliskan itu misalnya
kipas angin.
(6) Kelompok penanya (regu D, E, F) mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang hanya boleh di jawab ya atau tidak,
(7) pada giliran berikutnya dibalik, yaitu regu A, B, C sebagai
136
penanya sedangkan regu D, E, F sebagai penjawab,
(8) selanjutnya, giliran diberikan terus secara bergantian
sampai lima kali penampilan
(9) setelah itu jumlah kemenangan dihitung, regu yang paling
banyak memperoleh kemenangan dinyatakan sebagai
pemenang akhir.
(10) Dari jawaban yang berhasil ditemukan, semua anggota
kelompok merancang teks pidato yang gagasan utamanya
diambil dari hasil permainan tadi. Siswa dapat
menggunakan bantuan dari pertanyaan-pertanyaan yang
sebelumnya diajukan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan
siswa dalam berpidato.
4) Guru dan siswa melakukan tanya jawab tentang metode Twenty
Questions
Elaborasi
1) Regu penanya (regu A, B, C) mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada regu penjawab (regu D, E, F)
2) Pada giliran berikutnya dibalik, regu yang tadinya bertugas sebagai
penanya sekarang bertugas sebagai penjawab
3) Guru mengamati sekaligus mengarahkan peserta permainan
4) Guru memberikan bimbingan pada siswa tentang bagaimana cara
mencari gagasan dengan cara metode Twenty Questions yang berasal
dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pihak regu lawan.
5) Guru meminta siswa menyusun teks pidato persuasi
Konfirmasi
1) Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung
c. Kegiatan Akhir
1) Komentar siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang baru saja dilalui
2) Guru menutup pelajaran
Pertemuan kedua
a. Kegiatan Awal
1) Guru membuka pelajaran ( berdoa, presensi )
2) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai terkait
berpidto persuasi dengan menerapkan metode Twenty Questions
137
b. Kegiatan Inti
Eksplorasi
1) Guru meminta siswa mencermati kembali materi pada pertemuan
pertama
2) Guru dan siswa tanya jawab seputar pelaksanaan pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan metode Twenty Questions
Elaborasi
1) Guru memberikan waktu beberapa menit agar siswa mempersiapkan
diri untuk berpidato persuasi
2) Siswa melanjutkan praktik berpidato persuasi
3) Guru melakukan pengamatan terhadap kekurangan yang dihadapi
siswa pada saat praktik berpidato persuasi
Konfirmasi
1) Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung
c. Kegiatan Akhir
1) Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
Pertemuan ketiga
Kegiatan Awal
1) Guru membuka pelajaran ( berdoa, presensi )
2) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai terkait
berpidto persuasi dengan menerapkan metode Twenty Questions.
Kegiatan Inti
Eksplorasi
1) Guru meminta siswa mencermati kembali materi pada pertemuan
kedua
Elaborasi
1) Guru memberikan waktu beberapa menit agar siswa mempersiapkan
diri untuk berpidato persuasi
2) Guru mulai memanggil satu persatu siswa yang pada pertemuan kedua
siklus II ini belum sempat praktik berpidato persuasi
3) Guru dan peneliti melakukan pengamatan terhadap jalannya
pembelajaran berpidato persuasi
Konfirmasi
1) Guru memberikan pujian lisan sebagai bentuk apresiasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran yang telah berlangsung
c. Kegiatan Akhir
1) Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang
telah dilalui
5. Sumber Belajar
a. Arsjad, Mardar dan Mukti U.S. 1993. Pembimbingn Kemampuan
Berbicara Bahasa Indonesia.Jakrta: Airlangga
b. Buku teks
c. Depdiknas.2003. Kamus Besar Bahasa Indobesia: Edisi Ketiga. Jakarta.
BalaiPustaka
d. Rahmat, Jalaludin.2000. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung:
138
PT Remaja Rosdakarya
e. Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Klaten: Intan Pariwara.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes lisan
b. Instrumen : Berpidatolah sesuai topik yang telah guru tentukan!
Pedoman Penilaian Tes Keterampilan Berpidato Persuasi
Nama :
No. Presensi :
Tema :
No. Aspek Skala Skor
1 2 3 4 5
11. Pilihan kata
12. Struktur
13. Pelafalan
14. Intonasi
15. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
16. Penguasaan medan
17. Penguasaan materi
18. Gerak-gerik dan mimic
19. Penalaran
20. Kemampuan megarahkan opini
Jumlah total
Nilai
Nilai akhir = perolehan skor x 100
skor maksimal (50)
Depok, 17 Januari 2011
Mengatahui,
Guru Mata Pelajaran
Dra. Endang Sripurwanti
NIP 19580517 197803 2005
Observer,
Moh. Aris Prasetiyanto
NIM 06201241009
139
Lampiran 4: Kisi-kisi Angket
KISI-KISI ANGKET
Kisi-kisi angket pratindakan
Indikator Butir Jumlah Butir
Pengetahuan awal siswa
tentang pidato persuasi
1,2 2
Mengetahui kesukaan
pada pidato persuasi
3 1
Mengetahui tingkat
kesulitan siswa dalam
berpidato persuasi
4,5,6 3
Kemauan untuk
maju/menguasai
keterampilan berpidato
persuasi
7 1
Kisi-kisi angket pascatindakan
Indikator Butir Jumlah butir
Keberhasilan pembelajaran
dengan metode Twenty questions
1, 2, 3, 4, 5, 5
Interaksi belajar siswa dalam
kelompok
6, 7 2
Penilaian siswa 8 1
Penilaian siswa terhadap metode
Twenty Questions
9, 10 2
140
Lampiran 5: Angket Pratindakan
ANGKET PRATINDAKAN
Nama :
No. Absen :
Kelas :
1. Apakah anda sering berpidato persuasi?
a. Ya b. tidak
2. Ketika belajar materi pidato persuasi, apakah guru member perintah kepada
anda untuk praktik berpidato di depan kelas?
a. Ya b. tidak
3. Apakah Anda merasa senang jika mendapat tugas untuk praktik berpidato
Persuasi dari guru?
a. Ya b. tidak
4. Ketika berpidato persuasi, apakah anda bisa menyampaikan gagasan dengan baik
(lancar)?
a. Ya b. tidak
5. Ketika berpidato persuasi apakah Anda bias menguasai audien (artinya audien
atau penonton antusias)?
a. Ya b. tidak
6. Dalam berpidato persuasi apakah Anda masih merasa malu, takut, dan minder?
a. Ya b. tidak
Alasan:………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
7. Menurut Anda perlukah suatu teknik yang digunakan untuk mendukung
keberhasilan berpidato persuasi?
a. Ya b. tidak
141
Lampiran 6: Angket Pascatindakan
ANGKET PASCATINDAKAN
Nama :
No. Absen :
Kelas :
Setelah beberapa kali pertemuan, Anda mendapat pelajaran bahasa
Indonesia khususnya materi, kami ingin mengetahui pendapatmu tentang kegiatan
belajar mengajar yang telah kita laksanakan. Jawablah dengan jujur apa adanya
yang Anda alami dan rasakan. Jangan khawatir, jawaban Anda tidak akan
berpengaruh terhadap nilai kalian. Terimakasih
No. Pertanyaan Ya Tidak
1. Dengan metode Twenty Questions cara berfikir saya menjadi
teratur, sehingga membantu saya dalam menganilis suatu barang
(barang dagangan)
2. Apakah dengan menerapkan metode Twenty Questions dapat
meningkatkan keterampilan Anda dalam berpidato persuasi?
3. Metode Twenty Questions membantu saya untuk lebih lancar dan
baik dalam berpidato persuasi
4. Pembelajaran berpidato persuasi lebih berfariasi dengan adanya
metode atau permaianan Twenty Questions
5. Penggunaan metode Twenty Questions dalam pembelajaran
berpidato persuasi ini membantu saya mencari atau mengeksplor
gagasan?
6. Ketika permainan sedang berlangsung, apakah masih ada peserta
kelompok Anda yang berbicara paling sering?
7. Apakah Anda dan rekan Anda sudah berusaha saling membantu
dengan yang lain mengutarakan jawaban?
8. Apakah Anda sudah mendengarkan pendapat satu sama lain
9. Penggunaan Metode Twenty Questions menyebabkan pembelajaran
berpidato persuasi tidak monoton lagi.
10. Menurut Anda, Apakah kegiatan berpidato persuasi menggunakan
metode Twenty Questions
11. Apakah pelaksanaan berpidato persuasi dengan metode Twenty
Questions memberikan kesan pada diri Anda?
Alasan………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
…………………………………………………………………….
142
Lampiran 7: Hasil Angket Pratindakan
Hasil Angket Pratindakan
No. Jawaban Siswa
Ya tidak Keterangan
Frekuensi Presentase
(%)
Frekuensi Presentase
(%)
1 1 2,94 % 33 97,05 %
2. 29 85,29 % 5 14,70 %
3. 13 38,23 % 21 61,76 %
4. 3 8,82 % 31 91,17 %
5 5 14,70 % 29 85,29 %
6. 32 94,11 % 2 5,88 %
7 34 100 % - Malu/gerogi.
Kurang percaya
diri, belum
menguasai materi
143
Lampiran 8: Hasil Angket Pascatindakan
Hasil Angket Pascatindakan
No. Jawaban Siswa
Ya tidak Keterangan
Frekuensi Presentase
(%)
Frekuensi Presentase
(%)
1 33 97,05 1 2,94
2. 34 100 -
3. 31 91,17 3 8,82
4. 33 97,05 1 2,94
5 30 88,23 4 11,76
6. 19 55,88 15 44,11
7. 32 94,11 2 5,88
8. 31 91,17 3 8,82
9. 26 76,47 8 23,52
10. 33 97,05 1 2,94
11. 31 91,17 3 8,82 Kesan:
Memudahkan
dalam
mengeksplor
gagasan,
membantu
menganailis suatu
barang, membuat
berpikir lebih
teratur., membuat
suasana kelas
menjadi
menyenangkan dan
tidak monoton
144
Lampiran 9: Pedoman Wawancara
Pedoman Wawancara
Wawancara dengan Guru
A. Observasi Awal
1. Bagaimana keadaan siswa ketika proses pembelajaran berpidato persuasi
berlangsung
2. Kesulitan apa yang sering Ibu hadapi ketika melaksanakan pembelajaran
berpidato persuasi di kelas?
3. Apa saja kelemahan siswa yang sering muncul dalam pembelajaran berpidato
persuasi?
4. Bagaimana cara Ibu untuk mengatasi permasalahan tersebut?
5. Teknik pembelajaran apa yang biasa Ibu gunakan dalam melaksanakan
pembelajaran berpidato persuasi?
B. Sesudah Siklus II
1. Kendala apa saja yang sering Ibu hadapi ketika melakukan praktik metode Twenty
Questions dikelas?
2. Apakah dengan menggunakan metode Twenty Questions dapat mengatasi
permasalahan atau kesulitan yang Ibu hadapi
3. Apa yang Ibu rasakan ketika menerapkan metodeTwenty Questions ?
4. Apakah siswa merasakan kebosanan atau jenuh?
5. Apakah dengan menggunakan metode Twenty Questions cukup efektif untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa?
145
WAWANCARA DENGAN SISWA
1. Kesulitan apakah yang Anda hadapi ketika berpidato persuasi?
Kurang bias menguasai materi dan kurang bias kontak mata
2. Ketika pembelajaran berlangsung, apakah anggota kelompok yang lain
tidak bias focus dan mendominasi forum?
Tidak ada, soalnya itu semua kerjasama dengan teman-teman
3. Pernahkan Anda Menggunakan metode pembelajaran yang lain sebelum
melaksanakan metode Twenty Questions?
Belum pernah.
4. Menurut Anda, Apakah metode Twenty Questions dapat membantu siswa
dalam berpidato persuasi?
Enak dan mengaksikan, dan tidak bosan, metode itu bagus sekali, solanya
kan untuk siswa jurusan pemasaran sangat penting karena siswa harus bias
mempengaruhi konsumen ketikan menawarkan barang mas.
5. Apakah yang Anda rasakan ketika melaksanakan metode Twenty
Questions?
Menurut saya memudahkan saya untuk berfikir analitis karena dapat
menguraikan atau mengeksplor gagasan.
146
Lampiran 10: Transkrip Hasil Wawancara
A. Hasil wawancara dengan guru pada saat observasi awal
P: Apakah Bu Endang sering melaksanakan praktik pidato persuasi dikelas?
G: Jarang mas pembeajaran brpidato persuasi
P: Bagaimana keadaan siswa ketika pembelajaran berlangsung bu’?
G: Macem-macem mas, ada yang serius ada yang masih rame sendiri dengan
teman sebangkunya, tapi yang rame sedikit, hanya mereka terlihat kurang
bersemangat.
P: Kesulitan apa yang sering Ibu hadapi ketika melaksanakan pembelajaran
berpidato persuasi di kelas?
G: Anak terkadang tidak fokus, terlihat kurang bersemangat, mereka kurang bias
menguasai materi dan masih malu-malu,
P: Bagaimana cara Ibu mengatasi permasalahan tersebut?
G: Ya, menegur mas, menasehati agar mereka bias fokus materi.
P: Teknik pembelajaran apa yang pernah digunakan ketika pembelajaran
berpidato persuasi berlangsung bu’?
G: seperti biasa mas, menjelaskan di depan, saya beri contoh dan praktik,
terkadang juga saya beri poster, media iklan serta terkadang anak-anak juga
saya putarkan kaset.
P: Ok bu’ terimakasih waktu dan sharingnya.
B. Hasil wawancara dengan guru setelah siklus II
P: Kendala apa saja yang sering Ibu hadapi ketika melakukan praktik metode
Twenty Questions dikelas?
G: Hampir tidak ada mas, karena anak-anak juga lebih fokus pada permainan
sehingga tidak perlu terus mengingatkan seperti pelajaran-pelajaran sebelumnya.
P: Apakah dengan menggunakan metode Twenty Questions dapat mengatasi
permasalahan atau kesulitan yang Ibu hadapi?
G: tentu mas, anak-anak suka belajar sambil bermaian, mereka terlihat antusias,
metode ini membantu siswa untuk berfikir sistematis.
147
P: Apa yang Ibu rasakan ketika menerapkan metodeTwenty Questions ?
G: Senang sekali, karena anak tersegarkan dengan hal yang baru
P: Apakah siswa merasakan kebosanan atau jenuh?
G: Tidak, justru mereka senang, dan lebih berani tampil PD.
P: Apakah dengan menggunakan metode Twenty Questions cukup efektif untuk
meningkatkan keterampilan berpidato persuasi siswa?
G: Jelas mas, karena metode ini membantu siswa berfikir sitematis dan kritis.
Lebih-lebih belum pernah ada metode lain yang diterapkan di sini sebelumnya.
C. Hasil wawancara dengan siswa setelah siklus II
P : Kesulitan apakah yang Anda hadapi ketika berpidato persuasi?
S :Kurang bias menguasai materi dan kurang bias kontak mata
P :Ketika pembelajaran berlangsung, apakah anggota kelompok
yang lain tidak bisa focus dan mendominasi forum?
S :Tidak ada, soalnya itu semua kerjasama dengan teman-teman
P :Pernahkah Anda Menggunakan metode pembelajaran yang lain
sebelum melaksanakan metode Twenty Questions?
S : Belum pernah.
P :Menurut Anda, Apakah metode Twenty Questions dapat
membantu siswa dalam berpidato persuasi?
S :Enak dan mengaksikan, dan tidak bosan, metode itu bagus sekali,
solanya kan untuk siswa jurusan pemasaran sangat penting karena
siswa harus bias mempengaruhi konsumen ketikan menawarkan
barang mas.
P :Apakah yang Anda rasakan ketika melaksanakan metode Twenty
Questions?
S :Menurut saya memudahkan saya untuk berfikir analitis karena
dapat menguraikan atau mengeksplor gagasan.
148
Lampiran 11: Pedoman Pengamatan Pembelajaran dengan Metode Twenty
Questions
Pokok Bahasan :
Hari /tanggal :
Kelompok :
Anggota :
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama)
2 Memotivasi anggota lain
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis
4 Inisiatif kerja dalam kelompok
5 Keaktifan
Keterangan :
4 : Keterampilan sangat baik
3 : Keterampilan baik
2 : Keterampilan cukup baik
1 : Keterampilan kurang baik
149
Lampiran 12: Hasil Pengamatan Pembelajaran dengan Metode Twenty
Questions
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011 (Siklus I)
Kelompok : 1
Anggota : Ana Perwitasari (ketua kelompok), Dewi, Mar’atus
Sholhah, Novia Puji lestari, Titik Nursusanti
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
Keterangan :
4 : Keterampilan sangat baik
3 : Keterampilan baik
2 : Keterampilan cukup baik
1 : Keterampilan kurang baik
150
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : II
Anggota : Ari Lestari(ktua kelompok), Khotim Wiranti, Marlina, Enjun
Jurnasih, guntur, Erma Yulianti
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
151
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : III
Anggota : Astri Larasati(ketua kelompok), Etik Poniastutik, Kartika
Tanjung, Rika Apriyani, Rousalina dan Titik Nur
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
152
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : IV
Anggota : Afelia Sindi Utama (ketua kelompok), Sahrul, Erni
Lestyaningsih, Desi Ambarwati.
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
153
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : V
Anggota : Wahyu Cahyanai (ketua kelompok), Dewi Febri, Fiti
Susilowati, Vonda Aprilia, Wuri Rejeki.
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
154
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
perabot rumah tangga dan buah-buahan
Hari /tanggal : 16 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : VI
Anggota :Sri Handayani (ketua kelompok), Airin, Safitri Nur Handayani,
Rizki Mylina, Gita Anggriani, Maliada
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
155
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus II)
Kelompok : I
Anggota : Dewi Krisnawati(ketua kelompok), Mar’atus Sholihah,
Ana Perwitasari, Novia Puji Lestari, Ana Perwitasari, Titik Nur Susanti
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
156
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus II)
Kelompok : II
Anggota : Wahyu Cahyanti (ketua kelompok) Rizky Mylina,
Maliada Yuliana, Enjun Jurnasih, ErmaYulianti, Airin Sri Handayani,
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
157
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus II)
Kelompok : III
Anggota : Etik Poniastuti (ketua kelompok), Astri Larasati, Rika
Apriyani, Titik Nur R
Kartika Tanjung
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
158
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus II)
Kelompok : IV
Anggota : Fetri Nurmala Yulaik, Sahrul, Gita Anggriani, Erni,
Lestyaningsih, Desi Ambarwati, Novi Wulandari
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
159
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus 1I)
Kelompok : V
Anggota : Vonda Aprilia Putri (ketua kelompok), Fiti Susilowati,
Dwi Febri H, Wuri Rejeki, Titik Nur Rahmawati
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
160
Pokok Bahasan : Permainan metode Twenty Questions dengan tema
buah-buahan
Hari /tanggal : 30 Maret 2011(Siklus 1)
Kelompok : VI
Anggota : Khotim Wiranti, Guntur Pamungkas ,Safitri Nur
Handayani, Rousalia Ponce Gillie, Marlina
No Aspek yang diamati Skala Tindakan
1 2 3 4
1 Kekompakan (saling bekerja sama) √
2 Memotivasi anggota lain √
3 Logika berfikir analitis, sintesis, dan kritis √
4 Inisiatif kerja dalam kelompok √
5 Keaktifan √
161
Lampiran 13: Daftar Nama Siswa Kelas XI PM2
No. Nama
1. Afelia Sindi Utama
2. Airin Sri Handayani
3. Ana Perwitasari
4. Ari Lestari
5. Astri Larasati
6. Desi Ambarwati
7. Dewi Krisnawati
8. Dwi Febri H.
9. Enjun Jurnasih
10. Erma Yulianti
11. Erni Lestyaningsih
12. Etik Poniastuti
13. Fetri Nurmala Yulaika
14. Fiti Susilowati
15. Gita Anggriani
16. Guntur Pamungkas
17. Kartika Tanjung
18. Khotim Wiranti
19. Maliada Yuliana
20. Mar’atus Sholihah
21. Marlina
22. Natia Febi P
23. Novi Wulandari
24. Novia Puji Lestari
25. Rika Apriyani
26. Rizky Mylina
27. Rousalia Ponce Gillie
28. Safitri Nur Handayani
29. Titik Nur Rahmawati
30. Titik Nur Susanti
31. Vonda Aprilia Putri
32. Wahyu Cahyanti
33. Wuri Rejeki
34. Sahrul
162
Lampiran 14: Skor Pretes Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
Skor Pretes Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa
Kode
Aspek yang dinilai Jumla
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 h Skor
S1 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32
S2 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 32
S3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S4 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 28
S5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S6 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 26
S7 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S8 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 27
S9 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 29
S10 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 27
S11 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 28
S12 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S13 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
S14 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 29
S15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S16 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 32
S17 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
S18 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 27
S19 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 28
S20 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 28
S21 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S22 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 30
S23 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 28
S24 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S25 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S26 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S27 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S28 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S29 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 29
S30 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S31 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 27
S32 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S33 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
S34 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
Jumlah 101 104 100 101 100 98 101 99 88 89 981
Ratarata
2.97 3.06 2.94 2.97 2.94 2.88 2.97 2.91 2.59
2.6
2 28.85
163
Lampiran 15: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi Siswa Siklus I.
Kode
Aspek yang dinilai Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor
S1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
S2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
S3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 34
S4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 32
S5 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 34
S6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S7 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S8 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S9 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 35
S10 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 32
S11 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 31
S12 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 34
S13
S14 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 31
S15 4 3 4 3 3 3 4 3 4 4 35
S16 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 38
S17 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 32
S18 3 4 4 3 3 2 3 2 3 3 30
S19 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S20 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S21 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
S22
S23 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 35
S24 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
S25 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 37
S26 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S27 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 37
S28 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S29 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 36
S30 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 33
S31 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32
S32 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 36
S33 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 33
S34 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31
Jumlah 115 111 104 103 102 106 105 110 106 106 1068
Ratarata
3.59 3.47 3.25 3.22 3.19 3.31 3.28 3.44 3.31 3.31 33.38
164
Lampiran 16: Skor Keterampilan Berpidato Persuasi dari Siklus II
Kode
Aspek yang dinilai Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor
S1
S2 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 48
S3 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 46
S4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 41
S5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 45
S6 4 5 4 3 4 4 4 3 4 4 39
S7 5 4 4 4 4 4 4 3 4 4 40
S8 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S9 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 42
S10 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S11 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 42
S12 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S13 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 40
S14 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S15 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S16 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 48
S17 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S18 4 5 4 4 4 3 4 3 4 4 39
S19 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S20 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S21 4 5 4 3 4 4 5 4 5 5 43
S22 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 41
S23 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S24 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S25 5 4 4 5 4 4 5 5 5 5 46
S26 5 5 4 4 4 4 4 5 4 4 43
S27 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 47
S28 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 42
S29 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 44
S30 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 46
S31 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
S32 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 46
S33 5 5 4 5 4 4 5 4 5 5 46
S34 5 5 4 4 4 4 5 4 5 5 45
Jumlah 155 161 134 135 132 132 155 136 155 156 1451
Rata-rata 4.70 4.88 4.06 4.09 4.00 4.00 4.70 4.12 4.70 4.73 43.97
165
Lampiran 17: Silabus
166
Lampiran 18: Hasil Permainan Twenty Questions
Kelompok: 4
Anggota: Afelia Sindi Utama, Sahrul, Erni Lestyaningsih, Desi
Ambarwati, Novi Wulandari
Kata yang disembunyikan: Rice Cooker
No. Penerka lawan
1. Apakah barang itu sering digunakan
Ibu-ibu rumah tangga?
Ya
2. Apakah barang itu terbuat dari besi,
logam?
Ya
3. Apakah barang itu dinyalakan dengan
gas?
Tidak
4. Apakah barang itu dihubungkan dengan
listrik?
Ya
5. Apakah barang tersebut digunakan
untuk memasak?
Ya
6. Apakah barang tersebut bisa digunakan
untuk memasak air?
Ya
7. Apakah barang tersebut digunakan
untuk menanak nasi?
Ya
8. Apakah barang tersebut adalah rice
cooker?
Ya
Kata yang disembunyikan: Mesin Cuci
No. Penerka Lawan
1. Apakah barang tersebut terbuat dari
atom?
Tidak
2. Apakah barang itu terbuat dari besi? Ya
3. Apakah barang itu berukuran besar? Ya
4. Apakah barang itu dapat digunakan
untuk mencuci
Ya
5. Apakah barang itu bernama mesin cuci Ya
167
Kelompok: dua
Anggota: Wahyu Cahyanti Rizky Mylina, Maliada Yuliana, Enjun Jurnasih,
ErmaYulianti, Airin Sri Handayani
Kata yang disembunyikan :Pisang
No. Penerka Lawan
1. Apakah buah ini memiliki ragam
warna (lebih dari dua warna)?
Ya
2. Apakah buah ini memiliki pohon
yang tinggi?
Ya
3. Apakah buah ini memiliki pohon
yang beranting?
Tidak
4. Apakah buah ini memiliki pohon
yang dapat hidup sepanjang musim?
Tidak
5. Apakah buah ini memiliki pohon
yang kulitnya lunak?
Ya
6. Apakah buah ini ketika dimakan tidak
perlu di kelupas?
Tidak
7. Apakah buah ini mudah dijumpai di
sekeliling kita?
Ya
8. Apakah buah ini berbentuk panjang
(rata-rata seperti boil poin ini)?
Ya
9. Apakah buah ini keras? Tidak
10. Apakah buah ini memiliki kandungan
vitamin A, B1, B2 dan C.?
Ya
11. Apakah buah ini yang dapat
membantu mengurang asam
lambung?
Ya
12. Apakah buah ini merupakan makanan
favorit kera?
Ya
13. Bereti jawaban yang dimaksud adalah
buah pisang
Betul
Kata yang disembunyikan: Jambu Air
No. Penerka Lawan
1. Apakah bentuknya bulat? Tidak
2. Apakah ukurannya mirip seperti ukuran buah
apel kecil?
Ya
3. Apakah berpohon tinggi (yang dapat dipanjat)? Ya
4. Apakah banyak ditanam oleh penduduk? Ya
5. Apakah rasanya manis? Ya
6. Apakah berwarna hijau? Ya
7. Apakah jenis buah ini memiliki lebih dari dua Ya
168
warna?
8. Apakah mengandung banyak air? Ya
9. Apakah buah jambu air? Ya
169
Kelompok: 6
Anggota: Khotim Wiranti, Guntur Pamungkas ,Safitri Nur Handayani, Rousalia
Ponce Gillie, Marlina
Kata yang disembunyikan: Jambu biji
No. Penerka Lawan
1. Apakah buah ini berbentuk panjang? Tidak
2. Apakah buah ini berbentuk bulat? Ya
3. Apakah buah ini keras? Ya
4. Apakah buah ini berwarna hijau dan
kuning?
Ya
5. Apakah buah berpohon keras? Ya
6. Apakah buah ini berpohon tinggi dan
beranting?
Ya
7. Apakah buah ini berbiji merah dan
putih?
Ya
8. Apakah buah ini dapat membantu
melancarkan saluran perncernaan?
Ya
9. Apakah buah ini adalah buah jambu? Tidak
10. Apakah buah ini adalah buah jambu
berbiji?
Ya/betul
Kata yang disembunyikan: Semangka
No. Penerka Lawan
1. Apakah buah ini lonjong? Tidak
2. Apakah buah ini bulat? Ya
3. Apakah buah ini besar? Ya
4. Apakah buah ini berwarna hijau? Ya
5. Apakah buah ini berbiji? Ya
6. Apakah buah ini mengandung Air? Ya
7. Apakah buah ini bernama buah
Semangka?
Ya
170
Kelompok lima
Anggota: Vonda Aprilia Putri, Fiti Susilowati, Dwi Febri H., Wuri Rejeki
Kata yang disembunyikan: Belimbing
No. Penerka Penjawab
1. Apakah kulitnya halus? Ya
2. Apakah buahnya berwarna kuning? Ya
3. Apakah bentuknya seperti bintang? Ya
4. Apakah dalam buahnya mengandung
banyak air?
Ya
5. Apakah buah itu belimbing? Ya
Kata yang disembunyikan: Melon
No. Penerka Lawan
1. Bentuknya sedang? Ya
2. Apakah berbentuk bulat? Ya
3. Apakah buah itu berbiji? Ya
4. Apakah pohonnya penuh duri? Tidak
5. Apakah daunnya panjang dan
berduri?
Tidak
6. Apakah buah itu tumbuh
bergerombol?
Tidak
7. Apakah buah itu melon? Ya
171
kelompok: 1
Anggota: Dewi Krisnawati(ketua kelompok), Mar’atus Sholihah, Ana Perwitasari,
Novia Puji Lestari, Ana Perwitasari, Titik Nur Susanti
Kata yang disembunyikan: Apel
No. Penerka Lawan
1. Apakah buah ini berpohon keras? Ya
2. Apakah buah ini berpohon tinggi? Ya
3. Apakah buah ini berbentuk lonjong? Tidak
4. Apakah buah ini berbentuk bulat? Ya
5. Apakah buah ini berukuran besar? Tidak
6. Apakah buah ini memiliki kandungan
air yang banyak?
Ya
7. Apakah buah ini banyak ditanam di
rumah-rumah penduduk?
Tidak
8. Apakah buah ini bisa langsung
dimakan?
Ya
9. Apakah buah ini berukuran cukup
kecil
Ya
10. Apakah yang kalian maksud adalah
buah kelengkeng?
Tidak
11. Apakah buah ini memiliki kulit tipis? Ya
12. Apakah buah ini memilik kandungan
vitamin A. B, dan C?
YA
13. Berarti jawabannya adalah buah
Apel?
Ya
Kata yang disembunyikan: Buah Pir
Penerka Lawan
1. Bentuknya sedang? Ya
2. Apakah ukurannya besar? Tidak
3. Apakah warnanya hijau? Tidak
4. Apakah memiliki satu warna? Ya
5. Apakah mengandung vitamin C? Ya
172
6. Apakah mengandung Vitamin A? Ya
7. Apakah buah itu jeruk? Tidak
8. Apakah buahnya mengandung banyak
Air?
Ya
9. Apakah buah Jambu Air? Tidak
10. Apakah buahnya berserat? Tidak
11. Apakah buahnya manis? Bias iya, bias tidak
12. Apakah perlu dikelupas ketika hendak
memakannya
Bias Ia, bias tidak
13. Apakah buah itu manggis? Tidak
14. Apakah buah itu serumpun dengan
buah apel
Ya
15. Apaka buah itu keras? Tidak
16. Apakah buah itu sering ditanam di
rumah-rumah penduduk
Tidak
17. Apakah buah itu bulat penuh? Tidak
18. Apakah buah itu berbiji? Ya
19. Apakah buah itu melon? Tidak
20. Apakah buah itu tomat? tidak
173
Kelompok: 3
Anggota: Etik Poniastuti (ketua kelompok), Astri Larasati, Rika Apriyani, Titik
Nur R, Kartika Tanjung
Kata yang disembunyikan: Jeruk.
No. Penerka lawan
1. Apakah buah ini berduri? Tidak
2. Apakah pohon buah ini tinggi? Tidak
3. Apakah buah ini kulitnya bergarisgaris?
Tidak
4. Apakah buah ini berbentuk bundar? Ya
5. Apakah buah ini berasa manis-manis
asam
Ya
6. Apakah buah ini berwarna
hijau/kuning?
Tidak
7. Apakah kulitnya berwarna hijau? Tidak
8. Apakah buah ini bernama jeruk? Ya
Kata yang disembunyikan: Stroberi
No. Penerka Lawan
1. Apakah buah nin warna ini merah dan
hijau?
tidak
2. Apakah buah ini kecil? Tidak
3. Apkah berbentuk seperti hati? Iya
4. Apakah daunnya bergerigi? Ya
5. Apakah buah ini mempunyai tekstur
yang berbintik?
Ya
6. Apakah buah ini bernama straberi? Ya
174
kelompok: 4
Anggota: Fetri Nurmala Yulaik, Sahrul, Gita Anggriani, Erni, Lestyaningsih, Desi
Ambarwati, Novi Wulandari
Kata yang disembunyikan: tomat.
No. Penerka lawan
1. Apakah buah ini berukuran besar? Tidak
2. Apakah buah ini berukuran cukup
besar?
Ya
3. Apakah buah ini berkulit tipis? Ya
4. Apakah buah ini banyak dijumpai di
lingkungan rumah?
Tidak
5. Apakah buah ini sering dijumpai di
daerah bermusim tropis?
Ya
6. Apakah buah ini memiliki kandungan
vitamin A, dan B1?
YA
7. Apakah buah ini sering ditanam oleh
Pak Tani?
ya
8. Apakah buah ini biasa dibuat sambal? Ya
9. Apakah buah yang dimaksud adalah
buah tomat?
ya
Kata yang disembunyikan: Melon
No. Penerka Lawan
1. Bentuknya kulitnya tipis? Tidak
2. Apakah kulitnya tebal? Ya
3. Apakah berbentuk bulat? Ya
4. Apakah buah ini dapat membantu
menurunkan ko
lesterol?
Ya
5. Apakah warnanya hijau? Ya
6. Apakah ukurannya besar? Ya
7. Apakah buah itu melon? Ya
175
Lampiran 19:Foto Dokumentasi
Lokasi penelitian SMK Negeri I Depok, Sleman, Yogyakarta
Subjek Penelitian
176
Guru menjelaskan materi pidato persuasi (pratindakan)
Siswa berpidato persuasi (pratindakan)
177
Siswa mengisi angket pratindakan
Pembelajaran menerapkan metode Twenty Questions
178
Siswa berpidato persuasi siklus 1
Guru menjelaskan metode Twenty Questions
179
Siswa berpidato persuasi (siklus II)
Siswa berpidato persuasi (siklus II)
180
Peneliti melakukan wawancara dengan siswa
Peneliti melakukan refleksi dengan guru bahasa Indonesia
181
Siswa mengisi angket pascatindakan
Siswa mengisi angket pascatindakan



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar